KONSEP STROKE

Pengertian

Stroke adalah kehilangan fungsi otak diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer, 2001). Stroke merupakan sindrom klinis yang timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih, bisa juga langsung menimbulkan kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik (Mansjoer, 2000). Stroke digunakan untuk menamakan sindrom hemiparesis atau hemiparalis akibat lesi vaskuler yang bisa bangkit dalam beberapa detik sampai hari, tergantung pada jenis penyakit yang menjadi penyertanya (Sidharta, 1998).

Jenis Stroke

Menurut Iskandar Junaidi (2007) stroke dapat diklasifikasikan menurut proses, dan gejala klinik, yaitu :

a.     Stroke Hemorragik

Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan sub arahnoid yang disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktivitas namun dapat juga pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Pada stroke hemorragik hampir 70% terjadi pada penderita hipertensi.

b.     Stroke Non Hemorragik

Dapat berupa iskemia, emboli, spasme atau trombus pembuluh darah otak umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama, baru bangun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema karena hipoksia jaringan otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke non hemorragik.

Selain klasifikasi di atas khusus untuk stroke non hemoragik dapat dibedakan menurut perjalanan penyakitnya yaitu :

1)     TIA’S (Trans Iskemia Attack)

Gangguan neurologis sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja. Gejala akan hilang dengan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

2)     RIND (Riversible Iskemie Neorologis Defisit)

Gangguan neurologis setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu satu minggu dan maksimal dalam waktu 3 minggu.

3)     Stroke In Volution

Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Proses seperti ini bisa berjalan dalam beberapa hari.

4)     Stroke komplit

Gangguan neurologis yang timbul telah menetap atau permanen.

Faktor Resiko Stroke

Menurut Leila Henderson (2002) ada beberapa faktor resiko stroke yang sering diidentifikasi yaitu :

a.     Usia

Semakin bertambah usia seseorang, semakin tinggi resikonya terkena stroke. Setelah berusia 55 tahun, resikonya berlipat  ganda setiap kurun waktu sepuluh tahun. Dua pertiga dari semua serangan stroke terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Tetapi, itu tidak berarti bahwa stroke hanya terjadi pada orang lanjut usia karena stroke dapat menyerang semua kelompok umur. Stroke lebih cenderung diderita oleh orang-orang lanjut usia, namun tak jarang juga menyerang remaja dan orang-orang diusia produktif. Bahkan menyerang bayi dan anak-anak. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor genetis.

b.     Jenis Kelamin

Stroke lebih cenderung menyerang kaum pria dibandingkan dengan kaum wanita dengan perbandingan 2 : 1. walaupun para pria lebih rawan daripada wanita pada usia muda, tetapi para wanita akan segera menyusul setelah usia mereka mencapai menopause. Hasil penelitian menyatakan bahwa hormon-hormon mungkin memainkan peranan dalam hal ini yang melindungi para wanita sampai mereka melewati masa-masa melahirkan anak.

 c.     Riwayat Kelurga

Nampaknya, stroke terkait dengan keturunan. Faktor genetik yang sangat berperan antara lain adalah tekanan darah tinggi, penyakit Jantung, Diabetes dan cacat pada bentuk pembuluh darah. Gaya hidup dan pola suatu keluarga juga dapat mendukung risiko stroke. Cacat pada bentuk pembuluh darah (cadasil) mungkin merupakan faktor genetik yang paling berpengaruh dibandingkan faktor resiko yang lain.

d.     Hipertensi

Hipertensi (tekanan darah tinggi) merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan pengerasan dan penyumbatan arteri. Penderita Hipertensi memiliki faktor resiko stroke empat hingga enam kali lipat dibandingkan orang yang tanpa hipertensi dan sekitar 40 hingga 90 persen pasien stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena stroke. Secara medis, tekanan darah diatas 140-90 tergolong dalam penyakit hipertensi. Oleh karena dampak hipertensi pada keseluruhan risiko stroke menurun seiring dengan pertambahan umur, pada orang lanjut usia, faktor-faktor lain diluar Hipertensi berperan lebih besar terhadap resiko stroke.

e.    Kelainan Jantung/ Penyakit Jantung

Setelah hipertensi, fakor resiko berikutnya adalah penyakit jantung, terutama penyakit yang disebut atrial fibrilation, yakni penyakit jantung dengan denyut jantung yang tidak teratur di bilik kiri atas. Denyut jantung di atrium kiri ini mencapai empat kali lebih cepat dibandingkan di bagian-bagian lain jantung. Ini menyebabkan aliran darah menjadi tidak teratur dan secara insidentil terjadi pembekuan gumpalan darah. Gumpalan-gumpalan inilah yang kemudian dapat mencapai otak dan menyebabkan stroke. Pada orang-orang berusia di atas 80 tahun, atrial fibrilation merupakan penyebab utama kematian pada satu diantara empat kasus stroke.

f.       Diabetes Melitus

Penderita Diabetes Melitus berpotensi mengalami stroke karena dua alasan yang terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral, adanya kelainan micro baskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. Pada riwayat Diabetes Melitus berpengaruh karena Diabetes Melitus merusak semua sistem yang ada di dalam organ tubuh manusia, dari Diabetes Melitus terdapat kandungan gula darah yang normal maka menimbulkan peningkatan tekanan darah terjadi penekanan pada pembuluh darah otak sehingga terjadilah pecah pembuluh darah otak.

g.    Kadar Kolesterol Darah

Penelitian menunjukkan bahwa makanan kaya lemak jenuh dan kolesterol seperti daging, telur, dan produk susu dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh dan berpengaruh pada resiko aterosklerosis dan penebalan pembuluh. Kadar kolesterol di bawah 200 mg/dl dianggap aman, sedangkan diatas 240 mg/dl sudah berbahaya dan menempatkan seseorang pada risiko terkena penyakit jantung dan Stroke.

h.     Merokok

Merokok merupakan faktor risiko stroke yang sebenarnya paling mudah diubah. Perokok berat menghadapi risiko lebih besar dibandingkan perokok ringan. Merokok hampir melipatgandakan risiko stroke non hemorragik terlepas dari faktor risiko yang lain, dan dapat juga meningkatkan risiko subaraknoid hemoragik hingga 3,5 persen. Merokok adalah penyebab nyata kejadian stroke, yang lebih banyak terjadi pada usia dewasa muda ketimbang usia tengah baya atau lebih tua. Sesungguhnya, risiko stroke menurun dengan seketika setelah berhenti merokok dan terlihat jelas dalam periode 2-4 tahun setelah berhenti merokok. Perlu diketahui bahwa merokok memicu produksi fibrinogen (faktor penggumpal darah) lebih banyak sehingga merangsang timbulnya aterosklerosis.

i.      Alkohol

Secara umum, peningkatan konsumsi alkohol meningkatkan tekanan darah sehingga memperbesar risiko stroke, baik yang stroke non hemorragik maupun stroke hemoragik. Tetapi, konsumsi alkohol yang tidak berlebihan dapat mengurangi daya penggumpalan platetet dalam darah. Dengan demikian, konsumsi alkohol yang cukup justru dianggap dapat melindungi tubuh dari bahaya stroke non hemorragik.

j.      Obat-obatan Terlarang

Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan senyawa olahannya dapat menyebabkan stroke, di samping memicu faktor risiko yang lain seperti hipertensi, Penyakit Jantung, dan Penyakit Pembuluh Darah. Kokain juga menyebabkan gangguan denyut jantung (arrythmias) atau denyut jantung jadi lebih cepat. Masing-masing menyebabkan pembentukan gumpalan darah. Marijuana mengurangi tekanan darah dan bila berinteraksi dengan faktor risiko lain, seperti hipertensi dan merokok, akan menyebabkan tekanan darah naik turun dengan cepat. Keadaan ini pun punya potensi merusak pembuluh darah.

k.     Obesitas

Pada obesitas kadar kolesterol darah meningkat dan juga dapat terjadi hipertensi yang mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. Keadaan inilah yang berkontribusi terhadap stroke.

l.      Kurang Aktivitas Fisik

Kurang aktivitas fisik berarti kelenturan fisik berkurang termasuk juga terjadi pelemahan terhadap kelenturan pembuluh darah khususnya pembuluh darah otak.

Etiologi

Menurut Bludruk (1998) penyebab umum terjadinya stroke adalah kelainan pembuluh darah serebral meliputi :

  1. Sumbatan oleh trombus atau embolus yang menghalangi aliran darah otak dan mengakibatkan infark atau perdarahan otak.
  2. Pendarahan infark atau perdarahan otak
  3. Penyakit dasar vaskuler, misalnya arteriosklerosis, arteritis trauma, aneuris.

Patofisiologi

Otak sangat tergantung pada oksigen dan tidak dapat meyimpan yang disuplai dalam keadaan fisiologis jumlah darah yang mengalir ke otak adalah 50-60 ml/100 gr otak per menit. Bila aliran darah berkurang 25-30 ml/ 100 gram otak per menit, maka akan terjadi iskemia otak yang membahayakan bagi fungsi neuro tanpa menyebabkan perubahan yang menetap. Jika aliran darah hanya 16 ml/ 100 gr orak per menit, maka akan terjadi infark otak dengan perubahan fungsi dan struktur otak yang bersifat irreversible (Long, 1998).

Jenis kerusakan lokal yang permanen tergantung pada daerah yang dipengaruhi oleh aliran darah yang mengalirkan, dimana aliran yang biasanya terkena adalah bagian pertengahan arteri otak dan dapat juga pada bagian arteri karotis. Keadaan yang permanen mungkin disebabkan terputusnya perdarahan darah otak (Siaharta, 1994) (Baughman, 2000).

 Tanda dan Gejala

Menurut Brunner dan Suddart (2002) gejala klinis yang paling umum :

a. Kontra lateral paralysis (kelumpuhan/ kehilangan daya untuk bergerak) atau parisis (kelumpuhan ringan)
b. Kontra lewat hilangnya sensorik I
c.  Hilangnya sensorik dan motorik, paling nyata pada muka, leher dan extremitas atas.
d.  Dispasia dan afasia: terjadi jika hemisfer dominan terpenuhi
e.  Masalah-masalah persepsi, termasuk perubahan tingkah laku
f.   Kontra lateral hemiamovia (hilangnya penglihatan berupa gangguan lapangan pandang bersifat fasial/komplit)
g. Gangguan motorik: gerakan yang tidak terkoordinasi
h. Gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran atau hilangnya kesadaran (pingsan, koma)
i.  Sakit kepala, pusing tujuh keliling, vergito, gangguan keseimbangan mulai pada hari pasien mengalami stroke, proses ini ditekankan selama fase konvalesan dan memerlukan upaya tim terkoordinasi. Akan sangat membantu tim mengetahui apa yang pasien sukai sebelum penyakit berat ini: kemampuan, status mental dan emosional, karakteristik perilaku, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Intervensi Keperawatan

Stroke merupakan salah satu penyakit degeneratif  yaitu proses penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan yang merupakan  satu penyakit pembuluh darah. Stroke timbul akibat tersumbatnya peredaran darah pada otak dengan gejala spontan. Stroke merupakan ancaman sumber cacat setelah usia 45 tahun. Sebagai akibatnya  banyak penderita yang menjadi tidak mampu lagi mandiri.

a.    Memperbaiki Mobilitas dan Mencegah Deformitas

Pasien hemilegik mengalami paralisis unilateral (paralisis pada satu sisi). Ketika kontrol otot volunter hilang, otot fleksor yang kuat melakukan kontrol terhadap ekstensor. Lengan cederung adduksi (Otot adduktor lebih kuar daripada  abduktor) dan rotasi internal. Siku dan pergelangan tangan cenderung fleksi, kaki yang sakit cenderung rotasi eksternal pada sendi panggul dan fleksi pada lutut, dan kaki pada sendi pergelangan kaki supinasi dan cenderung ke arah fleksi plantar.

b.     Pemberian Posisi

Pemberian posisi yang benar penting untuk mencegah kontraktur, tindakan dilakukan untuk meredakan tekanan, membantu mempertahankan kesejajaran tubuh yang baik dan mencegah neuropati.

c.     Posisi Tidur yang tepat

Papan tempat tidur di bawah matras memberi sokongan kuat untuk tubuh. Pasien harus tetap datar di tempat tidur kecuali ketika melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Mempertahankan posisi tegak di tempat tidur selama periode lama memperberat deformitas fleksi panggul dan pembentukan dekubitus di sakrum.

d.     Papan kaki dapat digunakan sesuai interval selama periode flaksid setelah stroke untuk mempertahankan kald

pada sudut yang benar terhadap tungkai ketiak pasien pada posisi telentang (dorsal). Hal ini mencegah footdrop dan korda tumit menjadi pendek akibat kontraktur otot gasrtoknemius. Sepatu karet tinggi juga dapat digunakan untuk tujuan ini, tetapi harus diperhatikan untuk menghindari tekanan pada tumit dan pergelangan kaki.

e.     Mencegah Adduksi Bahu

Untuk mencegah adduksi bahu yang sakit, satu bantal ditempatkan di aksila ketika terdapat keterbatasan rotasi eksternal hal ini mempertahankan lengan menjauh dari dada. Satu bantal ditempatkan  di bawah lengan, dan lengan ini ditempatkan dalam posisi netral (agak fleksi), dengan sendi distal diposisikan lebih tinggi daripada sendi proksimal. Sehingga, siku lebih tinggi daripada bahu dan pergelangan tangan lebih tinggi dari siku. Hal ini membantu mencegah edema dan fibrosis yang akan mencegah rentang gerak normal bila pasien telah dapat melakukan kontrol lengan.

f.       Mencegah Rotasi Panggul

Roll trokhanter yang direntangkan dari krista ilium sampai paha tangah digunakan untuk mencegah rotasi eksternal pada sendi panggul. Kantung pasir dipasang pada sisi kaki tidak akan mencegah rotasi eksternal, karena gerakan ini berasal dari pangkal dan kantung sendi panggul. Lutut tidak mengalami fungsi rotasi ini. Roll trokhanter mayor dan mencegah femur berguling.

g.     Posisi Tangan dan Jari

Jari-jari diposisikan sehingga mengalami sedikit fleksi. Tangan ditempatkan agak supinasi (telapak tangan menghadap ke atas), yang adalah posisi paling fungsional.

h.     Mengubah Posisi

Posisi pasien harus diubah setiap 2 jam. Untuk menempatkan pasien pada posisi lateral, satu bantal ditempatkan di antara kaki sebelum pasien dibalik. Paha atas tidak boleh difleksikan secara tiba-tiba. Pasien dapat diubah posisinya dari satu sisi ke sisi lain, tetapi jumlah waktu yang digunakan pada sisi yang sakit harus dibatasi karena adanya kerusakan sensasi. Berbaring pada sisi yang sakit, dianggap meningkatkan kesadaran pasien terhadap sisi tersebut dan memungkinkan penggunaan tangan yang tidak sakit.

Bila mungkin, pasien ditempatkan pada posisi telungkup selama 15 sampai 30 menit beberapa kali sehari. Satu bantal atau penyokong ditempatkan di bawah pelvis, yang direntangkan dari setinggi umbilikus sampai sepertiga atas paha. Hal ini membantu meningkatkan hiperekstensi sendi panggul, yang esensial untuk berjalan normal dan membantu mencegah kontraktur fleksi lutut dan panggul. Posisi telungkup juga membantu mengalirkan sekresi bronkial dan mencegah deformitas kontraktur bahu dan lutut. Selama pemberian posisi ini penting untuk mengurangi tekanan dan mengubah posisi dengan sering untuk mencegah pembentukan dekubitus.

i.      Latihan

Ekstremitas yang sakit dilatih secara pasif  dan berikan rentang gerak penuh empat atau lima kali sehari, untuk mempertahankan mobilitas sendi, mengembalikan kontrol motorik, mencegah terjadinya kontraktur pada ekstremitas yang mengalami paralisis, mencegah bertambah buruknya sistem neuromuskular dan meningkatkan sirkulasi. Pasien diobservasi untuk tanda dan gejala yang dapat mengindikasikan emboli paru atau kelebihan beban kerja jantung selama latihan, hal ini meliputi napas pendek, nyeri dada, sianosis dan peningkatan frekuensi nadi selama periode latihan.

j.     Menyiapkan Ambulasi

Pasien sesegera mungkin dibantu turun dari tempat tidur. Biasanya bila hemiplegia akibat trombus, aktivitas program rehabilitasi dimulai segera saat pasien kembali sadar, pasien yang mengalami hemoragi serebral tidak dapat berpartisipasi aktif sampai seluruh hemoragi hilang. Periode latihan ambulasi harus singkat dan sering. Saat pasien memperoleh kekuatan dan kepercayaan diri, tongkat yang dapat diatur dapat digunakan untuk penyokong. Umumnya tiga atau empat kali ganti tongkat akan memberikan dukungan yang stabil, pada fase-fase awal program latihan.

k.     Mencegah Nyeri Bahu

Di atas 70% pasien stroke mengalami nyeri berat pada bahu, yang menghalangi mereka mempelajari keterampilan baru, karena fungsi bahu berarti dalam memberikan keseimbangan dan melakukan berpindah tempat serta aktivitas perawatan diri. Untuk mencegah nyeri bahu, perawat tidak boleh mengangkat bahu pasien.

l.     Mencapai Kemampuan Perawatan Diri

Segera setelah pasien dapat duduk, lakukan aktivitas kebersihan diri. Pasien dibantu untuk merencanakan tujuan yang realitas dan jika mungkin kegiatan baru ditambah setiap hari. Aktivitas sehari-hari yang dapat dilakukan pasien sebagai berikut :

  • Menyisir rambut, menggosok gigi, mencukur dengan alat cukur listrik, mandi dan makan dengan satu tangan dan perawatan diri yang sesuai. Walaupun pasien merasakan hal yang aneh pada saat pertama melakukan aktivitas, berbagai keterampilan motorik dapat dipelajari dengan pengulangan dan sisi yang tidak sakit akan menjadi lebih kuat karena sering digunkan. Perawat harus meyakinkan bahwa pasien tidak mengabaikan sisi yang sakit. Alat bantu akan membantu pasien melakukan aktivitas pada bagian defisit pasien. Handuk kecil lebih mudah dikontrol saat mengeringkan tubuh setelah mandi, dan tisu kertas dalam kotak lebih mudah digunakan daripada tisu gulungan.
  • Mendapatkan kontrol kandung kemih. Kebanyakan pasien stroke mengalami masalah kandung kemih pada tahap awal, tetapi kontrol kandung kemih biasanya cepat pulih. Pola berkemih dianalisis dan penggunaan urinal dan bedpan diberikan pada pola ini atau terjadwal. Posisi tubuh tegak lurus dan berdiri membantu pasien wanita selama rehabilitasi.
  • Memperbaiki proses berpikir, setelah stroke pasien mengalami masalah kognitif, perilaku dan penurunan emosi akibat kerusakan otak. Pada beberapa kejadian, kadang-kadang derajat fungsi yang penting dapat kembali pulih karena tidak semua daerah otak rusak bersama-sama, beberapa yang tersisa lebih utuh dan berfungsi dari pada yang lain. Peran perawat bersifat suportif. Perawat memeriksa hasil pemeriksaan neurop sikologik, catatan, dan bentuk observasi pasien kemudian memberikan umpan balik positif.

m.    Komunikasi

Afasia merusak kemampuan pasien untuk berkomunikasi, baik dalam memahami apa yang dikatakan dan dalam kemampuan mengekspresikan diri sendiri. Ahli terapi wicara-bahasa mengkaji komunikasi, kebutuhan pasien stroke, gambaran penurunan dengan tepat. Banyak terdapat strategi intervensi bahasa untuk orang afasia dewasa, dn program ini diterima secara individual. Sasarannya ditetapkan bersama saat pasien diperkirakan mengambil bagian secara aktif.

Intervensi keperawatan mencakup melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk membuat lingkungan konduktif dalam berkomunikasi. Hal ini meliputi sensitif terhadap reaksi dan kebutuhan pasien dan berespons terhadap mereka dalam cara yang tepat, selalu memperlakukan pasien sebagai orang dewasa. Perawat memberikan dukungan moral yang kuat dan memahami pasien yang cemas. Jadwal yang konsisten, rutin, dan berulang-ulang dapat menolong pasien berfungsi meskipun dalam keadaan defisit bermakna. Catatan tertulis mengenai jadwal sehari-hari, berkas informasi pribadi (tanggal lahir, alamat, nama kerabat), daftar periksa, dan daftar audiotape menolong ingatan dan konsentrasi pasien. Benda-benda yang dikenal, yang ada di sekitarnya dan foto akan menetralkan hati.

n.      Mempertahankan Integritas Kulit

Pasien stroke mempunyai risiko terhadap kerusakan kulit dan jaringan karena perubahan sensari dan ketidakmampuan berespons terhadap tekanan dan ketidakmampuan bergerak. Dengan demikian pencegahan kerusakan jaringan dan kulit membutuhkan pengkajian yang sering pada kulit, dengan penekanan khusus pada area penonjolan dan bagian tubuh yang dependen. Selama fase akut tempat tidur khusus (misalnya: tempat tidur beraliran udara rendah) dapat digunakan sampai pasien mampu bergerak mandiri atau dibantu dalam bergerak.

Jadwal mengubah posisi dan membalik tubuh secara teratur harus diikuti dengan meminimalkan tekanan dan mencegah kerusakan kulit. Alat penghilang tekanan dapat dipakai tetapi mungkin tidak digunakan pada aktivitas membalik tubuh dan pengubahan posisi regtilar. Jadwal membalik tubuh (sedikitnya setiap 2 jam) harus ditaati meskipun alat pereda tekanan digunakan. Untuk mencegah kerusakan kulit dan jaringan. Ketika pasien diposisikan atau dibalik, harus hati-hati untuk meminimalkan gesekan dan friksi, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan mencetuskan kerusakan kulit pasien.

Kulit pasien harus dijaga agar tetap bersih dan kering, masase dengan tekanan lembut pada kulit yang sebat (tidak ada kemerahan) dan mempertahankan nutrisi yang adekuat adalah faktor lain yang dapat menolong integritas jaringan dan kulit tetap normal.

8.      Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan Dirumah

a.       Perencanaan Perawatan

Proses penyembuhan dan rehabilitasi pada stroke dapat terjadi dalam waktu yang lama, yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan pasien dan keluarga. Pasien yang membutuhkan pelayanan beberapa tenaga pelayanan kesehatan psofesional, bergantung pada penurunan neurologis yang spesifik yang disebabkan oleh stroke. Perawatan pasien di rumah sering dihubungkan dengan perawat.

b.      Aspek Emosional

Keluarga diberitahu bahwa pasien akan sering mudah lelah, akan menjadi peka rangsang dan kecewa dengan kejadian kecil, dan menunjukkan kurang minat pada sesuatu. Karena sering mengalami stroke dalam tahap kehidupan lanjut, dan adanya dimensia maka kemungkinan akan terjadi kemunduran intelektual.

c.      Memantau dan Penatalaksanaan Komplikasi Potensial

Tanda-tanda vital pasien dan status oksigenasi merupakan dikaji untuk mempertahankan aliran darah yang adekuat ke otak dan oksigenasi jaringan. Tindakan untuk meningkatkan oksigenasi, juga penambahan oksigen, pengisapan dan fisioterapi dada digunakan untuk meningkatkan pertukaran gas respiratori. Curah jantung yang adekuat dipertatankan dengan obat-obat yang menguatkan kontraksi jantung dan menurunkan tekanan darah (jika pasien hipertensi) dan pemberian cairan yang adekuat.

Sasaran utama untuk pasien dan keluarga meliputi perbaikan mobilitas, menghindari nyeri bahu, pencapaian perawatan diri, mendapatkan kontrol kandung kemih. Perbaikan proses pikir, pencapaian beberapa bentuk komunikasi, pemeliharaan integritas kulit, perbaikan fungsi keluarga, dan tidak adanya komplikasi.

https://lubmazresearch.wordpress.com

Cell Phone 081273221213

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.