INOVASI PENGELOLAAN KURIKULUM SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR (STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF DI SD NEGERI 17, SD NEGERI 49 DAN SD NEGERI 58 KOTA LUBUK LINGGAU)

Permasalahan penelitian ini adalah inovasi pengelolaan kurikulum sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah dasar di Kota Lubuk Linggau. Diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun ajaran 2007/2008 di seluruh sekolah di Kota Lubuk Linggau merupakan upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Rumusan permasalahan secara umum penelitian ini adalah: Bagaimana inovasi pengelolaan kurikulum sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuklinggau?. Secara khusus rumusan permasalahan penelitian yaitu: (1) apa makna inovasi pengelolaan kurikulum sekolah bagi kepala sekolah dan guru di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau? (2). apa saja wujud inovasi pengelolaan kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau? (3). bagaimana perencanaan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau? (4). bagaimana inovasi pengelolaan kurikulum sekolah yang diimplementasikankan di
6
Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau? (5). apa saja hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk linggau?
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuklinggau. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1). Mendeskripsikan makna inovasi pengelolaan kurikulum sekolah bagi kepala sekolah dan guru di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau, (2). Mendeskripsikan wujud inovasi pengelolaan kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau, (3). Mendeskripsikan perencanaan inovasi kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau, (4). Mendeskripsikan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah yang diimplementasikan di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk Linggau, (5). Mendeskripsikan hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah di Sekolah Dasar Negeri Kota Lubuk linggau
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek kepala sekolah dan guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Lubuklinggau. Sekolah Dasar yang diteliti ditentukan pada tiga sekolah, yaitu SD Negeri 17, SD Negeri 49 dan SD Negeri 58 Kota Lubuk Linggau. Teknik pengambilan data dilakukan melalui observasi, angket, wawancara dan dokumentasi. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan sejak awal hingga selesai penulisan laporan penelitian, dengan melalui tahap mereduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
7
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah dan guru-guru di SD Negeri 17 Lubuk Linggau, SD Negeri 49 Lubuk Linggau dan SD Negeri 58 Lubuk Linggau telah berupaya untuk melakukan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah sesuai kemampuan sekolah. Terdapat beberapa indikasi sekolah dasar melakukan inovasi manajemen kurikulum sekolah sebagaimana di bawah ini:
Pertama, sebagian besar kepala sekolah dan guru telah memahami makna inovasi pengelolaan kurikulum. Pemahaman terhadap makna inovasi pengelolaan kurikulum ditunjukkan dengan hal-hal sebagai berikut: (1). memahami makna inovasi pengelolaan kurikulum sekolah sebagai perubahan terhadap pengelolaan kurikulum agar lebih sesuai dengan kondisi daerah dan kondisi sekolah, (2). Memahami tujuan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah supaya meningkatkan kompetensi siswa sebagai hasil belajar sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional, (3) memahami dampak positip inovasi pengelolaan kurikulum sekolah adalah guru lebih kreatif dan siswa lebih antusias dalam pembelajaran.
Kedua, sekolah telah mewujudkan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah. Wujud inovasi pengelolaan kurikulum sekolah tersebut ditunjukkan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) merumuskan visi dan misi inovasi pengelolaan kurikulum sekolah sesuai tujuan, kondisi dan ciri khas sekolah, (2), membuat perencanaan inovasi kurikulum sekolah dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (3). mengimplementasikannya dalam pengelolaan kurikulum sekolah. Dalam pelaksanaannya proses perumusan visi misi dan perencanaan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman dari BSNP.
8
Ketiga, sekolah telah menyusun perencanaan inovasi pengelolan kurikulum sekolah dalam bentuk penyusunan KTSP. Penyusunan KTSP tersebut dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) membuat perencanaan tujuan sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan dasar, meskipun masih ada sekolah yang belum merumuskan tujuan sekolah, (5). membuat perencanaan struktur dan muatan kurikulum sesuai dengan pedoman dari BSNP, (6). menentukan keluasan dan kedalaman materi masing-masing pelajaran dalam perencanaan KTSP, meskipun masih ada kecenderungan untuk menyesuaikan keluasan dan kedalaman materi pelajaran tersebut dengan rumusan yang pernah dilakukan didaerah lain, (7). merencanakan muatan lokal dalam KTSP, meskipun belum sepenuhnya sesuai dengan potensi dan keunggulan daerah, (8) merencanakan beban belajar dalam KTSP, (9). merencanakan kriteria kenaikan kelas dan kriteria kelulusan sesuai pedoman penyusunan KTSP dari BSNP, meskipun masih ada kecenderungan untuk menyesuaikan dengan kriteria yang telah ditetapkan di daerah lain, (10). Perencanaan kegiatan inovatif seperti kegiatan belajar tambahan dan pendidikan kecakapan hidup belum sesuai dengan kondisi sekolah.
Keempat, implementasi inovasi pengelolan kurikulum sekolah yang sesuai dengan perencanaan, meskipun belum sepenuhnya sesuai.karena perencanaan yang disusun belum sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Sekolah juga berupaya melaksanakan inovasi pengelolan kurikulum sekolah sesuai pedoman dari BSNP dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: (1). Menegakkan lima pilar belajar, (2). Melakukan pelayanan remedial dan pelayanan pengayaan, (3). Membina
9
hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat. (4). Mengupayakan agar guru mengembangkan pendekatan multistrategi, memanfaatkan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Meskipun sekolah belum melaksanakan semua upaya ini secara maksimal.
Kelima, hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan inovasi pengelolaan kurikulum sekolah (KTSP) meliputi hal-hal sebagi berikut: (1). keterbatasan sumber daya manusia, yaitu kurangnya guru profesional bidang mata pelajaran tertentu dan tenaga kependidikan seperti laboran, pustakawan, keuangan dan administrasi. (2). keterbatasan fasilitas fisik dan fasilitas pembelajaran seperti ruang kelas, ruang laboratorium sains, bahasa dan komputer, ruang praktek, ruang ibadah, lapangan olah raga, fasilitas seni, kaset / CD pembelajaran. perlengkapan praktikum dan observasi, (3). kondisi sosial budaya yang kurang mendukung, (4). hambatan dari stake holder sekolah, khususnya dari pihak Dinas Diknas Kota Lubuk Linggau berupa terbatasnya sosialisasi perencanaan dan pelaksanaan KTSP.
Implikasi hasil penelitian ini adalah, Pertama, Perumusan visi dan perencanaan inovasi kurikulum sekolah oleh kepala sekolah dan guru-guru belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi daerah maupun kondisi sekolah. Kedua, belum berfungsinya jaringan kurikulum Kota Lubuk Linggau dalam melaksanakan sosialisasi perencanaan dan pelaksanaan KTSP. Ketiga, hambatan dalam pelaksanaan inovasi pengelolaan kurikulum bersumber pada perencanaan kurikulum sekolah yang belum benar-benar sesuai dengan kondisi daerah dan kondisi sekolah.
10
Dari hasil dan implikasi penelitian disarankan: Pertama, kepala sekolah bersama guru-guru perlu untuk melakukan evaluasi dan revisi terhadap visi misi dan perencanaan KTSP agar benar-benar sesuai dengan kondisi daerah dan kondisi sekolah dengan didampingi oleh tim khusus dari Dinas Diknas setempat. Kedua, jaringan kurikulum Kota Lubuk Linggau perlu berperan aktif dalam membina masing masing sekolah agar bisa merumuskan perencanaan dan melaksanakan KTSP sesuai petunjuk dari BSNP. Ketiga, pihak dinas Diknas Kota Lubuk Linggau perlu melakukan perluasan terhadap kesempatan memperoleh pelatihan bagi kepala sekolah dan guru-guru tentang KTSP. Keempat, komite sekolah hendaknya menjadi fasilitator antara sekolah dan masyarakat untuk melakukan sosialisasi terhadap langkah-langkah inovasi pengelolaan kurikulum sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.