Hemodialisa

Dalam kata kedokteran “Haemo” berarti darah dan dialysis berarti “mencuci”, Haemodialisis ini menggunakan ginjal palsu atau dialisis yang berfungsi untuk mengangkut sisa-sisa metabolisme. Hemodialisa adalah suatu tindakan pengobatan dengan tujuan mengeluarkan sisa metabolisme sisa metabolisme atau koreksi elektrolit darah serta cairan tubuh melalui proses pertukaran antara bahan yang ada dalam darah dengan bahan yang ada dalam dialisat melewati membrane semipermeabel secara difusi atau ultrafiltrasi (RSUP Sardjito, 2003).

Hemodialisa atau cuci darah dengan menggunakan mesin dan ginjal buatan yang bertujuan membuang hasil metabolisme dan cairan yang tidak bisa dikeluarkan dari tubuh karena ginjal gagal manjalankan fungsinya. Hemodialisa merupakan satu bentuk prosedur cuci darah dimana darah dibersihkan melalui ginjal buatan dengan bantuan mesin. Dalam keadaan jalan  Hemodialisa terbagi dalam 3 bagian komponen yaitu (Lumenta, 1992):

  1. Sistem sirkulasi darah
  2. Sistem pencampuran dan sirkulasi dialisat
  3. Sistem buatan (Dialyzer).

Tujuan dilaksanakan Hemodialisa

Adapun tujuan dilaksanakan Haemodialisis adalah sebagai berikut (RSUP Sardjito, 2003):

  1. Agar tercapai berat badan normal, dimana tidak ada cairan yang berlebihan, yang dapat dilihat dari tanda-tanda oedema tubuh dan oedema paru (sesak).
  2. Menunggu fungsi ginjal putih dengan pengobatan atau operasi
  3. Hemodialisa regular atau seumur hidup
  4. Menunggu cangkok ginjal

Indikasi dilakukan Hemodialisa

Menurut Soeparman (1987), indikasi dilakukan Hemodialisa dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Indikasi klinis:
    1. Sindrom uremia yang mencolok (penurunan kesadaran, mual muntah)
    2. Hidrasi berlebihan yang tidak dapat diatasi dengan cara lain
    3. Nafas kusmaul yang tidak dapat diatasi secara medika mentosa.
  2. Indikasi biokimia:
  3. Ureum lebih atau sama dengan 150 mg%
  4. Kalium sama atau lebih besar dari 7 meq/I
  5. Plasma bikarbonat sama atau lebih rendah dari 12 meq/I.

Menurut PERNEFRI, (2003), pelaksanaan klinis pedoman yang dapat dipakai adalah sebagai berikut:

  1. TKK/LFG < 10 ml/menit dengan gejala uremia/malnutrisi.
  2. TKK/LFG < 5 ml/menit walaupun tanpa gejala.
  3. Indikasi khusus:
    1. Terdapat komplikasi akut (Edema paru, hiper kalemia, asidosis metabolik berulang).
    2. Pada pasien nefropati diabetik dapat dilakukan lebih awal.

Kontra Indikasi dilakukan Hemodialisa

Menurut PERNFERI (2003), kontra indikasi dilakukan Hemodialisa adalah sebagai berikut :

  1. Tidak mungkin didapatkan akses vaskular pada Hemodialisa (HD) atau terdapat gangguan dirongga peritonium pada CAPD.
  2. Dialisis tidak dapat dilakukan pada keadaan:
    1. Akses vaskular sulit
    2. Instabilitas hemodinamik
    3. Koagulopati
  1. Penyakit alzheimer
  2. Dimensi multi infak
  3. Sindrom hepatorenal.

Prinsip-prinsip Hemodialisa

Prinsip cuci darah adalah menempatkan darah berdampingan dengan cairan pencuci (dialisa) yang dipisahkan oleh suatu membram tipis (membran semi permeable). Membran ini dapat dilalui oleh air, zat sampah dan zat lain, sehingga terjadi proses  yang berpindahnya bahan / zat dan air melalui membran semi periabel.

Dalam kegiatan dialysis menurut Lumenta, (1992), tersebut terjadi 3 proses:

  1. Proses diffusi

Berpindahnya zat karena perbedaan kadar di dalam darah dan di dalam cairan dialisat. Makin tinggi kadar zat di dalam darah makin banyak zat pindah ke dialisat.

  1. Proses ultrafiltrasi

Pindahnya zat dan air karena perbedaan tekenan hidrostatik di dalam darah dan dialisa.

  1. Proses osmosis

Berpindahnya air karena tenaga kimia, yaitu perbedaan osmolalitas darah dan dialisat. Luasnya membran yang memisahkan ruangan/kompartemen darah dari kompartemen dialisat akan mempengaruhi jumlah zat dan air yang berpindah, demikian pula daya saring membram.

Jadwal Hemodialisa

Menurut Lumenta (1992), hemodialisa harus dilakukan pada:

  1. GGA yang terjadi secara mendadak dan dapat disembuhkan kembali penyebab: dehidrasi, pendarahan hebat, keracunan jengkol dll.
  2. GGK apabila sudah ada indikasi yang harus dilakukan tindakan terapi pengganti ginjal (HD) khususnya pada stadium 5 atau gagal ginjal terminal, maka Hemodialisa harus dilakukan seumur hidup.

Menurut Lumenta (1992), Pelaksanaan Hemodialisa terbagi 3 fase adalah sebagai berikut :

  1. Fase persiapan dan permulaan Hemodialisa
  2. Fase Hemodialisa
  3. Fase pengkhiran Hemodialisa

Pada fase permulaan dan pengakhiran terjadi perubahan besar pada volume darah tubuh penderita, hal ini merupakan periode yang cukup penting. Selama Hemodialisa diperhatikan dan dijaga berbagai hal  pada pasien yaitu:

  1. Keluhan-keluhan: sesak, sakit dada, panas, gatal, pusing, mual dan sebagainya.
  2. Tekanan darah
  3. Perdarahan pada sekitar jarum
  4. Berat badan

Komplikasi Terapi Hemodialisa

Menurut Brunner dan Dudarth (2001), komplikasi terapi Hemodialisa adalah sebagai berikut :

  1. Hipotensi

Ini disebabkan oleh rendah, cairan dialisit mengandung asetat, makan pada waktu HD.  Intervensi yang biasa dilakukan: letakkan pasien pada posisi datar, gunakan control ultrafiltrasi pada mesin HD, hindari ditrafiltrasi yang berlebihan hingga di bawah berat badan normal, bolus NaCl 0,9% (100 ml/lebih sesuai kebutuhan). NaCl hipetonik glukosa 40%.

  1. Hipertensi

Disebabkan cairan banyak keluar dan akibatnya tubuh merasa kekurangan cairan atau saat dialisit zat atau obat hipertensi ikut terbuang saat dilakukan dialisis. Intervensi yang kita lakukan biasanya memberi kembali obat hipertensi monitor T/O dan kolaborasi.

  1. Kram otot

Penyebab yang pasti tidak diketahui ada tiga faktor predisposisi yang berperan: hipotensi, pasien dengan target BB kering terlalu rendah, cairan dialisit rendah sodium. Intervensi yang biasa dilakukan turunkan UFR mendekati nol, dapat juga diberikan NaCl 0,9 % 100 ml atau lebih.

  1. Mual dan muntah

Merupakan peristiwa yang sering terjadi dan banyak faktor penyebabnya. Gatal-gatal Sering ditemukan pada pasien dengan kadar kalium yang tinggi. Intervensi: pemberian anti histamine, bila gatal-gatal sudah berlangsung lama untuk melembabkan dan melicinkan kulit dapat diberikan emolien (pelembab).

  1. Emboli udara

Merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien.

  1. Nyeri dada

Dapat terjadi karena oksigen menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh.

  1. Pruritis

Dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk-produk akhir metabolisme meninggalkan kulit.

Frekuensi tindakan Hemodialisa

Durasi HD disesuaikan dengan kebutuhan individu, tiap HD dilakukan 4-5 jam dengan frekuensi 2 x perminggu. Frekuensi HD dapat diberikan 3 x perminggu dengan durasi selama 4-5 jam, idealnya 10-15 jam/minggu (PERNEFRI, 2003).

Berdasarkan pengalaman selama ini, frekuensi 2 x perminggu telah menghasilkan nilai yang mencukupi (>1,2) dan pasien juga merasa lebih nyaman. Selain itu dana asuransi kesehatan yang tersedia juga terbatas dan hanya dapat menanggung HD dengan frekuensi rata-rata 2 x perminggu. Oleh karena itu di Indonesia biasa dilakukan HD 2 x perminggu selama 4-5 jam dengan memperhatikan kebutuhan individu (PERNEFRI,  2005).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.