Penyakit Paru Obstruktif Menahun

Menurut American Thoracic Society, PPOM didefinisikan sebagai suatu gangguan yang ditandai oleh uji arus ekspirasi yang abnormal dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa bulan. Pembatasan ini dimaksudkan untuk membedakan PPOM dengan asma. Obstruksi arus udara mungkin struktural atau fungsional. Obstruksi arus udara yang khusus penyebabnya seperti penyakit yang terbatas pada saluran napas bagian atas, bronkiektasis dan fibrosis kistik tidak dimasukkan. Hipereaktivitas bronkus mungkin ada pada PPOM, seperti terlihat pada perbaikan arus udara setelah diberi inhalasi agonis beta-2 atau perburukan setelah inhalasi metakolin atau histamine.

Terdapat 3 macam kelainan yang tergabung dalam PPOM : emfisema, penyakit saluran  nafas perifer, dan bronkitis kronik. Penderita mungkin hanya mempunyai satu atau semua keadaan ini, tetapi gambaran klinik yang dominan pada PPOM selalu perburukan, atau perlambatan arus udara ekspirasi.

Pada perjalanan PPOM ada beberapa keadaan yang spesifik, yaitu : penyakit ini mengenai orang-orang setengah umur atau tua, sifatnya kronik dan progresif, artinya seorang penderita PPOM akan menderita penyakit ini sepanjang hayatnya, dan dari tahun ke tahun mempunyai kecenderungan akan mengalami perburukan. Oleh karena fungsi utama paru adalah untuk pertukaran gas (respirasi), maka sepak terjang PPOM ini di klinik tidak akan dapat dipahami secara tuntas, kecuali apabila dimiliki pengetahuan yang dalam tentang transportasi gas-gas pernapasan dan pengaturan pernapasan (respiratory gas transport and control of breathing) (FKUI, 1989)

Patofisiologi

Yang paling menonjol pada PPOM adalah perlambatan arus ekspirasi (expiratory flow limitation). Pada bronkitis kronik, perlambatan arus disebabkan oleh meningkatnya tahanan di saluran napas akibat penyempitan saluran napas oleh sekret, sedangkan pada emfisema perlambatan arus disebabkan oleh hilangnya elastisitas (loss of elastic recoil) paru. Meningkatnya resistensi saluran napas dan perubahan elastisitas paru berpengaruh pada distribusi ventilasi dan perfusi di paru. Daerah-daerah paru yang relatif mengalami penurunan ventilasi terhadap perfusi (low V/Q) menyebabkan turunnya kadar PAO2 dan hipoksemi arterial. Apabila PAO2 kurang dari 55 mmHg, pembuluh-pembuluh darah paru akan mengalami spasme untuk mengurangi perfusi pada daerah tersebut di atas agar keseimbangan ventilasi dan perfusi (V/Q balance) secara keseluruhan dapat dipertahankan. Akan tetapi pada gangguan yang luas seperti pada PPOM, spasme yang difusi berakibat naiknya tahanan (resistensi) pembuluh darah paru dan selanjutnya timbul hipertensi pulmoner dan kor pulmonal. Daerah lain di paru relatif mengalami peningkatan ventilasi terhadap perfusi (high V/Q). Adanya ventilasi pada daerah yang tidak mengalami perfusi disebut ruang rugi. Pada orang normal ruang rugi ini mencakup 1/3 tidal volume dan ruang rugi ini disebut ruang rugi anatomik, jadi pada orang normal tidak ada ruang rugi fisiologik. Pada penderita PPOM ruang rugi ini dapat mencari 50% dari tidal volume. Bertambahnya ruang rugi ini berakibat meningkatnya ventilasi semenit dan hasilnya adalah peningkatan work of breathing. Ventilasi semenit terdiri dari ruang rugi dan ventilasi alveolar. Karena ventilasi alveolar menentukan volume gas yang efektif, bertambahnya ruang rugi memerlukan peningkatan ventilasi semenit agar ventilasi alveolar yang sama dicapai. Karena itu untuk produksi CO2 yang sama, turunnya ventilasi alveoli sebanyak 50% akan meningkatkan PCO2 dua kali lipat sehingga terjadilah gagal napas. Faktor-faktor lainnya yang dapat menimbulkan gagal napas antara lain kelelahan otot pernapasan, gangguan hemodinamik, dan perubahan daya dorong pernapasan (respiratory drive) (FKUI, 1989).

 Beberapa Masalah Yang Sering Dijumpai Pada Penderita PPOM

Beberapa masalah yang sering dijumpai pada penderita PPOM di klinik adalah :

  1. Eksaserbasi akut pada PPOM yang berakibat gagal napas, penyebabnya adalah sebagai berikut : a) Infeksi saluran napas, b) Bronkospasme, c) Disfungsi ventrikel kiri, d) Aritmia jantung, e) Emboli paru, f) Pnemotoraks, g) Oversedasi, h) Demam, infeksi di luar saluran napas, i) Menu yang kadar karbohidratnya tinggi, j) Gangguan metabolisme dan elektrolit
  2. Kor pulmonal, Istilah kor pulmonal menunjukkan pembesaran (hipertrofi dan/atau dilatasi) ventrikel kanan sekunder akibat kelainan paru, hembusan toraks (chest bellows), atau pengaturan pernapasan (control of breathing). Kor pulmonal dapat akut atau kronik. Pada kor pulmonal kronik umumnya yang menonjol adalah hipertrofi, dan pada kor pulmonal akut terjadi dilatasi ventrikel kanan.

Perjalanan penyakit kor pulmonal kronik biasanya disela oleh kejadian kor pulmonal akut dan gagal napas terutama pada stadium pra terminal.

Adanya gagal jantung kiri merupakan ancaman yang serius pada penderita kor pulmonal, keadaan ini disebabkan oleh karena bertambahnya volume darah paru dan meningkatnya akumulasi cairan ekstravaskuler, mengakibatkan daya kembang (compliance) paru turun dan tahanan saluran napas naik, karena itu work of breathing meningkat dan pertukaran gas terganggu.

Aritmia jantung yang sifatnya sementara sering terjadi pada kor pulmonal, khususnya bila gagal jantung dan gagal napas terjadi bersamaan. Apabila hipoksemi arterial, hiperkapni, dan asidosis terjadi bersamaan, timbulnya aritmia dapat mengancam kehidupan. Kombinasi ini terlibat sebagai penyebab kematian yang tiba-tiba sewaktu gagal napas akut, agaknya akibat fibrilasi ventrikel. Alkalosis pernapasan yang ditimbulkan oleh hiperventilasi mekanik dan hipokalemi, bisa juga mencetuskan aritmia yang serius.

  1. Retensi CO2

Di klinik harus dibedakan apakah retensi CO2 disebabkan oleh gangguan pada pusat pengaturan napas atau disebabkan oleh karena disfungsi paru yang hebat. Karakteristik penderita-penderita di mana retensi CO2 disebabkan oleh disfungsi paru yang hebat adalah sebagai berikut : a) Sesak napas yang nyata, b) Adanya kelainan fisik yang ditimbulkan oleh PPOM antara lain : pursed lip breathing, retraksi otot sternocleidomastoideus, penggunaan otot-otot bantu napas, hiperinflasi toraks, pulsus paradoksus, c) VIEP 1 di antara 1- 1,5 liter, d) Meningkatnya perbedaan (gradient) PAO2 dan PO2, e) Hiperventilasi (voluntary hiperventilation) tidak dapat mengembalikan PCO2 pada nilai normal, f) Waktu menahan napas pendek (kurang dari 90 detik).

  1. Kelelahan otot-otot pernapasan (respiratory muscle fatigue)

Pada penderita PPOM ada kecenderungan timbulnya kelelahan otot-otot pernapasan, karena tekanan yang diperlukan untuk mempertahankan ventilasi meningkat dan tekanan maksimum yang dihasilkan berkurang. Timbulnya ekspirasi memanjang (Ti/Ttot menurun) mencerminkan adanya usaha untuk mencegah kelelahan otot-otot pernapasan. Apabila ada kelelahan otot-otot pernapasan, tidal volume mengecil dengan akibat pertukaran gas terganggu. Tanda-tanda kelelahan otot-otot pernapasan adalah sebagai berikut: a) napas cepat dan dangkal, b) respirasi yang paradoksal, c) respirasi yang tidak sinkron, d) pada pemeriksaan serial astrup (analisa gas darah arteri) didapatkan kenaikan PCO2 yang tajam (FKUI, 1989).

Diagnosis PPOM

Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan jasmani harus dilakukan pada waktu penilaian pertama pada tiap-tiap individu yang dicurigai menderita PPOM, dan diulang lagi apabila keadaan penderita berubah (misalnya dirawat). Anamnesis terbatas dan pemeriksaan jasmani haruslah dilakukan pada interval waktu tertentu untuk menilai perkembangan penyakit dan respon terhadap obat. Rokok dikenal sebagai penyebab utama PPOM, tetapi gangguan ini tidak semata-mata terjadi pada perokok, dan pada sebagian besar perokok secara klinis tidak terlihat timbul manifestasi penyakit ini. Pemeriksaan jasmani pada penderita menunjukkan adanya tanda hiperinflasi paru, peningkatan kerja otot pernapasan, perubahan pola pernapasan, mengi (wheezes), dan suara napas melemah yang dapat dideteksi dengan stetoskop. Satu atau lebih tanda fisik dapat ditemukan pada penderita PPOM lanjut, namun ada kalanya perubahan-perubahan pada pemeriksaan jasmani samar-samar atau tidak terlihat kendatipun sudah ada perlambatan arus udara yang sedang. Keperluan layanan konsultasi dapat timbul setiap saat apabila ada perburukan keadaan penderita (FKUI, 1989).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.