Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

1.Pengertian

Menurut Syahlan (1992) dan Hasan R (1997) BBLR adalah bayi baru lahir (BBL) dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (> 500 gram-2,499 kg). Sedangkan menurut Saifuddin (2001), BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2500 gram.

Menurut WHO (1999) BBLR adalah semua bayi baru lahir dengan berat badannya < 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant.  Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Yayan Akhyar Israr, 2007).

BBLR merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian besar masyarakat yang ditandai dengan berat lahir yang kurang dari 2500 gram. Kejadian BBLR pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama pada masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan pun kurang. Namun kejadian BBLR juga dapat terjadi tidak hanya karena aspek perekonomian, dimana kejadian BBLR dapat saja terjadi pada mereka dengan status perekonomian yang cukup. Dan hal ini terkait adanya pengaruh dari berbagai faktor yang pada penelitian ini mencakup paritas, jarak kelahiran, kadar haemoglobin dan pemanfaatan pelayanan antenatal.

  • Istilah-Istilah dalam BBLR

Menurut Wisnuwardani (2001) istilah-istilah dalam BBLR adalah Berat Lahir (BL) / Birth Weight adalah berat badan baru lahir ditimbang sejak 0-24 jam setelah lahir. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) / Very Low Weight Infant adalah bayi baru lahir dengan berat lahir antara 1000-1499 gr. Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR) / Very Very Low Birth Weight Infant / Extremely Low Birth Weight Infant adalah bayi baru lahir dengan berat lahir kurang dari 1000 gr (> 500-999 gram). Bayi Kurang Bulan (BKB) adalah BBL dengan umur kehamilan < 37 minggu (259 hari). Bayi Dismatur / KMK adalah BBL dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan.

Menurut Rustam Mochtar (1998), ada istilah-istilah BBLR yaitu:

  1. Prematuritas Murni

Adalah bayi lahir pada kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.

  1. Small For Date (SFD) atau kecil untuk Masa Kehamilan (KMH) adalah Bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.
  2. Retardasi Pertumbuhan Janin Intrauterin

Adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

  1. Light For Date sama dengan Small for date

Adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

  1. Dismaturitas

Adalah suatu sindroma klinik dimana terjadi ketidak seimbangan antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan.

  1. Large For Date

Adalah bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tua kehamilan

2.Klasifikasi BBLR

Menurut Syaifuddin (2001) ada beberapa kalasifikasi BBLR    yaitu:

  1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 – 2500 Gram
  2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBSR) berat lahir kurang dari 1500 gram.
  3. Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000 gram

Menurut Wisnuwardani (2001), BBLR terdiri dari 2 kelompok bayi yaitu :

  1. Bayi yang kecil untuk masa kehamilan ( KMK) karena pertimbangan bulannya di dalam lahir mangalami hambatan.
  2. Bayi Kurang Bulan (BKB) yang lahir dari persalinan Preterm

3.Etiologi

Menurut Syahlan (1997), BBLR disebabkan oleh beberapa faktor :

  1. Faktor ibu : penyakit ibu seperti : toksemia gravidarum, perdarahan ante partum, trauma phisik dan psikologis, nefritis akut, diabetes melitus.

Umur ibu, misalnya : umur < 20 tahun, umur > 35 tahun, keadaan sosial, seperti ; golongan sosial ekonomi rendah, penyebab lain misalnya : ibu yang perokok; ibu peminum alkohol dan ibu pecandu narkotik.

  1. Faktor janin ; hidrominon, kehamilan ganda dan kelainan kromosom
  2. Faktor lingkungan; tempat tinggal di dataran tinggi, radiasi dan zat-zat racun.

Menurut Zainab (2006) BBLR dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Faktor resiko paritas terhadap kejadian BBLR

Paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesehatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR.

Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan paritas tinggi yang merupakan kelompok berisiko tinggi secara merata terdistribusi pada kelompok kasus dan kontrol (50%) yang memberi interpretasi bahwa paritas yang tinggi tidak mempengaruhi kesehatan ibu sehingga melahirkan bayi dengan berat lahir yang cenderung normal.

Pengaruh paritas terhadap kejadian BBLR berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa paritas merupakan faktor risiko penyebab kejadian BBLR pada bayi. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian statistik yang diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 2,438 sehingga dapat dikatakan bahwa paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR dimana ibu dengan paritas > 3 anak berisiko 2 kali terhadap melahirkan bayi dengan BBLR.

  1. Faktor resiko jarak kelahiran terhadap kejadian BBLR

Menunjukkan bahwa sebahagian besar ibu telah memiliki jarak antara kelahiran pada kategori renggang dan merupakan kelompok dengan risiko rendah (61,6%). Jarak kelahiran renggang pada penelitian ini jika rentang waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya minimal 2 tahun. Sehingga Ibu dengan jarak kelahiran yang rapat lebih banyak dengan kelahiran bayi dengan berat lahir yang tidak tergolong BBLR (54,7%) namun jika ditinjau dari angka pencapai tersebut masih relatif rendah yang memberi indikasi bahwa kejadian BBLR sendiri masih cenderung tinggi yang disebabkan karena jarak kelahiran yang terlalu dekat.

  1. Faktor kadar hemoglobin terhadap kejadian BBLR

Antara status besi ibu hamil dengan status besi janin/bayi telah menarik perhatian dan masih diperdebatkan. Terdapat asumsi bahwa status besi janin maupun bayi baru lahir sangat tergantung pada status besi ibu selama hamil. Namun jika dengan meninjau ibu dengan kadar haemoglobin yang tidak berisiko dengan kadar Hb 11 g/dl keatas lebih banyak tidak mengalami kelahiran bayi dengan BBLR dan menunjukkan peningkatan yang berarti (70,9%). Hal ini memberi indikasi bahwa semakin baiknya kadar Hb dalam darah merupakan wujud nyata terhadap status kesehatan ibu yang optimal dan sekaligus sebagai unsur penunjang dalam pelaksanaan proses persalinan.

  1. Faktor resiko pemanfaatan antenatal care

Pemeriksaan kehamilan yang lengkap dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jika ibu telah melaksanakan pemeriksaan antenatal secara lengkap dan teratur mulai dari pemeriksaan kala 1 (KI) sampai kala 4 (Kala IV). Jadi frekuensi kunjungan ibu ke pelayanan kesehatan pada masa kehamilan harus dilaksanaka minimal 4 kali. Hal ini memberi gambaran akan adanya pengaruh dari faktor lain yang dapat berhubungan dengan penciptaan status gizi ibu yang optimal sehingga juga akan mendukung status kesehatan dan status gizi bayi yang dikandung dan lahir dengan tidak BBLR.

4.Karakteristik BBLR

Menurut Syahlan (1992), karakteristik BBLR adalah sebagai  berikut :

  1. Post Term
    1. Kulit pucat / bernoda, kering, keriput dan lain.
    2. Vernitas kaseosa tipis / tidak ada.
    3. Jaringan lemak di bawah kulit tipis
    4. Bayi tampak gesit, aktif dan kuat
    5. Tali pusat berwarna kuning kehijauan.
  2. Dismatur adalah merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK) bila pre term karakteristik sama dengan bayi prematuritas murni yaitu bayi lahir pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan < 2500 gram.
  3. Prematuritas Murni
    1. Berat badan kurang dari 2500 gram, lingkar kepala kurang dari 33 cm dan lingkar dada kurang dari 30 cm.
    2. Masa gestasi kurang dari 37 minggu
    3. Kulit tipis dan transparan, tampak mengkilat dan licin
    4. Kepala lebih besar dari pada badan.
    5. Lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan.
    6. Lemak subkutan kurang.
    7. Ubun-ubun dan sultura lebar
    8. Rambut tipis dan halus
    9. Tulang rawan dan daur telinga immature
    10. Puting susu belum terbentuk dengan baik.
    11. Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltic usus dapat terlihat
    12. Genitalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita) testis belum turun (pada laki-laki)
    13. Bayi masih pada posisi fetal
    14. Pergerakan kurang dan lemah
    15. Otot masih kurang hipotonik
    16. Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnoe.
    17. Reflek tonik neek lemah.
    18. Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.

5.Penyulit BBLR

Menurut Manuaba (1998) penyulit BBLR adalah :

  1. Bila bayi dengan berat badan lahir rendah dapat mengatasi masih perlu dipertimbangkan kelanjutan penyulit, yaitu gangguan panca indra, gangguan sistem motorik saraf pusat, dapat terjadi hidrosefalus, cerebral palsy.
  2. Mudah terjadi infeksi
  3. Gangguan metabolisme
  4. Asfiksia
  5. Umur hamil saat persalinan.

6.Diagnosis dan Gejala Klinik

Menurut Mochtar R. (1998) diagnosis dan gejala klinik BBLR adalah :

  1. Sebelum bayi lahir
    1. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematuritas dan lahir mati.
    2. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
    3. Pergerakan janin pertama (quickening) terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilan sudah agak lanjut.
    4. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
    5. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion, hyperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum atau perdarahan antepartum.
  2. Setelah bayi lahir
  • Bayi dengan retardasi pertumbuhan intra uterin

Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, serviks kaseosa sedikit atau tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung atau rata, jaringan lemah bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan.

  • Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu

Serviks kaseosa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit tulang tengkorak lunak mudah bergerak, muka seperti boneka (doll like). Abdomen buncit, tali pusat tebal dan segar, menangis lemah, tonus otot hipotonik dan kulit tipis, merah dan transparan.

  1. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya karena itu sangat peka terhadap gangguan pernafasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermi dan sebagainya. Pada bayi kecil masa kehamilan (small for date) alat-alat dan tubuh lebih berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat badan yang sama, karena itu akan lebih mudah hidup di luar rahim, namun tetap lebih peka terhadap infeksi dan hipotermi dibandingkan bayi matur dengan berat badan normal.
  2. Bayi small for date sama dengan bayi retardasi pertumbuhan intra uterin

7. Prognosis BBLR

Menurut Mochtar R. (1998), kematian perinatal pada BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama, menurut Wisnuwardani (2001), resiko kematian perinatal pada BBLR 12 kali lipat bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat lahir normal dan 69% kematian pada masa neonatus disebabkan oleh BBLR.

8.Upaya Pencegahan / Penurunan Kasus BBLR

Menurut Wisnuwardani (2001) bahwa perawatan BBLR sebagaimana yang kita ketahui dilaksanakan di negara maju ataupun di beberapa rumah sakit rujukan di Indonesia membutuhkan biaya yang sangat besar. Maka upaya pencegahan pada masa pra hamil dan masa hamil menjadi amat penting. Pada masa hamil, perawatan antenatal harus mampu mendeteksi dini resiko terjadinya BBLR. Bila resiko ini ada maka penatalaksanaan yang tepat adalah merujuk kasus ke pusat pelayanan yang memiliki kemampuan diagnostik lebih lengkap guna pemeriksaan laboratorium sehingga terapi akan ditentukan dengan baik.

Menurut Mochtar R. (1998), upaya lain yang dapat dilaksanakan untuk mencegah terjadinya BBLR adalah :

  1. Upaya agar melaksanakan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi dan merujuk bila ibu terdapat kelainan.
  2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan BBLR.
  3. Tingkatkan penerimaan keluarga berencana.
  4. Anjurkan lebih banyak istirahat, bila kemudian mendekati aterm atau istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari kehamilan normal.
  5. Tingkat kerjasama dengan dukun yang masih mendapat kepercayaan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.