Obat Antimalaria di Indonesia

Klorokuin

Klorokuin merupakan obat antimalaria kelompok 4-aminokuinolin yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan gametositosida P. vivax dan P. malariae. Obat ini merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan dan pencegahan semua jenis malaria yang dipakai dalam program pemberantasan malaria. Klorokuin dikemas dalam bentuk tablet dan suspensi untuk pemberian peroral, dan larutan untuk pemberian parenteral. Waktu paruh klorokuin adalah 1–2 bulan tetapi waktu paruh yang sebenarnya untuk pengobatan adalah 6–10 hari.

Dosis total klorokuin untuk malaria tanpa komplikasi dan sensitif  klorokuin adalah 25 mg basa/kg BB, diberikan dalam 3 hari yaitu hari 1 dan 2 masing-masing 10 mg basa/kg BB dan pada hari 3 adalah 5 mg basa/kg BB dengan dosis tunggal. Bila tidak ada kina dihidroklorida, penderita malaria dengan komplikasi atau malaria berat yang sensitif klorokuin dapat diberikan klorokuin 5 mg basa/kg BB dalam larutan infus 10 ml/kg BB NaCl 0,9% atau dextrosa 5%, dalam 4 jam, diulang setiap 12-24 jam sampai mencapai dosis total 25 mg basa/kg BB dalam 3 hari (1,12). Klorokuin juga dipakai sebagai obat antimalaria pilihan untuk profilaksis dengan dosis 5 mg basa/kg BB/minggu, dosis tunggal. Efek samping yang pernah dilaporkan adalah pusing, vertigo. diplopia, mual, muntah dan sakit perut.

Sulfadoksin/Sulfalen – pirimetamin

Merupakan obat antimalaria kombinasi antara golongan sulfonamida/sulfon dengan diaminopirimidin yang bersifat skizontosida jaringan P. falciparum, skizontosida darah dan sporontosida untuk ke empat jenis plasmodium manusia. Kombinasi obat ini digunakan secara selektif untuk pengobatan radikal malaria falsiparum di daerah-daerah dengan proporsi P. falciparum resisten terhadap klorokuin yang tinggi (1). Sulfadoksin/sulfalen – pirimetamin (SP) dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral; obat ini tidak diberikan untuk bayi. Waktu paruh sulfonamida adalah 180 jam, sedangkan pirimetamin adalah 90 jam(14). Dosis yang diberikan untuk pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi yang resisten klorokuin adalah sulfadoksin 25 mg/kg bb. dan pirimetamin 1,25 mg/kg bb. dosis tunggal. SP tidak dipakai untuk profilaksis (1,15).

Efek samping yang pernah dilaporkan adalah sindrom Steven Johnson yang dapat berakibat fatal. Kasus P. falciparum resisten in vivo atau in vitro terhadap sulfadoksin-pirimetamin sudah ditemukan di 9 propinsi Indonesia (Irja, Lampung, Jateng, Sumut, Aceh, Riau, Sulsel, DKI dan Kaltim), penderita yang ditemukan di DKI Jakarta merupakan kasus import. Angka kesembuhan yang dilaporkan adalah antara 92-100% dengan derajat resisten R I – R II. Meluasnya kasus resisten terhadap obat ini mungkin disebabkan pemakaian yang tidak terkontrol karena obat tersebut dijual bebas, mudah pemberiannya, rasanya tidak pahit dan pemakaian antibiotika golongan sulfa yang juga meluas (Tjitra. E, 2009).

Kina

Kina merupakan obat antimalaria kelompok alkaloida kinkona yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan gametositosida P. vivax dan P. malariae. Sampai saat ini kina merupakan satu-satunya obat antimalaria penyelamat untuk pengobatan malaria komplikasi atau malaria berat dan juga malaria resisten multidrug. Kina dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral dan larutan untuk pemberian parenteral. Waktu paruh kina pada orang sehat 11 jam, sedangkan pada penderita malaria tanpa komplikasi 16 jam dan pada malaria berat 18 jam. Dosis yang diberikan untuk penderita malaria tanpa komplikasi yang resisten multidrug adalah 10 mg garam/kb bb. tiap 8 jam selama 7 hari. Dosis kina setiap hari untuk bayi dihitung 10 mg garam/umur dalam bulan, dibagi dalam 3 bagian dan diberikan selama 7 hari. Di Thailand, dosis kina untuk anak-anak adalah 10 mg garam/kg bb. tiap 8 jam selama 4 hari kemudian dilanjutkan dengan dosis 15 mg garam/kg bb. tiap 8 jam selama 3 hari untuk mencapai Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Untuk penderita malaria berat atau dengan komplikasi, kina diberikan dalam larutan NaCl atau Dextrosa 5%, 10 ml/kg bb. dengan dosis awal 20 mg garam atau 16,7 mg basa/kg bb. Dalam 4 jam pertama, dilanjutkan dengan dosis 10 mg garam atau 8,3 mg basa/kg bb. Dalam 4 jam berikutnya dan diulang setiap 8 jam sampai penderita dapat menelan obat untuk kemudian diselesaikan pengobatannya per oral sampai hari ke 7. Pemberian dosis awal (loading dose) dengan maksud lebih cepat memberi hasil, tetapi tidak diberikan kepada penderita yang dalam 48 jam sebelumnya sudah diberi kina. Dalam hal ini diberikan kina dosis 8,3 mg basal kg bb. Pada pengobatan kina parenteral dapat terjadi hipoglikemi dan efek samping yang paling sering ditemukan adalah tinitus (Tjitra. E, 2009).

Kasus P. falciparum resisten in vitro terhadap kina sudah ditemukan di 5 propinsi di Indonesia (Jabar, Jateng, NTT, Irja dan Kaltim). Kasus P. vivax resisten in vivo terhadap kina pada penderita pasca transfusi juga telah ditemukan di sebuah rumah sakit di DKI Jakarta. Resistensi terhadap kina dampaknya belum meluas dan berat. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya laporan atau penelitian terhadap obat ini, penggunaannya selektif, kurang disukai karena memerlukan waktu yang agak lama (7 hari) dan efek samping yang ditimbulkan (Tjitra. E, 2009).

Primakuin

Primakuin merupakan obat antimalaria kelompok 8-aminokuinolin yang bersifat skizontosida jaringan, gametositosida dan sporontosida untuk jenis Plasmodium manusia. Obat ini digunakan bersama obat antimalaria lain yang hanya bersifat skizontosida darah untuk mendapatkan pengobatan radikal. Penggunaan primakuin untuk profilaksis kausal masih dalam penelitian, dalam program tidak digunakan untuk profilaksis. Primakuin dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral. Obat ini tidak diberikan pada bayi dan ibu hamil. Waktu paruhnya adalah 6 jam. Dosis pengobatan radikal Malaria falsiparum adalah 0,5–0,75 mg basa/kg bb, dosis tunggal pada hari 1 pengobatan. Untuk pengobatan radikal Malaria vivaks, ovale dan malariae, diberikan primakuin 0,25–0,375 mg basa/kg bb., dosis tunggal selama 5–14 hari. Efek samping yang dilaporkan adalah gangguan saluran pencernaan (mual, muntah dan sakit perut) dan sistem hemopoetik (anemi, leukopeni dan methemoglobinemi). Oleh karena primakuin bukan merupakan obat antimalaria yang bersifat skizontosida darah, maka sulit dan belum diketahui cara mengukur sensitivitas in vivo atau in vitro obat ini (Tjitra. E, 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.