Gangguan Bahasa dan Hakekat Bahasa Ekspresif

A.Pengertian Gangguan Bahasa

Menurut Soetjiningsih (1995) gangguan bahasa merupakan keterlambatan dalam sektor bahasa yang dialami oleh seorang anak. Kemampuan berbahasa merupakan suatu indikator seluruh perkembangan anak. Jika seorang anak tidak mampu berbicara maka dapat menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi dan mengungkapkan perasaannya kelak.  Dalam artikel “Frequently Asked Question”, Jeniffer Fusco (2002) mengungkapkan bahwa gangguan bahasa merupakan suatu keterlambatan dalam berbahasa ataupun bicara dimana jika dilakukan penanganan dini akan sangat menolong anak dalam masalah bahasa. Penyebab kelainan berbahasa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi, psikologis dan lain sebagainya.

B.Hakekat Bahasa Ekspresif

 1.Pengertian Bahasa Ekspresif

Kemampuan berbahasa berbeda dengan kemampuan berbicara. Bahasa merupakan suatu sistem tata bahasa yang relatif rumit dan bersifat semantik (tata kata dan kalimat), sedangkan berbicara merupakan suatu ungkapan dalam bentuk kata-kata. Menurut Gunarti, dkk. (2008:1.35) bahwa bahasa ekspresif adalah bahasa yang dinyatakan.

Menurut Hildayani (2006:2.13) seorang anak dikatakan mengalami gangguan dalam bahasa ekspresif  bila terdapat jarak (discrepancy) antara apa yang dimengerti oleh anak (bahasa reseptif) dengan apa yang ingin mereka katakan (bahasa ekspresif). Menurut Samsiah (2012:12) perbedaan bahasa ekspresif merupakan bahasa yang berisi curahan perasaan. Kalimat Ekspresif adalah kalimat yang memiliki kata kerja menyatakan makna batin (ekspresif),  sedangkan  kata ekspresif  dalam  kamus besar bahasa Indonesia bernakna  “tepat (mampu) memberikan/mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan”. Menurut IDEA (Individuals wits disabilities Education Act) yang dikutip oleh Samsiah (2012:31) bahwa gangguan  bahasa ekspresif adalah gangguan kemampuan individu di dalam menghasilkan  suatu bahasa, misalnya menyampaikan pikiran atau pendapat secara verbal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa ekspresif adalah bahasa yang berisi curahan perasaan dan kalimat.

2.Perkembangan Bahasa Ekspresif Anak Usia Dini

Sesuai dengan pendapat Vigotsky tentang prinsip zone of proximal yaitu zona yang berkaitan dengan perubahan dari potensi yang dimiliki oleh anak menjadi kemampuan aktual, maka prinsip-prinsip perkembangan bahasa Anak Usia Dini menurut Kurnia (2009:68) adalah sebagai berikut :

a.Interaksi

Interaksi anak dengan lingkungannya akan membantu anak untuk memperluas kosa katanya dan  memperoleh contoh dalam menggunakan kosa kata dengan tepat.

b.Ekspresi

Mengekspresikan kemampuan bahasa. Kemampuan bahasa anak dapat di ekspresikan melalui pemberian kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara tepat.

3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bahasa  Ekspresif

Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan komunikasi antara lain adalah :

a.Faktor Genetik

Proses-proses berbahasa  muncul sebagai suatu warisan  yang memberikan pengaruh sangat  signifikan. Kira-kira 50 hingga 75%  dari keseluruhan anak yang mengalami gangguan  bahasa  spesifik memperlihatkan  bahwa dalam sejarah keluarga mereka juga ada anggota keluarga lain yang mengalami kesulitan yang sama.

b.Fungsi Otak

Fungsi-fungsi otak bahasa berkembang secara cepat dan pada awalnya berpusat di lobus temporal sebelah kiri. Lingkaran umpan balik sirkuler membantu penguatan proses perkembangan bahasa ekspresif. Semakin baik anak memahami bahasa ujarannya maka semakin baik pula kemampuan ekspresifnya.

c.Lingkungan Rumah

Stimulasi orang tua sangat berkaitan dengan cara bicara dan berbahasa dapat mempengaruhi kecepatan (tempo) perkembangan bahasa, namun tidak menyebabkan terjadinya kerusakan khusus yang menjadi ciri dari gangguan bahasa ekspresif.

4.Gangguan bahasa Ekpresif

Gangguan bahasa Ekspresif adalah kesulitan yang dialami anak  dalam mengungkapkan apa yang ingin dikatakan meskipun  ia memahami apa yang dikatakan oleh orang lain.

Adapun gejala-gejala gangguan bahasa ekspresif diantaranya adalah : a) pendiam/kurang mau berbicara, b) perbendaharaan katanya kurang, c) mengalami kesulitan dalam  mengingat kata-kata atau membentuk kalimat yang panjang, d) tidak mampu memulai suatu percakapan, e) Merasa sulit untuk menceritakan kembali suatu cerita atau suatu peristiwa,  f) memiliki kesulitan dalam akademik dan komunikasi sosial, namun pemahaman bahasatetap relatif utuh.

5.Penanganan Anak yang Mengalami gangguan Bahasa Ekspresif

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan bahasa ekspresif adalah metode bercakap-cakap. Metode yang dilakukan guru dengan cara berbincang-bincang yang bentuk percakapan antara dua orang atau lebih (Gunawan, 2006:146). Menurut Hidayat (2003:65) bahwa manfaat metode bercakap-cakap antara lain (a) Mengukur kemampuan  anak pada perbendaharaan kata; (b) Menambah perbendaharaan kata; (c) Memperbaiki kesalahan kata pada anak; (d) Mengajarkan menggunakan bahasa yang baik.

Dijelaskan oleh Hidayat (2003:66) bahwa tujuan penerapan metode bercakap-cakap, antara lain ,  (a) untuk mengembangkan kecakapan dan keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain; (b) Memberi kesempatan  untuk berekspresi secara lisan; (c) Memperbaiki ucapan dan lafal  anak; (d) Mengajarkan menggunakan bahasa yang baik.

Bentuk pelaksanaan metode bercakap-cakap, diantaranya adalah :

1)Bercakap-cakap bebas

Bentuk percakapan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengelaman-pengalamannya secara bebas. Adapun tujuannya adalah untuk menggali kemampuan berbahasa anak. Melalui aktifitas bercakap-cakap bebas, anak belajar untuk dapat melakukan :

  • Berbicara dengan jelas dan terang
  • Berbicara di depan kelas/ suatu kelompok
  • Menceritakan suatu kejadian secara sederhana
  • Berbicara dengan kalimat yang lengkap

2)Bercakap-cakap menurut pokok bahasan

Bercakap-cakap menurut pokok bahasan adalah bentuk percakapan dengan pokok percakapan yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh guru sesuai tema. Melalui kegiatan bercakap-cakap menurutpokok bahasan maka anak-anak dapat :

  • Mengemukakan apa yang diketahuinya sesuai dengan tema
  • Mendengarkan teman/orang lain yang sedang berbicara,
  • Mengajukan pertanyaan,
  • Mengulang kembali kata-kata baru yang baru di dengar

3)Bercakap-cakap dengan menggunakan alat peraga

Bercakap-cakap dengan menggunakan alat peraga bertujuan untuk membentuk percakapan dengan menggunakan alat bantu langsung atau tidak langsung. Bentuk percakapannya adalah sebagai berikut :

  • Menggunakan benda yang sebenarnya
  • Menggunakan benda tiruan
  • Menggunakan gambarb tunggal/gambar seri
  • Menggunakan papan panel
  • Menggunakan gambar yang dibuat/dibawa sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Desmita. 2009.  Psikologi Perkembangan Peserta Didik : Panduan bagi Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bandung : Rosda.

Hildayani, Rini, dkk. 2012. Penanganan  Anak Berkelainan. Jakarta:Universitas terbuka.

Wiyani, Novan  Ardy. 2014. Psikologi perkembangan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Gava Media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.