Konsep Anak

  • Pengertian

Anak adalah individu yang unik dan bukan orang dewasa mini. Anak juga bukan merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat dinilai secara sosial ekonomi melainkan masa depan bangsa yang berhak atas pelayanan kesehatan secara individual. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, 2004:14).

Kebutuhan fisik/biologis anak mencakup makan, minum, udara, eliminasi, tempat berteduh dan kehangatan. Secara psikologis anak membutuhkan cinta dan kasih sayang, rasa aman dan bebas dari ancaman. Anak membutuhkan disiplin dan otoritas untuk menghindari bahaya, mengembangkan kemampuan berpikir dan bertindak mandiri. Secara sosial anak membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasinya untuk berinteraksi dan mengekspresikan ide/pikiran dan perasaannya, sedangkan secara spiritual anak membutuhkan penanaman nilai agama dan moral serta nilai budaya sebagai anggota masyarakat timur (Supartini, 2004:05).

Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berfikir bagi seorang perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan anak terhadap klien anak maupun keluarga. Perspektif keperawatan anak mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak, dan peran perawat anak (Supartini,2004:2)

  • Klasifikasi Anak

Menurut Sacharin (1999:80), anak-anak dapat dikelompokkan dalam lima kategori :

  1. Bayi (0 sampai 6 bulan)
  2. Anak mulai berjalan/todler (6 bulan sampai 3 tahun)
  3. Anak-anak Prasekolah (3 sampai 5 tahun)
  4. Anak sekolah (5 sampai 12 tahun)
  5. Remaja (12 sampai 18 tahun)
  • Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak

Terdapat berbagai pandangan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut ini akan diuraikan teori perkembangan psikoseksual, psiko sosial, kognitif, dan perkembangan moral (Supartini,: 2004).

  1. Perkembangan Psikoseksual (Freud)

Freud mengemukakan bahwa perkembangan psikoseksual anak terdiri atas :

  1. Fase Oral (0 sampai 11 bulan)

Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar berpusat kepada aktivitas oral, seperti menghisap, menggigit, mengunyah, dan mengucap. Hambatan atau ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan oral akan mempengaruhi fase perkembangan berikutnya.

  1. Fase Anal (1 sampai 3 tahun)

Selama fase ke dua, yaitu menginjak tahun pertama sampai tahun ke tiga, kehidupan perpusat  pada kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot sfingter. Anak senang menahan feses, bahkan bermain dengan fesesnya sesuai dengan keinginannya. Dengan demikan, toilet training adalah waktu yang tepat dalam periode ini.

  1. Fase Falik (3 sampai 6 tahun)

Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitive. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin. Sering sekali anak sangat penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya berkaitan dengan perbedaan ini. Orang tua harus bijak dalam memberikan penjelasan tentang hal ini sesuai kemampuan perkembangan kognitifnya agar anak mendapatkan pemahaman yang benar. Selain itu untuk memahami indentitas gender. Secara psikologis pada fase ini mulai berkembang super ego, yaitu anak mulai berkurang sifat ego sintrisnya.

  1. Fase Laten (6 sampai 12 tahun)

Selama periode laten anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk mengeksporilasi pengetahuan dan pengalaman melalui aktivtas fisik dan social. Pada awal fase laten, anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin perempuan, dan anak laki-laki dengan anak laki-laki pertanyaan anak tentang seks semakin banyak mengarah system reproduksi. Dalam hal ini orang tua harus bijak sana meresponnya.

  1. Fase Genita (12 sampai 18 tahun)

Tahapan akhir masa perkembangan menurut freud adalah tahapan genital ketiaka anak mulai masuk fase purbertas denagn adanya proses kematangan organ reproduksi dan produsi hormone seks.

  1. Perkembangan psikososial (Erikson)

Pendakatan erikson dalam membahas proses perkembangan anak adalah dengan menguraikan lima tahapan perkembangan psiko sosial yaitu :

  1. Percaya versus tidak percaya (0 sampai 1 tahun)

Penanaman rasa percaya adalah hal yang sangat mendasar pada fase ini. Terbentuknya kepercayaan diperoleh dari hubungan dengan orang lain dan orang ynag opertama berhubungan adalah orang tuanya, terutama ibunya. Belain cinta kasih ibu dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan dasar anak yang konsisten terutama pemebrian makan di saat anak lapar dan haus adalah sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya ini. Sebaliknya, anak mengembangkan rasa tidak percaya pada orang lain apabila pemenuhan dasar tersebut tidak terpenuhi.

  1. Otonomi versu rasa malu dan ragu (1 sampai 3 tahun)

Perkembangan otonomi berpusat kepada perkembangan anak untuk mengontrol tubuh dan lingkungannya. Anak ingin melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya sendiri dengan kemampuan yangsudah mereka miliki, seperti berjala, memenjat. Pada fase ini anak akan meniru perilaku oarng lain disekitarnya dan hal ini merupakn prses belajar. Sebaliknya, prasaan malu dan ragu akan menimbul apabila anak merasa dirinya kerdil atau saat mereka dipaksa oleh orang tuanya untuk berbuat yang dikehendakinya.

  1. Inisiatif versus rasa bersalah (3 sampai 6 tahun)

perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui inderanya. Anak mengembangkan keinginannya dengan cara eksplorasi terhadap apa yang ada disekelilingnya. Hasil akhir yang diperoleh adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul pada anak tidka mampu berprestasi sehingga tidak merasa tidak puas atas perkembangan yang tidak tercapai.

  • industry versus inferiority (6 sampai 12 tahun)

Anak akan belajar bekerjasama dan bersaing dengan anak lainya melalui kegiatan yang dilakukan baik dalam kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama. Otonomi mulai berkembang pada anak pada fase ini. Prasaan sukse dicapai anak dengan dilandasi adanya motivasi internal untuk beraktifitas dengan mempunyai tujuan. Kemampuan anak untuk berinteraksi social lebih luas dilingkungan nya dapat memvasilitasi perkembangan perasaan sukses (sense of industry) tersebut. Perasaan tidak adekuat dan rasa interior atau rendah diri akan berkembang apabila anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungan dan anak tidak berhasi memenuhi.

  • Identitas dan keracuan peran (12 sampai 18 tahun)

Pada fase ini anak remaja akan berusha untuk menyesuaikan perannya sebagai anak menuju dewasa. Indentitas diperoleh bila ada kepuasan yang dipoeroleh dari orang tua atau tempat ia berada, yang membantunya melalui proses pencarian indentitas diri sebagai anak remaja, sedangkan ketidakmampuan dalam menghadapi knflik akan menimbulkan keracuan peran yang harus dijalankan.

  • Perkembangan Kognitif (Piaget)

Perkembangan kognitif dibahas berdasarkan pada tahapan-tahapan yaitu :

a.Tahap sensoris-motorik (0 sampai 2 tahun)

Mengisap adalah ciri utama pada perrilaku bayai dan berkembang sekalipun tidak menyusu. Bibirnya bergerak gerak seperti sedang menyusu. Bayi belajar dan mengembangkan kemampuan sensoris- motorik dengan dikondisikan oleh lingkungannya pada tahap ini, anak mengembangkan aktivitasnya dengan menunjukan perilaku sederhana yang dilakukan berulang ulang untuk meniru perilaku tertentu dari lingkungannya.

b.Praoperasional (2 sampai 7 tahun)

Pada anak usia 2 sampai 3 tahun, anak berada di antara sensoris-motorik pra operasional, yaitu anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial and error. Dan menginterprestasi benda atau kejadian. Anak prasekolah 3 sampai 6 tahun mempunyai tugas menyiapkan diri memasuki dunia sekolah. Anak pra sekolah berada pada fase peralihan antara preconceptual dan intutiive thought. Pada face preconceptual, anak sering menggunakan satu istilah untuk beberapa orng yang punya ciri yang sama,seperti menyebut nenek untuk setiap wanita tu,sedangkan fase intuitive thought , anak sudah bisa memberi alasan pada tindakan yang dilakukannya.

c,Concrete oprerational (7 sampai 11 tahun)

Pada usia ini, pemikiran meningkat atau bertambah logis dan koheren. Anak sudah dapat berfikir konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu serta menyadari kegiatan yang dilakukan berulang ulang, tetapi pemahamannya belum mendalam, selanjutnya akan seakin berkembang di akhir usia sekolah atau awal masa remaja.

d.Formal operation (11 sampai 15 tahun)

Tahapan ini ditunjukan dengan karekteristik kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan kemampuan untuk fleksibel terhadap lingkungannya. Anak remaja dapat berfikir dengan pola pikir logis membuat mereka mammpu berfikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya dan berfikir untuk memecahkan masalah.

  • Perkembangan Moral (Kohlberg)

Kohlberg membahas perkembangan anak berdasarkan perkembangan moral anak yaitu, fase preconfesional, anak belajar baik dan buruk, atau benar atau salah dan melalui budaya sebagai dasar dealam peletakan nilai moral, fase konfensional, anak berorientasi pada makna hubungan interpersonal dengan kelompok, sudah mampu bekerjasam dengan kelompok serta mempelajari dan mengadopsi norma yang ada dalam kelompok selain norma dalam lingkungannya keluarganya. Fase postkonfesional, anak usia remaja telah memiliki prinsip dalam membuat pilihan, menempatkan nilai budaya, hukum, dan perilaku yang tepat dan menguntungkan masyarakat sebagai sesuatu yang baik.

http://www.layya.net

http://www.lumalila.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.