Hospitalisasi

Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali kerumah. Selama proses tersebut anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut berbagai peneliti ditunjukan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stres (Supartini, 2004:188).

Pemindahan dari perawatan di rumah ke perawatan di rumah sakit menimbulkan masalah tersendiri, antara lain karena perbedaan kualitas, larangan (peraturan) dan disiplin. Dirawat secara tiba-tiba misalnya karena sakit atau kecelakaan menimbulkan trauma tersendiri. Adapun alasan lain anak dirawat yakni karena gangguan organis yang jelas, sesuatu yang mudah terlihat, misalnya karena patah kaki atau penyakit lain, gangguan non spesifik seperti muntah-muntah,sakit lambung, dan kejang-kejan, faktor psikogenik misalnya tidak mau makan (anorexia nervoda). Di sini anak harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru, berbaring di tempat tidur, menghadapi perawat dan dokter yang belum dikenalnya.

Pelayanan yang diberikan di rumah sakit biasanya bervariasi, biasanya klien datang kerumah sakit untuk menentukan diagnosa, menerima pengobatan, dan tetap dirawat dirumah sakit sampai mereka hampir sembuh sepenuhnya. (Potter dan Perry,2005:41).

Bentuk-bentuk gangguan psikologis pada anak yang di hospitalisasi: (Sacharin, 1999:80)

  1. Regresi

Gejala regresi yaitu respon kemunduran perkembangan anak kedalam stadium sebelumnya, dan yang paling menonjol adalah hilangnya kemampuan mengendalikan otot spingter sehingga anak menjadi kembali ngompol dan buang air besar yang tidak terkontrol. Selain itu anak mengalami kehilangan kemampuan berbicara dan keinginan untuk di gendong secara berlebihan. Kondisi seperti ini dapat berlangsung beberapa jam, beberapa hari, dan bervariasi tingkat keparahannya.

  1. Agresi

Perilaku agresi merupakan respon alamiah terhadap frustasi dan perasaan tersinggung. Selama di rumah sakit, anak merasa tidak mungkin untuk menyatakan agresinya oleh karena itu anak menimbun perasaan ini dan melepaskannya dirumah.

  1. Mimpi buruk dan gangguan tidur

Hal ini juga merupakan respon terhadap stres. Anak merasa takut akan terulang pengalaman yang sama atas tindakan keperawatan di rumah sakit. Tindakan tersebut yang menimbulkan rasa sakit, perlukaan, dan tindakan lainnya yang terasa asing bagi anak.

  1. Reaksi penolakan dan rasa takut

Anak cenderung menunjukkan reaksi penolakan dan rasa takut yang berlebihan bila didekati perawat, apalagi melihat peralatan yang asing baginya. Pada anak tertentu dapat menunjukkan reaksi bermusuhan, menangis dan berteriak

  • Stresor Pada Anak Yang Dirawat di Rumah Sakit

Sebagian besar stres yang terjadi pada anak periode pra sekolah adalah cemas karena perpisahan dengan lingkungan yang dirasakannya aman (Nursalam, 2004:18) Respon perilaku anak akibat perpisahan selama hospitalisasi dibagi dalam 3 tahap yaitu :

  1. Tahap protes

Tahap ini dimanivestasikan dengan menangis kuat, menjerit, dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif, seperti menendang, menggigit, memukul, mencubit, mencoba untuk membuat orang tuanya tetap tinggal dan menolak perhatian orang lain. Secara verbal, anak menyerang dengan rasa marah seperti mengatakan “pergi”. Perilaku tersebut dapat berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.

  1. Tahap putus asa

Pada tahap ini anak tampak tegang, tangisnya berkurang, tidak aktif, kurang berminat untuk bermain, tidak ada nafsu makan, menarik diri, tidak mau berkomunikasi, sedih, apatis dan regresi.

  1. Tahap menolak

Pada tahap ini secara samar-samar anak menerima perpisahan, mulai tertarik dengan apa yang ada disekitarnya dan membina hubungan dangkal dengan orang lain dan pada tahap ini anak mulai kelihatan gembira.

  • Kehilangan Kendali

Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak akan kehilangan kebebasan pandangan egosentrisnya dalam mengembangkan otonominya. Hal ini akan menimbulkan regresi. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan negativistis, terutama anak akan menjadi cepat marah dan agresif. Jika ketergantungan dalam waktu jangka lama maka anak akan kehilangan otonominya dan pada akhirnya akan menarik diri dari hubungan inter personal (Nursalam, 2005:19).

  • Upaya Meminimalkan Stres Atau Penyebab Stres Hospitalisasi

Upaya meminimalkan stres dapat dilakukan dengan cara mencegah atau mengurangi dampak perpisahan, mencegah perasaan kehilangan kontrol dan mengurangi atau meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri (Supartini, 2004:196). Untuk mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan dapat dilakukan dengan cara :

  1. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak dengan cara membolehkan mereka untuk tinggal bersama anak selama 24 jam (rooming in).
  2. Jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat dengan maksud mempertahankan kontak antara mereka.
  3. Modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti dirumah, diantaranya dengan membuat dekorasi ruang yang bernuansa anak.

Untuk mencegah kehilangan kontrol, dapat dilakukan dengan cara :

  1. Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif terhadap petugas kesehatan. Apabila anak harus diisolasi, lakukan modifikasi lingkungan sehingga isolasi tidak terlalu dirasakan oleh anak dan orang sua, pertahankan kontak antara orang tua dan anak terutama untuk mengurangi stres.
  2. Buat jadwal kegiatan untuk prosedur terapi, latihan, bermain, dan aktifitas lain dalam perawatan untuk menghadapi perubahan kebiasaan atau kegiatan sehari-hari.
  3. Fokus intervensi keperawatan pada upaya untuk mengurangi ketergantungan dengan cara memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan asuhan keperawatan.
  • Memaksimalkan Manfaat Hospitalisasi Anak
  1. Membantu perkembangan orang tua dan anak dengan cara memberi kesempatan orang tua mempelajari tumbuh kembang anak dan reaksi anak terhadap stresor yang dihadapi selama dalam perawatan di Rumah sakit.
  2. Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang tua. Untuk itu, perawat dapat memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak, terapi yang didapat dan prosedur keperawatan yang dilakukan pada anak, tentunya sesuai dengan kapasitas belajarnya.
  3. Untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan memberi kesempatan pada anak mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain dan percaya diri. Berikan selalu penguatan yang positif dengan selalu memberi pujian atas kemampuan anak dan orang tua serta dorong terus untuk meningkatkan kemampuannya.
  4. Memfasilitasi anak untuk tetap menjaga sosialisasinya dengan sesama pasien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Berikan kesempatan padanya untuk saling kenal dan membagi pengalamannya, demikian juga interaksi dengan petugas kesehatan dan sesama orang tua harus difasilitasi oleh perawat, karena selama di Rumah Sakit orang tua dan anak mempunyai kelompok sosial yang baru (Supartini, 2004:195).
  • Mempersiapkan Anak Untuk Mendapat Perawatan di Rumah Sakit

Persiapan anak sebelum dirawat di rumah sakit didasarkan pada adanya asumsi bahwa ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui akan menjadi ketakutan yang nyata. Pada tahap sebelum masuk rumah sakit dapat dilakukan dengan menyiapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak dan jenis penyakit serta peralatan yang diperlukan, apabila anak harus dirawat secara berencana 1-2 hari maka sebelum dirawat diorienasikan dengan situasi rumah sakit dengan bentuk miniatur bangunan rumah sakit.

Pada hari pertama dirawat lakukan tindakan dengan mengenalkan perawat’ dan dokter yang merawatnya, orientasikan anak dan orang tua pada ruang rawat yang ada beserta fasilitas yang dapat digunakannya, kenalkan dengan pasien anak lain yang akan menjadi teman sekamarnya, berikan identitas pada anak misalnya pada papan nama anak, jelaskan aturan rumah sakit yang berlaku dan jadwal yang akan diikuti, laksanakan pengkajian riwayat keperawatan, dan lakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan lainnya sesuai dengan yang diprogramkan (Supartini, 2004:199).

  • Respon Anak Terhadap Hospitalisasi

Pada mereka yang baru pertama kali mengalami perawatan anak di rumah sakit, dan orang tua yang kurang mendapatkan dukungan emosi serta sosial dari  keluarga, kerabat bahkan petugas kesehatan akan menunjukkan perasaan cemasnya (Supartini, 2004:188).

Respon merupakan suatu reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan dari objek. Dalam beberapa hal respon merupakan penentu yang penting bagi perilaku anak. Sebagai reaksi maka selalu berhubungan dengan dua alternatif yaitu menerima atau menolak, senang atau tidak senang, menurut atau memberontak, menjauhi atau mendekati (Whaley dan Wong, 2002:1133).

Prinsip pendekatan asuhan keperawatan pada pasien anak adalah pemenuhan kebutuhan fisik dengan mencegah terjadinya trauma yaitu dengan melalui psikis (memfasilitasi koping yang konstruktif), dukungan keluarga dalam membantu menciptakan lingkungan keperawatan yang konstruktif dengan mengadakan rooming in dan membantu kedekatan pasien dengan ibu (Nursalam, 2005:8).

Menurut Whaley dan Wong (2002:1134) perawatan di rumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya. Perawatan di rumah sakit mengharuskan adanya pembatasan aktifitas anak sehingga anak merasa kehilangan kekuatan diri. Perawatan di rumah sakit sering di persepsikan anak pra sekolah sebagai hukuman, sehingga anak akan merasa malu, bersalah atau takut. Ketakutan anak terhadap perlukaan yang akan dilakukan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif tetapi anak masih bisa kooperatif dengan perawat jika di beri pengertian dan penjelasan sebelum dirawat inap di rumah sakit. Respon penerimaan anak pra sekolah terhadap hospitalisasi dapat berupa menangis, memegang orang tua, tapi masih bisa menerima tindakan invasif yang akan dilakukan.

Reaksi anak terhadap penyakit dan hospizalisasi didasarkan pada usia perkembangan, pengalaman sebelumnya dengan hospitalisasi. Perawat di banyak rumah sakit yang merawat anak-anak, memiliki alat pengkajian yang membantu mereka mendapatkan, mengobservasi, dan merekam data berdasarkan status kesehatan anak pada saat ini dan dimasa lampau, tingkat perkembangan, rutinitas sehari-hari, dan situasi, kepedulian, serta ketertarikan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan (wong,1995).

  1. Pengaruh Hospitalisasi

Terjadinya perpisahan orang tua dan anak karena harus dirawat di rumah sakit dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak. Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat di rumah sakit, orang tua menjadi stress. Selanjutnya apabila orang tua stress, anakpun menjadi semakin stress (Supartini,2000:8)

  1. Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak
  2. Separation ansiety
  3. Tergantung pada orang tua
  4. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
  5. Tahap putus asa: berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, tidak mau main,menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
  6. Tahap menolak: Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan dengan orang lain dan menyukai lingkungan

http://layya.net

http://lumalila.com

http://lubmazal.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.