Konsep Gigi

  • Gigi
    • Pengertian

Gigi merupakan salah satu  Gigi atau dentis berfungsi dalam proses pencernaan makanan secara mekanis, yaitu dengan cara mengunyah. Gigi mengalami diferensiasi dalam hal bentuk sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berdasarkan bentuk dan fungsinya dibedakan antara lain :

  1. Gigi seri

Gigi seri atau dentis insisivus merupakan jenis gigi yang berbentuk seperti pahat. Gigi seri berfungsi untuk memotong makanan yang sifatnya berserat dan berbongkah.

  1. Gigi Taring

Gigi taring atau dentis kaninus merupakan jenis gigi yang berbentuk giligi dengan ujung runcing. Gigi taring berfungsi untuk menyobek atau mencabik makanan.

  1. Gigi Geraham

Gigi geraham atau dentis molar merupakan jenis gigi yang berbentuk seperti bongkol, tetapi memiliki ujung yang agak melebar. Gigi geraham yang berfungsi untuk mengunyah atau menggiling makanan.

Sebuah gigi terdiri dari bagian utama yaitu mahkota gigi, leher gigi dan akar gigi. Mahkota gigi merupakan bagian gigi yang paling mudah dilihat yaitu berupa bagian yang menonjol di atas gusi. Leher gigi merupakan bagian gigi yang dikelilingi oleh gusi, sedangkan akar gigi adalah  bagian gigi yang tertanam di dalam lekukan – lekukan pada rahang. (RA. Tomasowa, 1983).

  • Fungsi Gigi

Menurut Azis Ahmad (2004) gigi mempunyai banyak fungsi sebagaimana organ-organ keras tubuh kita lainnya. Di antara beberapa fungsi gigi adalah sebagai berikut :

  1. Pengunyah

Pertama kali makanan dipotong dan diremuk dengan gigi. Kemudian dikunyah lalu ditelan.

  1. Penyangga

Gigi memberikan sandaran yang kuat dengan bantuan tulang rahang pada struktur wajah.

  1. Perlindungan dan Pengendalian

Gigi melindungi debu, kuman dan benda – benda luar yang masuk ke dalam mulut dengan bantuan bibir.

  1. Penampilan

Dengan lapisannya yang berwarna putih seperti mutiara, gigi memperlihatkan penampilan yang indah.

  1. Pemegang

Gigi berguna untuk memegang benda seperti pipa, cerutu dan lain-lain.

Menurut Ircham Machfoedz (2006), gigi mempunyai beberapa fungsi antara lain:

  1. Untuk berbicara
  2. Untuk mengunyah makanan, jadi ini berarti membantu pencernaan.
  3. Untuk penampilan yaitu kecantikan dan kebagusan.

Sedangkan Setiawan, (1999) bahwa gigi mempunyai fungsi antara lain:

  1. Untuk mengunyah makanan dan sesuai dengan bentuk gigi, maka gigi seri memotong makanan, gigi taring mencabik dan merobek makanan yang liat, misalnya daging dan geraham menggiling dan menghaluskan makanan.
  2. Gigi diperlukan untuk berbicara dengan jelas, contohnya kalau seseorang kehilangan gigi seri di rahang atas maka ia akan berbicara dengan suara berdesis dan tidak jelas ucapan kata – katanya.
  3. Gigi mendorong pertumbuhan rahang sehingga bentuk muka selaras.
    • Proses Pengantian Gigi

Semua gigi sulung diganti dengan gigi tetap. Pada anak – anak yang berumur 5 ½ – 11 tahun ada dua macam gigi, yaitu gigi sulung dan gigi tetap, dan susunan gigi yang demikian ini disebut gigi geligi pergantian. Pembentukan gigi tetap menimbulkan tekanan pada akar dari gigi sulung, ini mengakibatkan resorbi dari akar gigi sulung maupun dari tulang sekitarnya. Resorbi ini menghasilkan tempat yang luang yang kemudian diisi oleh gigi tetap pengganti gigi sulung tersebut. Resorbi ini terjadi secara bertahap sampai akhirnya seluruh akar gigi sulung maupun sebagian dari mahkota habis, berakibatkan gigi sulung goyah dan mudah lepas.

Namun, ada juga beberapa orang yang sudah dewasa yang masih mempunyai gigi sulung. Ini disebabkan karena tidak terjadi resorbi akar gigi sulung. Ada dua kemungkinan mengapa tidak terjadi resorbi dari akar gigi sulung. Pertama, sebab tidak ada benih gigi permanen pengganti gigi sulung tersebut, kedua, letak benih gigi tetap yang salah sehingga tidak dapat menimbulkan resorbi pada akar gigi sulung.

  • Cara Menyikat Gigi
    • Pengertian

Cara menyikat gigi yaitu menggosok gigi dengan teratur dan menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride serta kalsium dengan menggunakan sikat gigi yang lembut agar lapisan email tidak terkikis dan gusi tetap sehat (Mardewi, S 2008).

  • Menyikat Gigi Secara Teratur dan Benar

Para ahli sependapat bahwa menyikat gigi dengan pasta segera setelah makan merupakan suatu cara yang efektif dalam mengurangi terjadinya karies gigi. Pencegahan terjadinya karies gigi pada anak-anak dengan cara menyikat gigi akan ditemukan beberapa masalah antara lain:

  1. Anak-anak usia pra sekolah belum dapat menjaga kebersihan mulut dan giginya sendiri, maka untuk itu diperlukan bantuan orang tua untuk menggosok gigi anaknya.
  2. Kapan dan bagaimana caranya melakukan motivasi pada anak – anak dalam menjaga kebersihan mulut dan giginya. Cara yang biasa di lakukan untuk menarik minat agar anak – anak mau menggosok giginya adalah melakukan pendekatan pada dapat dimengerti maksud dan tujuan menggosok gigi. Selain itu untuk membantu kita dalam mengajar cara menggosok gigi dapat digunakan model baik orang tua maupun pantom dari pabrik dapat bertindak sebagai model dalam mendemonstrasikan cara-cara yang menyikat gigi pada anaknya.
  3. Untuk mendapatkan efek yang maksimal dalam mencegah terjadinya karies gigi sangat diperlukan kerja sama dengan pasien (Taqwa, 1992).
    • Metode Menyikat Gigi

Menurut Taqwa, (1992) beberapa metode menyikat  gigi yang  dianjurkan  adalah:

  1. Metode Scrub. Dianjurkan untuk gigi anak-anak pada masa gigi susu, teknik ini  merupakan cara menyikat gigi  dengan gerakan maju mundur daerah horizontal dari sikat gigi pada permukaan luar dan permukaan dalam lengkung gigi.
  2. Metode Fone, teknik juga memberikan hasil yang baik pada anak-anak. Teknik ini dilakukan dengan gerakan siklur pada permukaan bukkal dan labial dan gerakan maju mundur secara orizontal pada permukaan lingual dan oklusal.

Menurut Depkes, RI (1995) ada beberapa metode cara menyikat gigi, salah satu cara yang mudah dilakukan  adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan sikat gigi dan pasta gigi yang mengandung fluor, banyaknya pasta gigi sebesar sebutir kacang tanah.
  2. Kumur-kumurlah sebelum menyikat gigi
  3. Sikatlah semua permukaan gigi dengan gerakan maju mundur dan pendek-pendek selama 2 menit dan sedikitnya 8 kali gerakan untuk setiap permukaan.
  4. Sikatlah permukaan gigi yang menghadap pipi dan bibir.
  5. Sikatlah permukaan gigi yang menghadap langit-langit/lidah.
    • Syarat-Syarat Sikat Gigi

Menurut Ichram Machfoedz, (2006) Sikat gigi yang baik memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Tangkai lurus dan mudah dipegang
  2. Kepala sikat gigi kecil. Sebagai ancar-ancar paling besar sama dengan jumlah lebar keempat gigi bawah. Kenapa harus kecil, sebab kalau besar tidak dapat masuk ke bagian-bagian yang sempit dan dalam.
  3. Bulu sikat gigi harus lembut dan datar. Bila sikat gigi terlalu besar, bulu dapat dicabut sebagian
    • Kesehatan Gigi
      • Pengertian

Kesehatan Gigi adalah keadaan  gigi  yang bersih dari plak dan sisa makanan serta gigi berlobang (Tarigan, 1995). Sedangkan menurut Setiawan (1999) Kesehatan Gigi adalah kondisi yang bersih dari bakteri, sisa makanan serta gigi berlobang. Kesehatan gigi akan mempengaruhi aktivitas seseorang baik dalam pergaulan maupun kesehatan tubuhnya, karena gigi yang tidak sehat atau rusak dapat menganggu aktivitas.

Menurut Azis Ahmad (2004) Kesehatan menjadi sangat berharga ketika terasa ada gangguan. Gejala awal suatu penyakit seringkali tidak diperlihatkan atau dianggap tidak terlalu penting. Menjaga kesehatan gigi merupakan hal yang penting dari seseorang dan untuk memperoleh gigi yang sehat dan kuat membutuhkan usaha agar gigi selalu terjaga kesehatannya.

  • Terjadinya Penyakit Gigi

Menurut Departemen Kesehatan RI, (1983), ada dua hal penyakit gigi  yang disebabkan oleh kuman antara lain :

  1. Penyakit Karies Gigi

Penyakit ini merusak permukaan gigi, lapisan enamel menjadi keropos dan lambat laun akan terjadi lubang pada permukaan gigi. Tanpa perawatan, proses penyakit akan berjalan terus, akhirnya sampai ke pulpa gigi, sehingga pulpa mati dan membusuk. Gigi yang sudah busuk menjadi sarang kuman-kuman dan sumber infeksi bagi organ tubuh lainnya seperti ginjal, jantung dan mata.

Terutama pada anak-anak harus dijaga agar gigi sulung tidak rusak oleh karies. Sebab akibat dari gigi sulung yang sudah rusak adalah:

  1. Anak tersebut tidak dapat mengunyah dengan baik dan ini mempunyai pengaruh yang buruk terhadap gizi dan pertumbuhan anak.
  2. Pertumbuhan rahang terganggu sehingga gigi tetap tumbuh tidak teratur dan berdesakan.
  3. Gigi sulung yang sudah busuk menjadi sumber infeksi untuk organ – organ tubuh lainnya.
  4. Radang Gusi

Lambat laun radang gusi dapat meluas sehingga merusak jaringan halus yang mengikat akar gigi pada tulang rahang. Akibatnya gigi menjadi goyah dan tanggal. Radang Gusi adalah penyakit yang kronis (menahun) dan tidak disertai dengan rasa sakit, perhatian penderita baru timbul kalau gigi sudah goyah dan mengganggu kalau mengunyah makanan.

Dalam mulut penderita dengan radang gusi ada banyak kotoran yang menempel pada gigi, khususnya pada permukaan gigi yang berbatasan dengan gusi. Kotoran ini kadang-kadang empuk seperti mentega dan adakalanya sudah mengeras seperti kerak yang berwarna kuning, kuning kecoklatan atau hijau. Kerak ini disebut karang gigi dan anggapan orang banyak adalah bahwa karang gigi memperkuat gigi. Ini tidak benar sebab dibawah karang gigi ini proses radang berjalan terus sehingga akhirnya gigi menjadi goyah dan tanggal.

  • Faktor–Faktor Yang Menyebabkan Penyakit Gigi

Menurut Taqwa (1992),  ada dua faktor yang menyebabkan penyakit yaitu faktor lokal dan faktor sistemik.

  • Faktor Lokal
  1. Plak Bakteri

Plak gigi merupakan hasil pertumbuhan mikroba yang melerat pada permukaan gigi dan gingiva bila seseorang mengabaikan kebersihan mulut. Plak memegang peranan penting dalam mengawali dan menimbulkan penyakit periodontal. Bakteri yang terkandung dalam plak di daerah sulkus gingiva mempermudah kerusakan jaringan, hampir semua penyakit periodental berhubungan dengan plak bakteri dan telah terbukti bahwa plak bakteri bersifat toksit. Bakteri dapat menyebabkan penyakit periodontal secara tidak langsung dengan jalan:

  1. Mengadakan mekanisme pertahanan jaringan tubuh.
  2. Mengurangi pertahanan jaringan tubuh.
  3. Menggerakkan proses immuho-patologis

Meskipun penumpukkan plak bakteri merupakan penyebab utama terjadinya gingivitis, akan tetapi masih banyak faktor lain sebagai penyebab penyakit periodontal yang merupakan multi faktoral, yang meliputi interaksi antara mikroorganisasi pada jaringan periodontal dan kapasitas jaringan tubuh.

  1. Kalkulus

Kalkulus terdiri dari plak bakterial yang merupakan edisi yang mengalami pengapuran yang terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. Kalkulus merupakan penyebab terjadinya gingivitis dan lebih banyak terjadi pada orang demam. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan inflamasi terjadi karena penumpukkan sisa makanan yang berlebihan. Kalkulus bukan menjadi penyebab utama terjadinya penyakit periodontal, tetapi merupakan pendukung terjadinya penyakit periodontal.

  1. Impaksi Makanan

Gigi yang berjejal atau miring merupakan terjadi penumpukkan makanan dan juga tempat terbentuknya plak, tetapi gigi dengan okulasi yang baik mempunyai daya self cleansing yang tinggi impaksi makanan merupakan keadaan awal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit periondotal. Tanda-tanda yang berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan adalah:

  1. Perasaan tertekan pada daerah interproximal.
  2. Rasa sakit yang sangat dan tidak menentu.
  3. Inflamasi gingiva dengan pendarahan daerah yang sering berbau.
  4. Resesi gingiva
  5. Pembentukan abses periodontal
  6. Gigi dapat bergerak dari soketnya, menyebabkan kontrak prematur secara fungsional dan sensitif terhadap perkusi.
  7. Kerusakan tulang alveolar dan karies pada akar.
  1. Pernapasan Mulut

Kebiasaan bernapas melalui mulut adalah merupakan hal yang tidak baik. Hal ini sering dijumpai bila sedang selesma, juga pada anak-anak yang mempunyai kebiasaan membuka mulut dalam waktu yang lama. Pada anak tampak kelainan saluran penapasan bibir mupun pada rahangnya, dapat juga terjadi pernapasan melalui mulut karena viskositas saliva akan mengental pada permukaan gingiva maupun pada permukaan gigi, populasi bakteri bertambah besar, lidah dan palatum menjadi kering dan akhirnya akan memudahkan terjadinya penyakit periodontal.

  1. Sifat-Sifat Makanan

Makanan yang diolah akan meninggalkan sisa di sekeliling gigi seperti tipe makanan yang bersifat lunak, serbuk dan campuran semi cair yang hanya memerlukan sedikit pengunyahan. Makanan yang keras dan kaku dapat juga menjadi massa yang sangat lengket bila bercampur dengan air liur. Makanan yang demi mulut sampai lunak dengan air liur atau makanan cair. Kalkulus terdiri dari plak bakterial yang merupakan edisi yang mengalami pengapuran yang terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. Kalkulus merupakan penyebab terjadinya penyakit periodontal.

Makanan yang baik untuk self cleansing adalah makanan yang bersifat alamiah seperti tipe makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara lebih efektif, misalnya makanan yang berserat yang membutuhkan penggunaan berupa sayuran mentah yang segar, buah-buahan dan ikan yang sifatnya tidak melekat pada permukaan gigi.

  1. Latrogenik Dentistry

Dokter gigi harus memperhatikan masa depan kesehatan jaringan periodontal pasien,  misalnya waktu melakukan penambalan pada permukaan proximal atau servikal harus dihindarkan tempat, tambalan yang tidak baik dan kontak yang salah karena ini dapat menyebabkan munculnya terjadi penyakit periodontal.

  1. Trauma dari Oklusi

Trauma dari oklusi adalah kerusakan jaringan periodonsium karena tekanan oklusal. Oklusi yang menyebabkan kerusakan jaring disebut traumatik oklusi. Trauma dari oklusi dapat disebabkan oleh:

  1. Perubahan-perubahan tekanan oklusal, misalnya karena adanya gigi yang alongasi, pencabutan gigi atau karena kebiasaan yang kurang baik seperti bruxism, cleanching.
  2. Berkurangnya kapasitas periodonsium untuk menahan tekanan oklusal.
  3. Kombinasi kedua-duannya.

Kalkulus terdiri dari plak bakterial yang merupakan edisi yang mengalami pengapuran yang terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. Kalkulus merupakan penyebab terjadinya

  • Faktor Sistemik

 Respon jaringan terhadap bakteri, rangsangan kimia serta dapat diperdebat oleh keadaan sistemik. Untuk metabolisme, jaringan membutuhkan material-material seperti hormon, vitamin, mineral, nutrisi dan oksigen. Bila keseimbangan dari material ini terganggu dapat mengakibatkan gangguan lokal yang berat. Gangguan keseimbangan tersebut dapat berupa kurangnya materi yang dibutuhkan oleh sel–sel untuk penyembuhan, sehingga iritasi lokal yang seharusnya dapat di tahan  atau hanya memerlukan inflamasi risauan saja, dengan adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat memperberay atau menyebabkan kerusakan jaringan periodontal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.