Kejang Demam

  • Pengertian

Menurut Ngastiah (2005), kejang demam atau febris convulson ialah bangkitnya kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Menurut Dewi (2006) Kejang adalah suatu gerakan anggota tubuh yang disadari, dan ditimbulkan oleh kontraksi sebagian atau seluruh otot-otot tubuh. Kontraksi otot-otot secara spontan ini tidak dikendalikan dan biasanya disebabkana rangsangan susunan syaraf.

Menurut konsesus statement in febris seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungann dengan febris tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu dan Menurut Soetomenggolo (2006), kejang demam adalah bangkitnya kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Derajat tingginya demam yang dianggap cukup untuk diagnosis kejang demam ialah 380 C atau lebih.

  • Etiologi Kejang Demam

Menurut Mansjoer (2006), etiologi kejang demam hingga kini belum diketahui dengan pasti. Febris sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kadang-kadang febris yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang. Menurut Dewi (2006) kejang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan, misalnya demam tinggi, penyakit tetanus, dan eklamsia. kelainan susunan syaraf pusat (otak), misalnya epilepsi dan kelainan jiwa seperti hysteria, juga dapat menimbulkan kejang.

  • Manifestasi Klinis

Terjadinya  bangkitan  kejang  pada  bayi  dan  anak  kebanyakan bersamaan  dengan  kenaikan  suhu  badan  yang  tinggi  dan  cepat,  yang disebabkan  oleh  karena  infeksi di  luar  susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronchitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan  kejang  biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, fokal atau akinetik (Ngastiyah, 2000).

Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekauan fokal (Mansjoer, 2006). Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf (Soetomenggolo, 2006).

Kejang dapat diikuti oleh hemiparesis sementara, (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa kali. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lebih lama sering sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam ditemukan pada 16 % pasien (Soetomenggolo, 2006).

  • Patofisologi Kejang Demam

Pada kenaikan demam suhu 10 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20 %. Pada seorang anak berumur 3 tahun sikulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa hanya 15 %. Oleh karena itu, kenaikan suhu dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel mapun kemembran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut “neurotan mitter” dan terjadi kejang. Tapi anak mengalami ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya amabang kerja seseorang anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu (Ngastiyah, 2000).

Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsy (Ngastiyah, 2000).

  • Komplikasi

Seperti pasien lain yang kejang, akibatnya dapat terjadi pertukaran misalnya lidah tergigit atau akibat gesekan dengan gigi, akibat terkena benda tajam atau keras yang ada disekitar anak, serta dapat juga terjatuh. Oleh karena itu, setiap anak mendapat serangan kejang harus ada yang mendampinganya. Selain bahaya akibat kejang, resiko kompliksi dapat terjadi akibat pemberian obat anti konvulsan (dapat terjadi di Rumah sakit, misalnya karena kejang tidak segera berhenti padahal telah mendapat fenobarbital kemudian diberikan diazepam maka dapat berakibat apnea. Untuk mengurangi resiko tersebut, setiap pemberian diazepam atau obat anti konvulsan lainnya harus hati-hati. Anti konvulsan apapun yang diberikan, pasien harus tetap diobservasi sejak pemberian sampai beberapa jam kemudian. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kejang demam jika tidak diobati dengan benar dapat menjadi retardasi mental akibat kerusakan otak yang parah. Dapat juga berkembang menjadi epilepsy (Ngastiah, 2005).

  • Frekuensi Kejang Demam

Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali. Kejang demam yang melebihi 4 kali digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetusnya saja (Potter dan Perry, 2005).

  • Klasifikasi Usia Kejang Demam

Kejang demam memang terbagi dua. Maka dari itu, dalam penanganannya perlu diperhatikan apakah anak mengalami kejang demam sederhana atau kompleks. Kejang demam sederhana merupakan kejang yang sangat singkat, biasanya kurang dari 15 menit. Kelakukan kepada anak biasanya kedua tangan dan kaki kaku. Lalu kejang tidak akan berulang dalam waktu 24 jam. Sedangkan, kejang demam kompelks merupakan kejang dengan kadar waktu lebih dari 15 menit. Sifatnya satu sisi tubuh, atau di awali di satu sisi tubuh yang kejang kemudian menjadi kedua tangan dan kaki. Selain itu juga, kejang ini biasanya berulang lebih dari 1×24 jam. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menanyakan ke dokter apa yang harus dilakukan sambil memastikan apakah anak terserang kejang atau bukan, siapkan di rumah obat penghenti kejang, thermometer dan obat demam, beritahukan kepada anggota keluarga bahwa kejang dapat berulang, fahami penggunaan obat kejang, serta catat dan simpan nomor telepon rumah sakit, klinik, atau dokter terdekat (Potter dan Perry, 2005).

Kejang demam terjadi pada 2%-4% populasi anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Usia yang paling sering mengalami kejang biasanya 17-23 bulan. Sekitar 80% di antaranya merupakan kejang demam sederhana dan sisanya 20% kejang demam kompleks (Potter dan Perry, 2005). Pembagian kejang demam sebagai berikut:

  • Kejang demam sederhana(Simple febrile seizure)

Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umum nya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam dan kejang demam ini merupakan 80 % di antara kejang demam.1,3

  • Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)

 Kejang demam dengan salah satu ciri berikut:

  1. Kejang lama > 15 menit
  2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
  3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
  • Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada kejadian kejang demam yang pertama. Pada bayi-bayi kecil, sering kali gejala-gejala meningitis tidak elas sehingga fungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan.

Elektroensefalografi (EEG) ternyata kurang mempunyai nilai. Prognostik, terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien febris biasa. Pemeriksaan labolatorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi (Ngastiyah, 2005).

  • Diagnosa Banding

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang harus difikirkan apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat (otak). Kelainan di dalan otak biasanya infeksi, misalnya meningitis, ensifaitis, abses otak, oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak. Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan cairan serebrospinal. Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti hemiparesis hingga sukar dibedakan dengan kejang karena prosesintrokranial. Sinkop juga dapat diprovokasi  oleh demam, dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Anak dengan demam tinggi dapat mengalami delirium, menggigil, pucat dan sianosis sehingga menyerupai kejang demam (Soetomenggolo, 1996).

http://layya.net

http://lubmazal.com

http://lumalila.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.