Gaya Bahasa Sastra

Gaya Bahasa Sastra

Menurut Slametmuljana dan Simorangkir Simanjuntak, gaya bahasa merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan-perasaan dalam hati pengarang, dengan sengaja ataupun tidak, akan menimbulkan suatu gejolak perasaan tertentu dalam hati pembaca. Dalam hal ini pusat perhatiannya terletak pada pengarang. Pendapat Gorys Keraf hampir sama yaitu bahwa gaya (bahasa) itu adalah cara untuk mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Pradopo 2005a: 3-4)

Menurut Atmazaki (1990:93-95) bahwa gaya bahasa sastra disebut juga istilah stilistika atau penggunaan bahasa dalam karya sastra. Pengertian ini dipertentangan penggunaan bahasa dalam konteks ini dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa oleh orang yang tidak mempunyai kompetensi linguistik yang baik, sehingga menimbulkan hal-hal yang salah atau menyimpang, yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Secara umum pengertian stilistika adalah kajian terhadap karya sastra yang berpusat kepada pemakaian bahasa, yang objek kajiannya adalah karya sastra yang sudah ada. Persoalan gaya bahasa sastra bukanlah tentang efisiensi dan efektifitas pengguna bahasa, melainkan tentang cara penggunaan bahasa untuk menghasilkan efek tertentu.

Gaya bahasa sastra tidak saja dalam arti keindahan, melainkan juga dalam arti kemantapan pengungkapan. Gaya bahasa adalah suatu efisiensi dan efektifitas yang berkaiatan dengan tata bahasa (kalimat yang efektif yang sesuai dengan kaidah bahasa), hemat dalam pengungkapan tetapi dapat menyampaikan banyak ide dan juga sering memperlihatkan penentangan terhadap pengucapan bahasa yang klise.

Sejalan dengan itu Sudjiman (1993:2-4) menambahkan bahwa stilistika mengkaji wacana sastra dengan orientasi linguistic. Oleh karena itu, stilistika sangat berkaitan erat dengan berbagai cabang dan tataran linguistic, misalnya dalam pengkajian penggunaan bahasa suatu karya sastra dan efektifitas penggunaannya. Adapun menurut karakteristik karya sastra dan efektifitas penggunaannya. Adapun menurut karakteristik karya sastra itu masing-masing dapat bergerak pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik.

Stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi atau memanfaatkan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek apa yang ditimbulkan oleh penggunaannya itu. Stlistika juga meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri-ciri yang membedakan atau mempertentangkannya dengan wacana nonsastra, menelit deviasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Singkatnya, meneliti fungsi puitik bahasa.

Kemudian ditambahkan pula oleh Wellek dan Warren (1993: 220-226) bahwa stilistika secara luas, meneliti semua teknik yang dipakai untuk tujuan ekspresif tertentu, dan meliputi wilayah yanglebih luas dari sastra atau retorika, semua teknik itu untuk membuat penekanan dan kejelasan dalam wilayah stilistika. Di dalam suatu karya sastra tentu saja stilistika tidak dapat diterapkan dengan baik tanpa dasar linguistik yang kuat, karena salah satu perhatian utamanya adalah kontras system bahasa karyasastra dengan penggunaan bahasa pada zamannya. Oleh karena itu,stilistika dapat menjabarkan cirri-ciri khusus karya sastra, ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika semacam itu. Yang pertama dimulai dari menganalisis sistematis tentang system linguistik karya sastra, dan dilanjutkan dengan iterpretasi tentang ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya tersebut sebagai makna total. Gaya akan muncul sebagai sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya. Kemudian yang kedua tidak berte ntangan dengan yang pertama, mempelajari sejumlah ciri khas membedakan sistem satu dengan sistem-sistem lain. Adapun langkah dalam menganalisis stilistika dengan mengamati deviasi-deviasi seperti penggunaan bunyi, iverse susunan kata, susunan hirarki klausa yang mempunyai fungsi estetis seperti penekanan atau membuat kejelasan dan justru sebaliknya usaha estetis untuk mengaburkan dan makna menjadi tidak jelas.

Berdasarkan ketiga uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah bagian dari ilmu sastra yang sangat penting karena dapat menjabarkan cirri-ciri sejumlah cirri khas yang membedakan sistem satu dengan yang lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan mengamati penggunaan bunyi, susunan kata, dan susunan klausa untuk membuat kejelasan makna dan pengaburan makna yang tidak jelas.

Gaya dalam cerita pendek dikisahkan salah satu moment dalam Kehidupan manusia. Waktu penceritaannya pendek, jumlah baris (halamannya) pendek, dapat di baca dalam sekali duduk, biasanya dalam cerita pendek penyelesaian cerita nya selalu mendadak dan penyelesaian cerita itu bersifat open ending (terbuka untuk diselesaikan sendiri), serta menggunakan bahasa sederhana tetapi sugestif (Waluyo, 1994:34-35). Dalam cerita pendek, pengarang mengambil sari ceritanya saja, kejadian-kejadian perlu dibatasi, yakni di batasipada kejadian-kejadian yang benar-benar dianggap penting untuk membentuk kesatuan ceerita. Disamping itu cerita harus memiliki kepanduan atau kebulatan yang tinggi. Maka dari itu, tokoh yang digambarkan harus diperhatikan agar tidak mengurangi kebulatan cerita dan biasanya berpusat pada tokoh utama dari awal hingga akhir cerita, Jasin menjelaskan (dalam waluyo, 1994:34).

Ucapan atau ekspresi karya sastra sebagai karya seni berbeda dengan ucapan karya-karya kebahasaan yang lain yang tidak memokok nilai seninya. Untuk itulah dalam mengenal suatu karya sastra di perlukannya ciri-ciri Empiris sifat estetik karya sastra. Ciri-ciri empiris sifat karya sastra ini adalah sebagaiberikut:) bahasa yang digunakan sastrawan atau karya sastra berusaha membuat ucapan yang aneh, yang menyimpang penggunaan bahasa sehari-hari pemakaian bahasa yang normatif, melainkan pengarang berusaha mendapatkan efek atau kesan yang membuat kekaguman atau terpesona; 2) memproyeksikan prinsip ekuivalensi (persejajaran, persamaan nilai), pengarang memilh kata-kata yang tepat, yang ekspresif, untuk melukiskan perasaan dan pikirannya.

Pemilihan itu disesuaikan dengan kata-kata kombinasinya yang seharga atau senilai, baik arti maupun bunyi; 3) Untuk mendapatkan niali estetik yang intens dalam karya sastra dipergunakn sarana-sarana sastra secara bersama-sama seperti gaya bahasa, pilihan kata, bahasa kiasan, humor, symbol, tegangan, pembayangan dll. Untuk mendapatkan efek yang sebanyak-banyaknya. Pembuatan bahasa yang aneh, prisip ekuivalensi dan penggunaan saran-saran sastra itu menimbulkan kebaharuan dalam karya sastra sehingga menimbulkan daya pesona dan kekaguman yang dapat memberiakn nilai seni atau menambah nilai seni karya sastra (Pradopo, 2002: 88-90).

Style atau gaya bahasa menulis merupakan aspek yang sangat penting, hal ini dapat ditinjau dari brmacam-macam sudut pandang. Antara lain yaitu gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna serta gaya bahasa kiasan.

Beradasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena itu, gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, yang memiliki nilai artistik yang tinggi. Diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang di pakai pengarang cerpen untuk menyampaikan suatu gagasan, serta bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat untuk ungkapan-ungkapan, yang tepat, dan gaya mana yang paling tepat digunakan dalam suatu situasi serta nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pembaca (Keraf, 2005: 117).

Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Apabila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos tetapi apabila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, makna acuan itu dianggap sudah memiliki gaya bahasa yang dimaksud.

Sedangkan gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan Persamaan. Membandingkan sesuatu dengan yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukan kesamaan antara kedua hal tersebut. Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan (Keraf, 2005:126-136).

Gaya Bahasa Teoritis

Gaya bahasa retoris kesemuanya berjumlah 21 macam. macam-macam contoh gaya bahasa retoris tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: (Triningsih Diah Erna, 2009: 18-24).

  1. Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonanyang Gaya bahasa ini sering digunakan dalam puisi atau prosa untuk penekanan makna.

Contoh:

  1. Takut titik lalu
  2. Keras-keras kerak kena air lembut juga
  1. Elipsis adalah suatu gaya byang berwujud menghilangkan suatu kalimatyang dengan mudah dapat di isi atau ditafsirkan oleh pembaca atau pendengar. Sehingga struktural gramatikal atau kalimat memenuhi pola yang berlaku

Contoh:

  1. Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat, tetapi psikis…..
  2. Jika anda gagal melaksanakan tugas…, tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal
  3. Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan Sesuatu tersebut dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya.

Contoh:

  1. Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali
  2. Saya tidak akan merasa bahagia jika mendapatkan hadiah mobil
  3. Pleonasme dan Tautologi adalah gaya acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan suatupikiran atau

Contoh:

  1. Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya Saya pun telah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Sungguh memalukan!
  2. Globe yang merupakan tiruan bentuk bumi berbentuk
  3. Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesarkan-besarkan suatu

Contoh :

  1. Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak karena aku sangat
  2. Prajurit itu masih tetap berjuang dan sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah
  3. Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang Paradoks dapat berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenaranya.

Contoh :

  1. Musuh sering merupakan kawan yang
  2. Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaan yang melimpah ruah

Gaya Bahasa Kiasan

Adapun gaya bahasa kiasan kurang lebih berjumlah 16 macam, yang diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat Ekplisit yang dimaksud adalah perbandingan tersebut langsung menyatakan sesuatu sama dengan gal yang lain. Gaya ini ditandai dengan penggunaan kata seperti, bagai, bak, umpama, laksana, atau sebagai.

Contoh :

  1. Matanya seperti bintang timur
  2. Bagai duri dalam daging
    1. Metafora adalah merupakan gaya bahasa yang menganalogikan sesuatu secara langsung dalam bentuk yang

Contoh :

  1. Ia membeli cendera mata dari Bali
  2. Ia sangat menyayangi buah hatinya
    1. Personifikasi atau prosopopeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat

Contoh :

  1. Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah ketakutan kami
  2. Matahari baru saja kembali ke peraduannya ketika kami tiba di sana (Triningsih Diah Erna, 2009: 28-29).

Demikianlah berbagai macam gaya bahasa berdasarkan penggolongannya. Pengarang menggunakan gaya bahasa tersebut sesuai dengan kebutuhannya di dalam membuat karyanya dan biasanya gaya bahasa pengarang jauh lebih luas daripada penggolongan gaya bahasa tersebut. Selain itu, gaya bahasa juga berhubungan dengan sebagai aspek sastra yang lainnya seperti latar,alur, penokohan atau perwatakan dan pandangan hidup pengarang. Dengan adanya aspek ini, maka karya sastra tersebut dapat membentuk kekoherensi keseluruhan di dalam karya sastra seta dapat menimbulkan efek tertentu (Wellek dan Waren. 1993:276-280).

Fungsi Gaya Bahasa

Gaya bahasa dapat dipandang sebagai kenyataan penggunaan bahasa (phenomena) yang istimewa, dan tidak dapat dipisahkan dari cara atau seorang pengarang dalam merefleksikan (memantulkan, mencerminkan) pengalamn, bidika, nilai-nilai, kualitas kesadaran pikiran dan pandangannya yang istimewa atau khusus, serta sebagai ekspresi pribadi penulisnya dalam menghadapi dan menyikapi pokok masalah karangannya.

Gaya bahasa juga merupakan bagian kreativitas yang disadari sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan dan juga sebagai suatu perwujudan dari keterampilan (skill) menggunakan bahasa secara khusus atau istimewa. Dengan kata-kata, jenis kata atau kalimat-kalimat yang dipilih dan disenangi seorang penulis dapat memperhatikan gaya karangannya kepada pembaca walaupun tidak secara langsung hal itu dilakukan. Dengan cara-cara yang tak lazim, penulis menggali sumber-sumber keindahan bahasa, mengolah kata-kata yaitu penggunaan bahasa yang menggambarkan atau melukiskan sesuatu. (Ahmadi, 1997 : 74-76).

Stilistika (Kajian Gaya Bahasa Sastra)

Pusat perhatian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pengarang atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Denaga demikian, style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa, sesungguhnya gaya bahasa terdapat dalam segala ragam bahasa, yakniragam lisan dan ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra. Karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu orang-orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis.

Bahasa juga mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam kehadiran karya sastra. Karena keindahan sebuah karya sebagian besar disebabkan kemampuan penulis mengekploitasi kelenturan bahasa sehingga menimbulkan kekuatan dan keindahan. Bahasa sastra adalah yang khas, bahasa yang telah dilentur-lenturkan oleh pengarang sehingga mencapai kesan keindahan dan kehalusan rasa. Pengrang menggunakan kata-kata yang khusus, serta untuk meninggalkan kesan sensitivitas yang khusus pula.

Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan yang terdapatdalam karya sastra. Untuk menentukan gaya khas seorang pengarang terlebih dahulu harus membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam semua karyanya.

Oleh karena itu, pengkajian stilistika meneliti gaya sebuah teks sastra secara rinci, dengan secara sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata atau struktur bahasa. Mengamati antar hubungan pilihan itu untuk mengidenti fikasi ciri-ciri stilistik, yang membedakan pengarang, karya, tradisi atau periode tertentu dari pengarang, karya, tradisi atau periode lainnya. Ciri ini dapat bersifat fonologis (pola bunyi bahasa, matra, rima), sintaksis (tipe struktur kalimat), leksikal ( diksi, frekuensi, penggunaan kelas kata tertentu), atau retoris (majas, citraan). Gaya bahasa dapat ditentukan pula antara lain oleh sifat karya yang bersangkutan, baik berupa epic atau lirik lisan atau tulisan serta siapa pembaca yang dituju. Dengan bahasa yang indah dan berbunga-bunga, serta beragam majas, pengarang berusaha, menarik perhatian pembaca kepada bentuk estetiknya, baru kemudian pada gagasan yang hendakdisampaikan (Sudjiman,1993 :13-15 dan Semi,1990:81).

Ada beberapa konsepsi dan kriteria pendekatan stilistika menurut (Semi, 1990: 82-83) sebagai berikut :

  1. Pendekatan stilistika beranggapan bahwa kemampuan sastrawan mengekploitasi bahasa dalam segala dimensi merupakan suatu puncak kreativitas yang dinilai sebagai
  2. Di dalam pendekatan stilistika, kajian bahasa harus lebih mendalam, sampai kepada menggunakan bahasa simbolik, kemampuan pemilihan kata hinggapenemuan berbagai kemungkinan
  3. Analisis ditujukan pula ke arah membuka tabir kekaburan yang seringdijumpai pada karya abstrak, dan karya eksperimental yang Denganbegitupendekatan ini dapat memberi faedah yang besar untuk membantukhalayak pembaca mendapatkan interpretasi yang lebih tepat.
  4. Analisis ini ditujukan pula kepada corak penulisan yang bersifat individual, yang bersifat khas bagi
  5. Analisis gaya kepengarangan tidak hanya menyangkut gaya perorangan, tetapi juga dapat dilakukan analasis terhadap gaya kelompok pengarang, gaya umum yang berlaku pada periode
  6. Analisis kebahasaan diarahkan juga pada masalah pemakaian kata dalam kalimat-kalimat dalam paragraf, paragraf dalam wacana, serta bagaimanasemuanya itu dijalin penulis sehingga menjadikannya sesuatu yang menggugah dan
  7. Analisis mengenai pemakaian ragam bahasa, dialek atau laras
  8. Analisis kebahasaan dapat dan kadang-kadang harus dikaitkan dengananalisisperwatakan, sebab bagaimanapun bahasa yang digunakan tokohakan menggambarkaan watak, kepribadian cara berpikir dan
  9. Keterangan dalam penulis memilih kata-kata yang tepat dan menggugahmerupakan segi lain yang akan
  10. Analisis stilistika dikaitkan pula pada analisis tentang pemahaman pembacaterhadap karya

Beradasarkan uraian di atas kajian dengan pendekatan stilistika dalam penelitianini diarahkan untuk mengkaji kemampuan menganalisispemakaian gaya bahasa, pilihan kata dan untuk menemukan berbagai kemungkinan penafsiran yang berkaitan dengan pemaparan karya sastra sebagai bentuk penyampaian gagasan pengarang. Jadi dalam penelitian ini pendekatan stilistika digunakan untuk mengkaji kekhasan gaya bahasa pengarang cerpen di Harian Rakyat Bengkulu, berdasarkan ciri khas masing-masing pengarang.

Mau Belajar Bikin Tesis, Skripsi dan Karya Tulis sendiri.Kunjungi Chanel Youtube Saya.

Jangan Lupa Like and Sucribe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.