Seks Bebas

Seks bebas adalah melakukan hubungan intim tanpa ikatan. Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas. Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Belum lama ini ada berita seputar tentang keinginan sekelompok masyarakat agar aborsi dilegalkan, dengan dalih menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia. Ini terjadi karena tiap tahunnya peningkatan kasus aborsi di Indonesia kian meningkat, terbukti dengan pemberitaan di media massa atau TV setiap tayangan pasti ada terungkap kasus aborsi. Jika hal ini di legalkan sebagaimana yang terjadi di negara-negara Barat akan berakibat rusaknya tatanan agama, budaya dan adat bangsa. Berarti telah hilang nilai-nilai moral serta norma yang telah lama mendarah daging dalam masyarakat. Jika hal ini dilegal kan akan mendorong terhadap pergaulan bebas yang lebih jauh dalam masyarakat.

Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir.

Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami penderitaan kehilangan harga diri (82%), berteriak-teriak histeris (51%), mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), ingin bunuh diri (28%), terjerat obat-obat terlarang (41%), dan tidak bisa menikmati hubungan seksual (59%).

Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ” Psychological Reactions Reported After Abortion ” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review.

Sehungan dengan hal tersebut di atas, sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dan memberikan kepada remaja tersebut penekanan yang cukup berarti dengan cara meyampaikan; jika mau berhubungan seksual, mereka harus siap menanggung segala risikonya yakni hamil dan penyakit kelamin (Santi, 2009).

Pada masa sekolah, perilaku seks terjadi karena ketidakhati-hatian dan ketidaktahuan. Mungkin berbeda dengan orang tua pada zaman dulu. Kalau dulu pacaran surat-suratan cukup, kirim-kiriman lagu lewat radio, gandengan tangan sepanjang jalan yang sunyi sudah cukup, tetapi sekarang tidak. Hampir 80% remaja melakukan hubungan seks dengan pacarnya, dalam jangka waktu pacaran kurang dari 1 tahun(Dwijanto dan Darwin, 1999).

Sebagian remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akan meneruskan kehamilan. Alasannya karena takut mengalami pengguguran dan tidak punya pilihan lain. Jika pacarnya bertanggung jawab mereka akan menikah. Banyak tantangan yang akan dihadapi karena dalam usia begitu muda mereka harus memikul tanggung jawab sebagai orang tua. Pendidikan belum selesai atau malah tidak bisa diselesaikan. Mereka harus bekerja (terutama tidak ada dukungan dari keluarga) dan mereka harus berperan sebagai orang tua untuk anaknya. Padahal, kepribadian mereka sendiri belum cukup matang (Zacky, 2002).

Responden surveri remaja di empat propinsi yang dilakukan pada tahun 1998. Memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah. Ada 2,2 % responden setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah. Angka ini menurun menjadi 1 % bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah. Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka responden yang setuju menjadi 8,6 %. Jika mereka berencana untuk menikah, responden yang setuju kembali bertambah menjadi 12,5 %( LDFEUI &NFPCB,1999 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.