Komunikasi Therapeutik

Komunikasi therapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan  untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi merupakan komunikasi profesional  yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien (Purwanto,1994). Sedangkan Menurut Stuart dan Sundeen dalam Keliat (1996), komunikasi therapeutik adalah hubungan kerjasama yang ditandai dengan tukar menukar prilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman, dalam membina hubungan yang therapeutik.

Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling kebutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan kedalam komunikasi pribadi diantara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan. ( Purwanto,1994 ).

 1. Kegunaan komunikasi therapeutik

Fungsi komunikasi therapeutik adalah mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkapkan perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan. Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif keguanaanya adalah mencegah adannya tindakan yang negatif tehadap pertahanan diri pasien ( Purwanto,1994 ).

 2. Tujuan Komunikasi Therapeutik

Tujuan komunikasi menurut Kariyoso (1994), adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai alat penampilan informasi antara perawat dengan pasien.
  2. Dengan komunikasi therapeutik dapat mampu memahami pentingnya komunikasi dalam memberikan asuhan keperawatan.
  3. Memahami berbagai teknik komunikasi pada tahap perkembagan manusia.
  4. Menetapkan teknik komunikasi dalam memberikan asuhan keperawatan pasien, maupun keluarga dalam berbagai kondisi.

Tujuan komunikasi menurut (Purwanto,1994), adalah sebagai berikut :

  1. Membantu pasien untuk menjelaskan dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
  2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
  3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

komunikasi therapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar untuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam praktek keperawatan, wawancara digunakan untuk bebagai tujuan misalnya : pengkajian, memberi penyuluhan kesehatan dan perencanaan perawatan dan sebagai media therapeutik

3. Fase – fase Dalam Komunikasi Therapeutik

Menurut Stuart and Sundeen dalam Keliat (1996), fase-fase dalam komunikasi therapeutik dibagi dalam empat fase  :

  1. Fase Pra Intraksi
    1. Eksplorasi perasaan
    2. Menyiapkan diri untuk berhubungan dengan pasien.
    3. Analisa kekuatan, kelamahan prafesional diri.
    4. Dapatkan data tentang pasien jika mungkin.
    5. Rencanakan pertemuan pertama.
  2. Fase Perkenalan/orientasi.
    1. Tentukan alasan pasien meminta pertolongan, atau mengkaji apakah pasien membutuhkan pertolongan.
    2. Memperkenalkan diri, bina saling percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka
    3. Rumusan kontrak bersama
    4. Menggali pikiran, perasaan dan prilaku pasien.
    5. Identifikasi masalah pasien.
    6. Rumusankan tujuan dengan pasien
  3. Fase Kerja
    1. Menggali stressor yang ada hubungan dengan pasien
    2. Meningkatkan tujuan atau pengertian pasien tentang dirinya agar lebih mengenal dirinya.
    3. Menangani atau mengatasi masalah pasien.
  4. Fase Terminasi
    1. Menyiapkan Pasien untuk berpisah
    2. Mengevaluasi kemajuan atau perbaikan pasien
    3. Saling menggali perasaan yang timbul saat perpisahan

Selain fase-fase di atas dan ada juga menurut Purwanto (1994), terdiri dari 3 fase adalah sebagai berikut :

  1. Fase Orientasi terdiri dari
    • Pengenalan
    • Persetujuan Komunikasi
    • Program Orientasi yang meliputi :
  • Penentuan batas hubungan
  • Pengidentifikasian masalah
  • Mengkaji tingkat kecemasan diri sendiri dan pasien
  • Mengkaji apa yang diharapkan
  1. Fase Lanjutan
    • Meningkatkan interaksi social dengan cara :
  • Meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan.
  • Menggunakan teknik komunikasi therapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama.
    • Meningkatkan faktor fungsional komunikasi therapeutik melalui :
  • Melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada
  • Meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi ketergantungan pasien pada perawat.
  • Mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasakan masalah yang ada.
  1. Fase terminasi
    • Merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang sudah ditentukan.
    • Mengantisipasi masalah yang akan timbul pada fase ini karena psien mungkin menjadi tergantung pada perawat.
    • Fase ini memungkinkan ingatan pasien pada pengalaman perpisahan sebelumnya, sehingga pasien merasa sunyi, menolak dan depresi. Diskusikan perasaan-perasaan tentang terminasi.

4. Penerapan Komunikasi Therapeutik

Dalam penerapan komunikasi therapeutik diperlukan teknik-teknik tertentu, adapun menurut Purwanto (1994), teknik-teknik dalam komunikasi therapeutik adalah :

  1. Listening ( Mendengarkan )

Merupakan dasar utama dalam komunikasi therapeutik karena dengan mendengar perawat akan mengetahui perasaan pasien. Beri kesempatan lebih banyak kepada pasien untuk berbicara, perawat harus menjadi pendengar yang aktif.

  • Board Opening ( Pertanyaan tebuka )

Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban “Ya” dan “Mungkin” tetapi pertanyaan memerlukan jawaban yang luas, sehingga dapat mengemukakan masalahnya.

  • Resting ( Mengulang )

Perawat mengulangi sebagian pertanyaan pasien dengan menggunakan kata-kata sendiri, yang menunjukkan perawat mendengarkan pembicaraan pasien.

  • Klarifikasi

Menjelaskan kembali ungkapan pikiran yang dikemukakan pasien yang kurang jelas bagi perawat agar tidak terjadi salah pengertian.

  • Refleksi

Refleksi ada dua :

  1. Refleksi untuk memvalidasi apa yang didengar, klasifikasi, ide-ide yang dieksperimentkan pasien dengan pengertian perawat.
  2. Refleksi perasaan, memberi respon pada perasaan pasien terhadap isi pembicaraan agar pasien mengerti dan menerima perasaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.