Gagal Ginjal

Menurut pendapat Brunner dan Suddarth, (2001), Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau melakukan fungsi regulernya.suatu bahan yang biasanya dieleminasi di urine menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan eksresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrin dan metabolik, cairan, elektrolit, serta asam basa. Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik dan merupakan jalur akhir yang umum dari penyakit traktus urinearius dan ginjal.setiap tahun 50.000 orang Amerika meninggal akibat gagal ginjal menetap.  Gagal ginjal dapat dibagi ke dalam 2 (dua)  kelompok yaitu Gagal Ginjal Akut (GGA) dan Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah:

Defenisi Gagal Ginjal Akut (GGA)

Gagal Ginjal Akut adalah hilangnya fungsi ginjal secara mendadak dan hampir lengkap akibat kegagalan sirkulasi renal atau disfungsi tubular dan glomerular, ini dimanifestasikan dengan anuria, oliguria, atau volume urine normal. Penyebab GGA dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok besar yaitu:

  1. Prarenal (hipoperfusi ginjal)
  2. Intrarenal (kerusakan aktual jaringan ginjal)
  3. Pascarenal (obstruksi aliran urine)

Defenisi Gagal Ginjal Kronik (GGK)

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama tiga bulan atau lebih, berdasarkan kelainan patologi atau pertanda kerusakan ginjal seperti kelainan pada pemeriksaan urinealisis, dengan penurunan laju filtrasi glomerulus ataupun tidak, adapun kriteria GGK adalah sebgai berikut:

  1. Kerusakan ginjal 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glumerulus berdasarkan.
    1. Kelainan patologi
    2. Pertanda kerusakan ginjal seperti kelainan pada komposisi darah atau urine atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan.
  2. Laju filtrasi glomerulus <60 ml/min/1,73 m2 selama > 3 bulan dengan tau tanpa kerusakan ginjal.

Menurut pendapat Brunner dan Suddarth (2001), Gagal Ginjal Kronis (GGK) adalah gangguan fungsi renal yang frogresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia.  Menurut Anderson and Wilson, (1995), Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan dari gagal ginjal yang progresif dan lambat, biasanya berlangsung beberapa tahun sedangkan menurut Tisher dan Craig (1997), gagal ginjal kronik adalah jika fungsi ginjal telah berkurang akibat kerusakan parenkim ginjal, gagal ginjal stadium akhir terjadi jika fungsi ginjal yang masih tersisa sangat sedikit, sehingga pasien memerlukan terapi pengganti dalam bentuk dyalisis atau transplantasi.

Anatomi dan Fisiologi Ginjal

Ginjal manusia ada dua dan terletak pada retroperitoneal setinggi vertebra Torakalis 12 sampai Lumbalis 3. Masing-masing ginjal mempunyai panjang 11-12 cm, lebar 5-7,5 cm, dan tebal 2,5-3 cm.  Berat ginjal pada orang dewasa adalah 125-170 gr dan pada wanita dewasa 115-155 gr (Tisher, Craig, 1997).

Darah dialirkan kedalam setiap ginjal melalui arteri renalis dan keluar dari dalam ginjal melalui vena renalis.arteri renalis berasal dari aorta abdominalis dan vena kava inferior.ginjal dengan efisien dapat membersihkan bahan limbah dari dalam darah,dan fungsi ini bisa dilaksanakannya karena aliran darah yang melalui ginjal jumlahnya sangat besar 25 % dari curah jantung. Unit fungsional ginjal adalah nefron yang terdiri atas sebuah glomerolus dan sebuah tubulus.glomerulus membentang dan membentuk tubulus yang terbagi menjadi 3 bagian: Tubulus proksimal, ansa henle dan tubulus distal.  Tubulus distal bersatu untuk membentuk duktus pengumpul. Duktus ini berjalan lewat korteks dan medula renal untuk mengosongkan isinya ke dalam pelvis ginjal (Brunner dan Suddarth, 2001).

Proses pembentukan urin dimulai dengan proses filtirasi plasma pada glomerulus. Perbedaan tekanan yang ada di glomerulus dan kapsul bowmen mengakibatkan terjadinya filtrasi plasma.  Aliran darah ke ginjal adalah 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit, bila hemaokrit normal dari plasma adalah 45% maka aliran plasma ginjal Renal Plasma Flow (RPF) sama dengan 660 ml/menit (0,55 x 660).  Sekitar seperlimanya atau 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsul bowmen, ini dikenal dengan istilah laju filtrasi glomerulus (Anderson and Wilson, 1995).

Perhitungan menunjukkan sekitar 173 liter cairan berhasil disaring melalui glomerulus.  Sel darah merah dan sebagian besar protein tidak dapat difiltrasi di glomerulus karena tertahan oleh pori-pori membrane filtrasi dan kemudian keluar dari kapsul bowmen melalui arteri efferent, yang kemudian bercabang menjadi system portal kapiler yang mengelilingi tubulus.  Setelah filtrasi langkah selanjutnya adalah proses reabsorbsi selektif dari zat-zat yang sudah difiltrasi, proses ini terjadi di tubulus.  Zat yang difiltrasi ini kemudian direabsorbsi melalui pori-pori kecil dinding tubulus sehingga zat tersebut kembali ke dalam peritubular yang mengelilingi tubulus.  Zat ini kemudian dibawa kembali ke jantung melalui vena-vena renalis.

Plasma yang sudah mengalmi proses reabsorbsi dan sekresi di tubulus kemudian dialirkan ke tubulus kolektivus yang bermuara ke kalik minor, selanjutnya diteruskan ke kalik mayor, velpis renal, ureter kandung kemih dan dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.  Untuk mengeluarkan zat-zat  sisa hasil  metabolisme tersebut diperlukan urine ideal kira-kira 1,5 liter per menit.  Jumlah urine minimal yang dianggap cukup untuk mengeluarkan zat-zat toksin adalah sebanyak 600 cc/25 jam, bila kurang dari 200cc/24 jam akan menimbulkan penimbunan sisa hasil metabolisme yang berbahaya (Anderson and Wilson, 1995).

Fungsi Ginjal

Secara garis besar fungsi ginjal dikelompokkan menjadi dua golongan besar yaitu fungsi eksekresi dan fungsi hormonal.  Sebagai fungsi ekskresi ginjal bekerja untuk (Brunner dan Suddarth, 2001) yaitu :

  1. Mengatur volume cairan
  2. Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion K, Cl, Ca dan Fosfat.
  3. Mengatur keseimbangan asam basa cairan yang ada dalam tubuh dan mempertahankan PH urine dengan kisaran 4,8-8,2
  4. Mengekskresikan sisa-sisa metabolisme: ureum, kreatinin, asam urat, zat toksik, obat-obatan dan hasil metabolisme Hb.
  5. Ginjal berfungsi mengeksekresi bahan-bahan kimia asing tertentu (obat-obatan dan sebagainya), hormon-hormon dan metabolit lain, tetapi fungsi ginjal yang paling utama adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstraseluler dalam batas-batas normal, tentu saja ini dapat terlaksana dengan mengubah ekskresi air dan solute, dimana kecepatan filtrasi yang tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan ketepatan yang tinggi. Ginjal juga menghasilkan hormone rennin yang berperan dalam pengontrolan tekanan darah, ginjal juga memproduksi hormone eritropoitin yang berguna dalam pematangan eritrosit pada pembentukan hemoglobin. Ginjal juga penting dalam hubungan degradasi insulin dan pembentukan sekelompok senyawa endokrin yang berarti prostaglandin (Anderson and Wilson, 1995).

Patofisiologi

Urutan peristiwa patofisiologi gagal ginjal dapat diuraikan dari segi hipotesis Bricker atau hipotesis nefron utuh yang menyebutkan bahwa bila nefron terserang penyakit, maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisi nefron yang masih utuh tetap bekerja normal.  Uremia akan timbul jika jumlah nefron sudah sedemikian berkurang sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan lagi.

Penyakit ginjal kronik meskipun terus berlanjut, namun jumlah solute yang diekskresi oleh ginjal untuk mempertahankan nefron yang bertugas melakukan fungsi tersebut menurun secara progresif. Dua adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, sisa nefron yang ada mengalami hipertropi dalam usahanya untuk melaksanakan seluruh beban kerja ginjal, terjadi peningkatan kecepatan filtrasi beban solute dan reabsorbsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh massa nefron yang terdapat dalam ginjal turun di bawah nilai normal (Anderson and Wilson, 1995).

Mekanisme ini berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginajl sangat rendah, namun akhirnya kalau sekitar 75% massa nefron sudah hancur, maka kecepatan filtrasi dan beban solute bagi setiap nefron demikian tinggi sehingga keseimbangan glomeratulus tubulus tidak dapat lagi dipertahankan.         

Gambaran Klinis

Menurut Effendi, (2003), gambaran klinis terbagi atas :

  1. Pasa insufisiensi ginjal atau GGK ringan tidak dijumpai adanya keluhan.
  2. Pada GGK sedang atau mual muntah, sukar tidur, gangguan konsentrasi, kejang-kejang.
  3. Kelainan jasmani, kulit kering, hipertensi sampai dekompensasi kordis, pernafasan kusmaul, fetor uremikum, kesadaran menurun sampai koma.

Diagnosis

Penyakit ginjal dapat dikategorikan berdasarkan penyebab dan kelainan patologik.  Diagnosis pasti sering menimbulkan biopsi ginjal yang meskipun sangat jarang dilakukan tetapi dapat menimbulkan komplikasi, oleh karena itu biopsi ginjal dilakukan pada pasien tertentu yang diagnosis pastinya hanya dapat ditegakkan dengan biopsi ginjal, atau jika diagnosis pasti tersebut akan merubah baik pengobatan maupun prognosis, pada sebagian pasien diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang lengkap dan faktor penyebab yang didapat dari evaluasi klinik dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan pencitraan ginjal (PERNEFRI, 2005).

Pemeriksaan penunjang menurut PERNEFRI (2005), terbagi atas:

  1. Laboratorium
  1. Laju filtrasi glumerulus melalui pemeriksaan kreatinin, ureum, kliren, kreatinin dan radionukleatida.
  2. Etiologi Gagal Ginjal (GG) : melalui analisis urine rutin, mikrobiologi urine, kimia darah, elektrolit dan imunodiagnosis
  3. Pemeriksaan untuk perjalanan penyakit : progresifita, penurunan faal ginjal (ureum, kreatinin, kreatinin klirens) hemopoesis (HG, trombosit, fibrinogen, faktor pembekuan) elektrolit.
    1. Radiologi : foto polos abdomen, USG, nefrotomogram, pielografiantegrade, pielografi, retrograde, mixturating

Penatalaksanaan Gagal Ginjal (GG)

Dalam penatalaksanaan pasien gagal ginjal tidak lepas dari kerjasama berbagai disiplin ilmu, baik dokter, perawat, ahli gizi, pekerja sosial dan lainnya saling bekerja sama dalam penanganan pasien tersebut.  Pemahaman tentang konsep fungsi ginjal dan pengetahuan tentang laju fitral glumerulus sangat penting bagi seorang perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan yang akan diberikan pada pasien dengan GG. Perawat harus mengerti tentang tingkat perubahan yang terjadi dan fungsi ginjalnya yang digambarkan dengan LFG, sehingga dalam merencanakan asuhan keperawatan perawat dapat menyesuaikan intervensi yang akan diambil dengan kebutuhan pasien, sebab pasien GG penatalaksanaannya tidak cukup dengan dialysis saja, perawatan pasien dengan GG harus komprehensif (Anderson and Willson, 1995).

Menurut PERNEFRI (2003), Pada prinsipnya manajemen penyakit GG meliputi  2  (dua) hal utama yaitu :

  1. Mencegah progresivitas kemunduran fungsi ginjal dan mempertahankan sejauh mungkin fungsi ginjal yang masih tersisa.
  2. Mencegah komplikasi akibat penyakit dasar.

Penanganan gagal ginjalnya dan penatalaksanaan konservatif bertujuan untuk mencegah penurunan faal ginjal yang progresif, meringankan keluhan uremia dan mengurangi gejala uremia dengan memperbaiki metabolisme melalui (PERNEFRI, 2003):

  1. Pengaturan cairan dan elektrolit dengan pengontrolan yang ketat terhadap diet cairan melalui:
    • Pengontrolan keseimbangan cairan masuk dengan menerapkan jumlah kebutuhan cairan pasien yaitu sebanyak cairan yang keluar melalui urine dan IWL selama 24 jam
    • Pembatasan pemberian natrium/garam yaitu tergantung dengan jumlah urine, apabila jumlah urine 500 cc/24 jam maka kebutuhan garam adalah 2000 mg Na setara dengan 5 gram NaCl (garam dapur).
    • Pengaturan kebutuhan kalium terantung jumlah urine, kebutuhan dasar kalium apabila pasien anuria adalah 299 mg setara dengan + 51 meq, jika pasien masih mengeluarkan urine 500 cc perhari maka kebutuhan kalium dapat ditambah 500 mg (tambahan kalium untuk urine) cara lain untuk menurunkan nilai kalium adalah mengurangi konsumsi buah dan sayur yang mengandung kalium tinggi.
  1. Pengontrolan tekanan darah dengan obat dan diet
  2. Meningkatkan kenyamanan pasien.

Indikasi penatalaksanaan konservatif (Soeparman, 1987):

  • Pada pasien GGK dan tahap insuplensi ginjal
  • Faal ginjal 10 %-50% atau kretinin serum 2 mg %-10 mg %.

Bila terapi konservatif tidak lagi memadai maka perlu ditingkatkan penanganannya menjadi terapi pengganti ginjal

Terapi pengganti ginjal ada 2 jenis yaitu (PERNEFRI, 2003):

  • Dialisis yang terdiri dari Haemodialisis, dialysis peritoneal dan hemofiltrasi
  • Transplantasi ginjal yang berasal dari donor hidup atau donor jenazah (cadaver).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.