Ikterus Neonatorum

1.Pengertian

Ikterus (Jaundice) adalah perubahan warna kulit atau sclera mata (normal berwarna putih) menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Ikterus pada bayi yang baru lahir dapat merupakan suatu hal yang fisiologis (normal), terdapat pada 25-50% bayi yang lahir cukup bulan. Tapi juga bisa merupakan hal yang patologis (tidak normal) misalnya berlawanannya Rhesus darah bayi dan ibunya, sepsis (infeksi berat), penyumbatan saluran empedu, dan lain-lain.

Terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah, sehingga kulit (terutama) dan atau sklera bayi (neonatus) tampak kekuningan. Pada orang dewasa, ikterus akan tampak apabila serum biliribun > 2 mg/dL (> 17 mmol/L), sedangkan pada neonatus baru tampak apabila serum biliribun > 5 mg/dL (> 86 mmol/L).

Istilah hiperbilirubinemia adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum biliribun. Hiperbilirubinemia fisiologis yang memerlukan terapi sinar, tetap tergolong non patologis sehingga disebut “excessive Physiological Jaundice”. Digolongkan sebagai hiperbilirubinemia patologis (Non Physiological Jaundice) apabila kadar serum bilirubinemia terhadap usia neonatus > 95‰  menurut Normogam Bhutani.

Ikterus adalah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi lahir yang terbagi menjadi ikterik fisiologis dan ikterik patologis.

2.Klasifikasi Ikterus

Ikterus dapat dibagi menjadi ikterik fisiologis dan ikterik patologis.

  • Ikterik fisiologis

Adalah ikterik yang timbul pada hari kedua dan ketiga, serta dalam keadaan normal kadar bilirubin dalam serum tali pusat adalah sebesar 1-3 mg/dl, dan akan meningkat dengan kecepatan 5-6 mg/dl/24 jam. Terjadinya ikterus fisiologis diduga sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai pembatasan sementara pada konjugasi dan ekresi bilirubin oleh hati.

Adapun tanda-tanda ikterus fisiologis sebagai berikut :

  1. Timbulnya pada hari kedua dan ketiga.
  2. Kadar bilirubin indirek tidak lebih 10 mg persen pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg persen untuk neonatus kurang bulan.
  3. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 50 mg persen perhari.
  4. Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%.
  5. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
  6. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis.
  • Ikterik Patologis

Ikterus patologik yang mendasarinya jika awitan lama atau pola konsentrasi bilirubin serum yang ditemukan secara berulang memperlihatkan variasi, yaitu cukup berarti dari pola ikterus fisiologik.

Adapun tanda-tandanya sebagai berikut :

  1. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.
  2. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
  3. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama pada neonatus kurang bulan (BBLR).
  4. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% hari.
  5. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan (BBLR).
  6. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.

3.Penyebab

Penyebab ikterik pada BBI dapat disebabkan oleh beberapa       faktor :

  1. Gangguan dalam ekskresi dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.
  2. Gangguan dalam transportasi metabolisme, bilirubin dalam darah terikat dalam albumin. Kemudian ke hepar. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas. Yang bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak.
  3. Gangguan dalam proses pengambilan dan konjugasi hepar dapat disebabkan oleh imaturitas hepar. Kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, hipoksi, gangguan fungsi hepar akibat asiososis dan infeksi.
  4. Produksi bilirubin yang berlebihan.

4.Pencegahan

Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :

  1. Pemberian makanan yang dini dan pencegahan infeksi.
  2. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir yaitu hepatitis B dimulai 0-7 hari pertama.
  3. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.
  4. Mencegah dan mengobati hipoksia pada neonatus.
  5. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan ikterik bayi pada masa kehamilan dan kelahiran.
  6. Pengawasan antenatal yang baik.

5.Jenis-Jenis Ikterus Neonatal

a.Ikterus Hemolitik yang Berat

Merupakan suatu golongan penyakit yang disebut eritroblastosis atau morbus hemolitikus neonatorum (haemolytic disease of the newborn). Biasanya disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi.

  • Inkompatibilitas Rhesus

Gejala klinik yang dapat terlihat adalah ikterus yang timbul pada hari pertama. Ikterus tersebut makin lama semakin berat, disertai dengan anemia yang makin lama makin berat pula. Bilamana sebelum kelahiran terdapat hemolisis yang berat, maka bayi dapat lahir dengan edema umum disertai ikterus dan pembesaran hepar dan lien (hidrosfoetalis). Terapi ditujukan untuk memperbaiki anemia dan bilirubin yang berlebihan dalam serum, agar tidak terjadi Kern-Ikterus.

  • Inkompatibilitas ABO

Ikterus dapat terjadi pada hari pertama dan kedua dan sifatnya biasanya ringan. Bayi tidak tampak sakit, aneminya ringan, hepar dan lien membesar. Ikterus dapat menghilang beberapa hari, kalau hemolisisnya berat, diperlukan juga transfusi tukar darah untuk mencegah terjadinya kern-ikterus. Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah pemeriksaan kadar bilirubin serum sewaktu-waktu.

  • Ikterus hemolitik karena inkompatibilitas golongan darah lain

Hemolisis dan ikterus biasanya ringan.

  • Penyakit hemolitik karena kelainan eritrosit kongenital

Golongan penyakit ini dapat menimbulkan gambaran klinik yang menyerupai eritroblastosis fetalic akibat ISO-imunisasi. Beberapa penyakit lain ialah : sferositosis kongenital, anemia sel sabit (sickle-cell anemia) dan eliptositosis herediter.

  • Hemolisis karena defisiensi enzim glukosa-6-phospate dehidrogenase (G-6 PO deficiency).

Ikterus yang berlebihan dapat terjadi pada defisiensi GGPD akibat hemolisis eritrosis walaupun tidak terdapat faktor eksogen, misalnya obat-obatan sebagai faktor pencetusnya, kemungkinan faktor lain yang ikut berperan, misalnya kematangan hepar.

b.Ikterus Obstruktiva

Obstruksi dalam penyaluran empedu dapat terjadi di dalam hepar dan di luar hepar. Akibat obstruksi terjadi penumpukan bilirubin tidak langsung. Bila kadar bilirubin langsung melebihi 1 mg%, maka dicurigai dapat menyebabkan obstruksi, misalnya pada sepsis, hepatitis neonatorum, prelonefritis atau obstruksi saluran empedu. Pengobatan ditujukan kepada penyakit dasarnya, jika perlu dengan pembedahan.

  • Hepatitis Neonatal

Suatu nama yang bersifat umum untuk penyakit hepar pada masa bayi baru lahir dan disebabkan oleh infeksi maupun oleh bukan infeksi. Hepatitis neonatal yang idiopatis ini mencakup bayi-bayi yang menderita ikterus obstruktiva (hiperbilirubinemia oleh bilirubin direk) tanpa tanda-tanda klinis hepatitis virus. Pada biopsy terdapat transformasi luas dari hepatosit menjadi datia yang mengandung banyak inti. Nekrosis dan inflamasi dapat ditemukan.

Gejala klinik penyakit ini adalah adanya ikterus akibat penumpukan bilirubin direk. Ikterus dapat terjadi pada waktu lahir dengan peninggian kadar bilirubin direk pada darah umbilicus. Biasanya terdapat hepatomegali, splenomeglai. Obstruksi total bilirubin dapat terjadi ditandai dengan feses yang alkalis.

Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan biopsy hati dimana ditemukan hepatosis yang besarnya ireguler dan banyak ditemukan sel datia. Selain itu biasanya terdapat nekrosis dan tanda-tanda peradangan. Sel kupter membengkak dan mengandung besi, pigmen empedu dan lipofushsin. Pengobatan khusus hepatitis neonatal tidak ada selain pengobatan suportif.

  • Hepatitis Virus

Ibu hamil dapat diserang oleh virus Hepatitis A, B atau No A dan No B. Bila ibu hamil mendapat hepatitis B pada kehamilan, bayi dapat lahir dengan HB5 Ag serum yang positif. Transmisi dapat terjadi melalui sekresi vagina, tetapi transmisi melalui ASI belum jelas. Walaupun demikian kita harus hati-hati dalam memberikan ASI.

Gejala kliniknya adalah bayi-bayi yang mendapat infeksi Hepatitis B dari ibunya biasanya asimtomatis. Gangguan fungsi hepar biasanya minimum. Gejala klinik seperti ikterus dapat terjadi dan disertai pembesaran hepar. Bayi-bayi ini akan menjadi pembawa kuman yang infeksius dan dapat menjadi sumber penularan untuk yang lain. Belum ada pengobatan khusus. Yang diperlukan adalah pada ibu hamil yang HB5Ag positif bayinya perlu dilindungi sebagai berikut :

  • Vaksinasi diulangi sampai tiga kali dengan interval 1 bulan atau sesuai dengan skema vaksin yang digunakan. Para dokter dan tenaga para medis harus divaksinasi juga.
  • Segera sesudah lahir sedapat-dapatnya dalam waktu 2 jam bayi diberikan suntik HBIG dan langsung divaksinasi dengan vaksin hepatitis B.

Ikterus yang disebabkan oleh hal lain

Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan ikterus neonatorum :

  1. Pengaruh hormon atau obat yang mengurangi kesanggupan hepar untuk mengadakan konjugasi bilirubin, misalnya pada breastmik jaundice dan pemakaian novobiosin.
  2. Hipoalbuminemia : bilirubin yang berbahaya ialah bilirubin tidak langsung yang tidak terikat pada albumin.
  3. Adanya obat atau zat kimia yang mengurangi ikatan bilirubin tidak langsung pada albumin, misalnya sulfafurazole, salisilat dan heparin.
  4. Sindroma Crigler-Najjar ialah suatu penyakit herediter yang bersifat resesif.
  5. Ikterus karena Late Feeding. Penundan pemberian makanan pada neonatus, teruama pada bayi prematur, dapat menyebabkan intensitas ikterus fisiologik bertambah.
  6. Asidosis metabolik dapat menyebabkan naiknya kadar bilirubin tidak langsung karena mengurangi kesanggupan albumin mengikat bilirubin.
  7. Pemakaian vitamin K, misalnya dalam bentuk Menaptone, dapat menyebabkan hiperbilirubinemia jika dosis melebihi 10 mg%.
  8. Ikterus yang berhubungan dengan hipotiroidismus.

Kern-Ikterus

Terdapatnya gumpalan bilirubin pada Ganglia Basalis pada ikterus yang berat disebut Kern-Ikterus. Gejala kliniknya biasanya berupa ikterus yang berat, letargia, tidak mau minum, muntah-muntah, sianosis, opistotonus dan kejang.

Kern-Ikterus biasanya disertai dengan meningkatnya kadar bilirubin tidak langsung dalam serum. Pada neonatus cukup bulan dengan kadar bilirubin yang melebihi 20 mg% sering keadaan berkembang menjadi Kern-Ikterus. Kadar albumin yang cukup dalam darah memberikan perlindungan terhadap kemungkinan terjadinya Kern-Ikterus. Sebaliknya pada neonatus yang menderita hipoksia, asidosis dan hipoglikemia, Kern-Ikterus dapat terjadi walaupun kadar bilirubin < 16 mg%. Pencegahan Kern-Ikterus ialah dengan melakukan transfusi tukar darah bila kadar bilirubin tidak langsung mencapai 20 mg%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.