Persalinan

1.Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan. Persalinan normal yaitu pengeluaran hasil konsepsi yang didukung oleh ketiga faktor penting dalam persalinan yang terdiri dari power, passanger, dan passage, ketiga faktor tersebut  telah membuktikan kerjasama yang baik sehingga persalinan berlangsung spontan, aterm dan hidup tanpa mendapat intervensi dan persalinan berjalan mulus. Sedangkan yang dimaksud dengan persalinan berpenyulit adalah suatu keadaan tidak adanya kemajuan dari persalinan yang terjadi akibat adanya kelainan yang mempengaruhi jalannya persalinan sehingga memerlukan intervensi persalinan untuk mencapai “well born baby and well health mother” (Bari, 2002).

 2.Karakteristik Ibu Bersalin Berpenyulit

Karakteristik adalah suatu ciri khusus dari seseorang yang dapat membedakan satu dengan yang lainnya (Depdikbud, 1995). Karakteristik ibu bersalin berpenyulit yang dilakukan tindakan sectio caesarea dapat ditinjau dari beberapa aspek antara lain umur, kadar Hb, tekanan darah, status persalinan, status gizi yaitu :

  • Umur

Umur merupakan unsur biologis dari seseorang yang menunjukan tingkat kematangan organ-organ fisik pada manusia, semakin tinggi usia seseorang maka proses perkembangan seseorang semakin matang (Atkinson, 1993).

Sedangkan menurut Brunner & Suddart (1996) dalam Brenda et.al, (2001), menyatakan bahwa semakin tua usia seseorang maka kelenturan jaringan akan berkurang, sehingga akan mempengaruhi proses penyembuhan luka.

Dalam proses reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan adalah 20-35 tahun. Kematian maternal yang sering terjadi pada wanita hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-35 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 35 tahun (Hanifa, 1997).

  • Kadar Hb

Hb merupakan komponen utama sel darah merah yang berguna untuk mengangkut oksigen dan karbondioksida serta mempertahankan PH normal melalui serangkaian dapar intra seluler. Molekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus hem (gugus prossetik methemoglobin yang mengandung atom besi, atau gugus non protein haemoglobin yang tidak larut, senyawa protoporfirin yang mengandung besi). Menurut Gibson (1996), kadar Hb normal pada orang dewasa : wanita 12 gr%, pria 14gr%  (tehnik Hb sahli) sedangkan menurut  Hanifa (1997), kadar normal Hb pada wanita 16 gr% dan laki-laki 18 gr% dan menurut WHO kadar Hb normal yaitu < 8gr% dan > 11Gr%

Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas haemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Anemia bukan merupakan diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan oleh anamnese pemeriksaan fisik yang teliti serta didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Pada anemia, semua sistem organ dapat telibat, maka dapat menimbulkan manifestasi klinik yang luas. Manifestasi ini bergantung pada : (1) Kecepatan timbulnya anemia, (2) Umur individu, (3) Mekanisme kompensasinya, (4) Tingkat aktivitasnya,  (5) Keadaan penyakit yang mendasari, (6) Parahnya anemia tersebut  (Willson, 1994).

Hydremia (kelebihan air dalam darah) akan selalu terjadi pada wanita hamil, yang selanjutnya akan terjadi hemodilusi (pengenceran kadar Hb) sehingga akan menurunkan kadar Hb, keadaan ini merupakan keadaan yang fisiologis. Ada beberapa macam anemia yang mungkin terdapat pada saat kehamilan : 1). Anemia defisiensi fe pada kehamilan. Anemia jenis ini sering telah ada sebelum ibu hamil, riwayat adanya kekurangan darah menahun, kehamilan yang berturut-turut dengan jarak yang terlalu dekat. Keluhan anemia berupa lemah, pucat, oedema, dan kadang-kadang sesak napas. Apabila anemia sudah diderita sebelum ibu hamil, maka keluhan akan lebih berat, sebaliknya bila tidak ada anemia sebelum hamil maka keluhan akan datang lebih lambat.  2). Anemia pernisiosa pada kehamilan. Anemia jenis ini sering terjadi menjelang trimester akhir kehamilan. Biasanya yang merupakan predisposisi dari anemia pernisiosa pada kehamilan adalah multipara, malnutrisi, malabsorbsi, sirosis hati, infeksi kronis, haemoglobinophati dan hemolisis kronis (Supandiman,1994).

Seorang wanita hamil dikatakan menderita anemia dalam kehamilan apabila kadar Hb dalam darahnya kurang dari 10 gr/100 ml. Sedangkan wanita hamil dengan Hb antara 10-12/100 ml, tidak dianggap menderita anemia phatologik, akan tetapi merupakan anemia fisiologik atau pseudoanemia. Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Berbagai penyulit yang dapat ditimbulkan akibat anemia : abortus, partus imaturus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan, syok, infeksi intra dan post partum (Supandiman,1994).

Kadar Hb rata-rata dalam kehamilan menurut  Hoo Swie Tjiong, (1962) dalam Hanifa, (1997), untuk kehamilan trimester I  kadar Hb normal adalah 12,3 g/100ml,  kehamilan trimester II  11,3 g/100ml, dan kehamilan trimester III 14,7 g/100ml. Anemia dalam kehamilan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : 1). Anemia defisiensi besi, yaitu anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi, terjadi 62,3% dari ibu hamil. 2).Anemia megaloblastik, yaitu anemia akibat kekurangan asam folat, terjadi 29,0% pada ibu hamil.  3). Anemia hipoplastik, yaitu anemia yang disebabkan akibat sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, terjadi 8,0% pada ibu hamil. 4). Anemia hemolitik, yaitu anemia yang disebabkan oleh penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya, terjadi 0,7% pada ibu hamil. Dari ke empat jenis anemia dalam kehamilan yang paling sering terjadi adalah anemia akibat kekurangan zat besi, hal ini disebabkan kurangnya asupan zat besi dalam makanan, gangguan reabsorpsi, dan banyaknya zat besi yang keluar akibat perdarahan (Hanifa, 1997).

Peningkatan kadar plasma pada masa kehamilan minggu ke 24-32 minggu akan mengencerkan kadar Hb, hal ini akan mengakibatkan terjadinya anemia sehingga menurunkan kapasitas pambawa oksigen bagi tubuh, selain itu akan meningkatkan beban kerja jantung sebagai kompensasi tubuh dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi (Brenda. et.al, 2001).

  • Tekanan darah

Menurut O’Brien dalam Ganong (1998), Tekanan darah arteri adalah hasil curah jantung dan tahan perifer yang dapat dipengaruhi oleh faktor emosi, kegelisahan dan ketegangan. Secara umum peningkatan curah jantung akan meningkatkan tekanan sistole,

Pemeriksaan tekanan darah pada ibu hamil dapat memberikan informasi mengenai adanya hipertensi dalam kehamilan, preeklampsi dan eklampsi. Penyakit hipertensi menahun yang sudah ada sebelum wanita menjadi hamil dan yang paling banyak disebabkan oleh penyakit pembuluh darah (hipertensi esensial) dan penyakit ginjal. Wanita hamil dalam hipertensi esensial biasanya hanya menunjukkan gejala hipertensi tanpa gejala lain. Meningkatnya tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya hambatan dalam pembuluh darah perifer, terutama akibat vasokonstriksi umum. Kebanyakan ibu menderita hipertensi esensial yang jinak yakni berlangsung lama dengan perburukan secara lamban. Tensi berkisar antara 140/90 mmHg dan 160/100 mmHg. Sebagian besar kehamilan dengan hipertensi esensial berlangsung normal sampai cukup bulan. Pada kira-kira sepertiga diantara para wanita menderita hipertensi setelah kehamilan 20 minggu tanpa disertai gejala-gejala lain. Kira-kira 20% menunjukkan kenaikan yang lebih mencolok dan dapat disertai gejala preeklampsi dan eklampsi seperti oedema, proteinuria, nyeri kepala, muntah, gangguan visus bahkan perdarahan otak, (Hanifa, 1997).

  • Diagnosis  hipertensi dalam kehamilan
  1. Tekanan diastole merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam kehamilan.
  2. Tekanan diastole mengukur tahanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh keadaan emosi pasein (seperti pada tekanan sistole).
  3. Jika tekanan diastole ≥ 90 mmHg, pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih, diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan urgen tekanan diastole 110 mmHg, dapat dipakai sebagai dasar diagnosis, dengan jarak waktu pengukuran < 4 jam.
    • Jika hipertensi terjadi pada kehamilan > 20 minggu, pada persalinan, atau 48 jam setelah persalinan, diagnosisnya adalah hipertensi dalam kehamilan.
    • Jika hipertensi pada kehamilan < 20 minggu, diagnosisnya adalah hipertensi kronik.

Tabel 2.1

Hipertensi dalam Kehamilan Berdasarkan Diagnosa, Gejala dan Tanda

thp

Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan menurut American Committee and Maternal Walfare (Bagian Obstetrik dan Ginekologi UNPAD, Bandung, 1981) adalah sebagai berikut :

  • Hipertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan dan khas untuk kehamilan adalah preeklampsi dan eklampsi. Diagnosis dibuat atas dasar hipertensi dengan proteinuria atau oedema, atau kedua-duanya pada wanita hamil setelah minggu ke 20.
  • Hipertensi yang kronis (apapun sebabnya), diagnosis dibuat atas dasar adanya hipertensi sebelum kehamilan atau penemuan hipertensi < 20 minggu, dan hipertensi ini tetap setelah persalinan berakhir.
  • Preeklampsi dan eklampsi yang terjadi atas dasar hipertensi kronik  sering memperberat penyakitnya dalam kehamilan, dengan gejala hipertensi, proteinuria, oedema dan kelainan retina.
  • Transient Hipertensi, diagnosis dibuat kalau timbul hipertensi dalam kehamilan atau dalam 24 jam pertama dari nifas pada wanita yang terjadi normotensif dan yang hilang dalam 10 hari post partum.

Tekanan darah yang diamati adalah tekanan darah saat diperiksa, dihubungkan dengan adanya resiko hipertensi maupun hipotensi yang dapat berpengaruh terhadap tindakan Sectio caesarea  serta dapat memperpanjang lamanya hari perawatan, dikatakan beresiko tinggi apabila tekanan darah diastole  > 90 atau < 60 mmHg, (Jallaluddin, 2003).

Peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmHg dan diastolik meningkat lebih dari 15 mmHg dari tekanan darah sebelum kehamilan akan memperberat keadaan ibu dalam menghadapi persalinan, (Doenges, 2001).

  •  Status Persalinan

Pada seorang wanita dengan persalinan ke dua dan seterusnya organ reproduksi cenderung lebih baik dari yang pertama. Hal ini menunjukan bahwa semua organ reproduksi diperlukan “trial runs” atau latihan sebelumnya untuk mencapai kemampuan yang optimal. seorang ibu yang belum berpengalaman melahirkan akan mempunyai banyak hambatan dalam persalinan, (Ibrahim, 1996).

Sedangkan persalinan berpenyulit sering ditemukan pada primigravida tua terutama kelainan persalinan yang disebabkan oleh kelainan his, kehamilan ganda atau hydramion, ditinjau dari sudut kematian maternal, paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman. Sedangkan paritas 1 dan paritas lebih dari 3 mempunyai kematian maternal yang tinggi. Lebih tinggi paritas maka akan lebih tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik yang lebih baik, sedangkan resiko pada paritas tinggi dapat dicegah dengan Keluarga Berencana (KB). Walaupun sebagian kehamilan pada paritas tinggi tidak direncanakan (Hanifa, 1997).

  • Status Gizi

Status gizi juga memegang peranan penting, kebutuhan akan gizi terutama protein selama kehamilan sangat meningkat, protein berfungsi untuk menghasilkan jaringan baru dan pembentukan protein-protein baru yang lain. Kekurangan gizi disamping akan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh sehingga akan memungkinkan seseorang akan lebih rentan terhadap invasi bakteri atau virus. Selain itu proses penyembuhan luka akan terhambat sebagai akibat tidak terbentuknya protein-protein baru (Hamilton, 1995).

Memperhatikan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa ibu hamil memerlukan makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan susunan makanan “Gizi Seimbang”. Saat ini di Indonesia sudah banyak yang menawarkan tambahan gizi Ibu hamil dengan susu yang berkualitas. Kombinasi vitamin dan mineral yang diperlukan banyak ditawarkan untuk ibu hamil seperti obimin A, F, vicanatal, natalice, obiron, ultravita dan grevital dengan susunan sesuai dengan kebutuhan (Manuaba, 1998).

Menurut Manuaba (1998), perubahan metabolisme yang terjadi selama kehamilan   adalah :

  1. Metabolisme basal naik sebesar 15% sampai 20% dari semula, terutama pada trimester ketiga.
  2. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan hemodulasi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin.
  3. Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar ½ gr/kg BB atau sebutir telur ayam sehari.
  4. Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein.
  5. Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :
    • Kalsium 1,5 gr setiap hari, 30-40 gr untuk pembentukan tulang janin.
    • Fosfor rata-rata 2 gr dalam sehari.
    • Zat besi 800mgr atau 30-50 mgr sehari.
    • Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan terjadi retensi air.
  6. Berat badan ibu hamil bertambah antara 6,5 kg sampai 16,5 kg selama kehamilan atau terjadi kenaikan berat badan sekitar ½ kg / minggu, dan penambahan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut :
    • Janin =  3 – 3,5 Kg
    • Plasenta =  0,5 Kg
    • Air ketuban =  1 Kg
    • Rahim sekitar =  1 Kg
    • Timbunan lemak =  1,5 Kg
    • Timbunan protein =  2 Kg
    • Retensi air-garam =  1,5 Kg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.