Demam (Peningkatan Suhu Tubuh)

1.Pengertian

Peningkatan suhu tubuh atau demam dapat juga disebabkan oleh penyakit infeksi yang umumnya menimbulkan gejala.  Demam didefinisikan sebagai suhu tubuh di atas 37,5 0C dan bisa menjadi tanda ada sesuatu yang serius. Orang tua disarankan untuk mencari pertolongan medis jika suhu tubuh anak mencapai 40 0C. Terutama bila anak tampak mengantuk, menggigil, atau kesulitan bernapas. Suhu tubuh yang meningkat di atas 38 0C sangat berpotensi mengakibatkan kejang atau step.  Kejang yang berlangsung lama dan sering berulang pada usia balita beresiko menjadi epilepsi (ayan), mengakibatkan gangguan tingkah laku, dan penurunan intelegensia anak (Ismail, 2012).

Secara umum, suhu badan diatas 37.5 0C dinyatakan sebagai demam. Demam yang berlangsung kurang dari satu minggu biasanya berhubungan dengan adanya suatu infeksi, namun bila suhu terus menanjak dan kita terserang demam, bukan tidak mungkin ada penyakit lain yang harus diatasi. Umumnya suhu 370C merupakan suhu tubuh yang dianggap sehat dan normal walaupun bisa naik atau turun satu derajat. Namun, kalau suhu tubuh terus meninggi hingga lebih 370C, itu artinya kita sedang dilanda demam (Dyah, 2006).

Demam biasanya merupakan tanda bahwa kita menderita penyakit tertentu. Karena itu, demam merupakan alat pemberitahuan bagi kita sendiri. Biasanya gejala demam adalah bagian kepala, leher dan tubuh terasa panas, sedangkan kaki dan tangan dingin. Karena itu, kalau kita memeriksa seseorang apakah dia demam atau tidak, rabalah bagian kepala atau lehernya, gejala lain yang bisa terjadi adalah kedinginan yang amat disertai dengan menggigil bila suhu meningkat cepat peningkatan suhu biasanya merupakan tanda bahwa tubuh sedang terinfeksi oleh sesuatu. Setelah infeksi semula, suhu tubuh akan menurun lagi, infeksi biasa terjadi akibat bakteri atau virus yang masuk dalam tubuh (Susanto, 2007).

Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38 0C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 0C atau lebih.  Biasanya, serangan kejang yang berulang dapat terjadi pada suhu yang lebih rendah dari serangan sebelumnya (Ismail, 2012).

a.Batasan Suhu Tubuh Balita

Batasan Suhu Tubuh Balita yang terjadi pada balita dapat dilihat sebagai berikut (Lusia, 2011)

  • Suhu Tubuh Normal

Kita mengatakan bahwa suhu badan itu normal kalau panas tubuhnya berkisar antara  36,5˚ C – 37,5˚ C. Suhu tubuh normal dengan pengukuran aksila, menurut metode pengukuran Canadian Paediatric Society (2004) adalah 35,5˚C -37,5˚C derajat C.

  • Sub Febris

Suhu tubuh seseorang antara 37,5˚C – 38˚C dikatakan mengalami kenaikan suhu tubuh sub febris.

  • Demam

Suhu tubuh seseorang yang lebih dari 38˚C menunjukkan bahwa orang bersangkutan mengalami demam.

b.Pengukuran Suhu Tubuh

Alat pengukur suhu tubuh ini memang sebaiknya tersedia di rumah. Sayangnya belum semua orangtua paham cara menggunakan alat ini. Nah, penjelasan berikut ini barangkali dapat menjadi panduan  untuk lebih megenali termometer. Termometer ini terdiri dari atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa  dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu pengguna saat itu (Lusia, 2011).

Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan.Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya akurat.  Sesuai  dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat. Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh.Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah lantaran digigit (Lusia, 2011). Berikut langkah-langkah menggunakan termometer: (Lusia, 2011).

  • Mengukur Suhu Ketiak
    1. Termometer harus menyentuh kulit (tengah ketiak/lipatan ketiak) sehingga baju  si kecil sebaiknya dilepas.
    2. Pangku/baringkan si buah hati/penderita dan kepitkan termometer di ketiaknya.
    3. Rapatkan lengan penderita ke tubuhnya agar termometer terjepit kuat dan silangkan lengan bawah penderita selama 3-5 menit.
    4. Temperatur ketiak biasanya 1/2 derajat lebih rendah dari suhu oral.
  • Mengukur suhu melalui mulut (oral):

Meletakkan ujung termometer oral di samping frenulum (tali lidah) di bawah lidah.

  1. Bila anak baru saja makan atau minum,sehabis melakukan kegiatan yang melelahkan tunggu sekitar 20-30 menit. Pada pasien dewasa tunggu juga sekitar 20-30 menit setelah merokok.
  2. Pastikan tidak ada makanan di mulutnya.
  3. Letakkan ujung termometer itu di bawah lidahnya ( di samping kiri atau kanan kantung dasar lidah/di samping frenulum) selama 3 menit.
  4. Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
  5. Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
  6. Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
  7. Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya atau digitnya.
  8. Dapat pula digunakan termometer 1 x pakai.
  9. Tidak untuk anak di bawah 5 tahun, pasien tidak sadar atau gelisah.
  • Mengukur suhu melalui dubur (rektal):
    1. Pastikan posisi air raksa pada termometer dalam keadaan normal.
    2. Lumasi ujung termometer dengan jelly yang larut  air atau vaselin. Sekitar 2,5-3,5 cm untuk orang dewasa dan 1,2-2,5 cm untuk bayi/anak-anak.
    3. Baringkan si kecil di pangkuan atau di atas tempat yang rata.Suruh menarik nafas(dewasa dan anak  ).
    4. Masukkan ujung termometer secara perlahan ke dalam dubur sejauh 3,5 cm pada orang dewasa dan 1,2-2,5 cm pada bayi atau sampai ujung termometer yang dilapisi logam masuk semua ke dalam lubang dubur.Namun bila terasa ada sesuatu yang menahan, jangan masukkan lebih jauh dari 1 cm. Usahakan  agar gerakan si kecil tidak mengganggu pengukuran.
    5. Tenangkan si anak dengan mengajaknya bicara sambil. Anda memegang termometer tersebut.
    6. Setelah 2-3 menit pada orang dewasa dan 5 menit untuk anak-anak, cabut termometer  dengan hati-hati dan lihat angka yang menunjukkan suhunya.

c.Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh

Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang terletak diantara dua hemisfer otak. Fungsi hipotalamus adalah seperti termostart. Suhu yang nyaman merupakan set point untuk operasi system pemanas. Penurunan suhu lingkungan akan mengaktifkan pemanas, sedangkan peningkatan suhu akan mematikan system pemanas tersebut. Pada umumnya penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun tidak persis sama seperti sinyal nyeri. Sewaktu memasuki medulla spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus lissaueri sebanyak beberapa segmen diatas atau dibawah dan selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II, III radiks dorsalis sama seperti untuk rasa nyeri. Sesudah ada percabangan satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis maka sinyal akan menjalarkan keserabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sesi berlawanan dan akan berakhir di (1) area reticular batang otak dan (2) kompleks vetro basal thalamus. Setelah dari thalamus sinyal di hantarkan ke hipotalamus. Dihipotalamus mengandung dua pusat pengaturan suhu. Hipotalamus bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasodilatasi dan karenanya panas menguap. Sedangkan hipotalamus bagian posterior berespon terhadap penurunan suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan panas lebih lanjut (Potter & Perry, 2010).

d.Produksi Panas dan Kehilangan Panas Tubuh

  • Produksi panas

Termoregulasi bergantung pada fungsi normal dari proses produksi panas. Panas yang dihasilkan tubuh adalah hasil sampingan metabolisme yaitu reaksi kimia dalam seluruh sel tubuh. Makanan merupakan sumber utama bahan bakar untuk metabolisme. Aktivitas yang memburuhkan reaksi kimia tambahan akan meningkatkan laju metabolic yang juga akan menambah produksi panas. Saat metabolism menurun, panas yang dihasilkan juga lebih sedikit. Produksi panas terjadi saat intirahat, gerakan volunter dan termogenesis tanpa mengigil (Potter dan Perry, 2010).

  1. Metabolism basal berperan terhadap panas yang dihasilkan oleh tubuh saat istirahat total. Laju metabolism basal atau basal metabolic rate (BMR) biasanya bergantung pada area permukaan tubuh. BMR juga dipengaruhi oleh hormone tiroid. Dengan merangsang penguraian glukosa dan lemak, hormone tiroid meningkatkan reaksi kimia dalam sel tubuh. Saat hormone tiroid disekresikan dalam jumlah besar, BMR dapat meningkat 100%. Ketiadaan hormone tiroid akan menurunkan BMR menjadi setengahnya, sehingga terjadi pengurangan produksi panas. Hormen seks testoteron meningkatkan BMR sehingga pria memiliki BMR yang lebih tinggi dari pada wanita.
  2. Gerakan volunter sperti aktivitas otot pada olahraga membutuhkan energi tambahan. Laju metabolic meningkat saat aktivitas, terkadang meningkatkan produksi panas hingga 50 kali lipat.
  3. Menginggil adalah respon tubuh involunter terhadap perbedaan suhu dalam tubuh. Gerakan otot lurik saat menginggil membutuhkan energi yang cukup besar. Menginggil menghasilkan produksi panas 4 sampai 5 kali lipat dari normal. Panas ini akan membantu menyeimbangkan suhu tubuh sehingga menginggil akan berhenti.
  4. Termogenesis tanpa mengigil terjadi pada neonatus. Neonatus tidak dapat mengigil sehingga jaringan coklat vasukuler yang ada saat lahir dimetabolisme untuk produksi panas. Jaringan tersebut sangat terbatas jumlahnya.
  • Kehilangan panas tubuh

Struktur kulit dan pajanan terhadap lingkungan mengakibatkan kehilangan panas normal yang konstan melalui radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi (Potter & Perry, 2010).

  1. Radiasi adalah transfer panas dari permikaan suatu objek ke permukaan objek lainnya tanpa kontak langsung antara keduanya. Panas pada 80% area luas permukaan tubuh diradiasikan ke lingkungan.
  2. Konduksi adalah transfer panas dari dan melalui kontak langsung antara dua objek. Benda padat, cair dan gas mengonduksikan panas melalui kontak. Saat kulit yang hangat menyantuh objek yang lebih dingin, panas akan hilang.
  3. Konveksi adalah transfer panas melalui garakan udara, contohnya adalah kipas angin. Kehilangan panas konveksi meningkat jika kulit yang lembab terpapar dengan udara yang bergerak.
  4. Evaporasi adalah transfer energy panas saat cairan berubah menjadi gas. Tubuh kehilangan panas secara continue melalui evaporasi. Sekitar 600-900 cc air tiap harinya menguap dari kulit dan paru-paru sehingga terjadi kehilangan air dan panas.
  5. Patofisiologi Demam

Subtansi yang dapat menimbulkan demam disebut pirogen. Ada dua macam pirogen, yaitu pirogen endogen yang dibentuk oleh sel-sel tubuh sebagai respons terhadap stimulus dari luar (misal: toksin), dan pirogen eksogen yang berasal dari luar tubuh. Pada tahun 1948, dr. Paul Beeson menemukan bahwa demam timbul adanya produk sel peradangan hoepes yang merupakan sumber utama pirogen endogen. Belakangan ini, terbukti bahwa fagosit mononuclear merupakan sumber utama pirogen endogen dan bahwa bermacam-macam produk sel mononuclear dapat menjadi mediator timbulnya demam (Woro, 2006).

http://layya.net

http://lubmazal.com

http://lumalila.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.