Penyakit Diare

1.Pengertian

 Diare adalah infeksi akut pada sistem pencernaan yang menimbulkan gangguan pada lambung yang berupa mual dan muntah serta gangguan pada usus yang berupa diare (Sudoyo, 2007 dalam Nurtikaryani, 2008). Gastroenetritis adalah istilah umum untuk berbagai macam keadaan yang biasanya disebabkan oleh infeksi dan menimbulkan gejala-gejala berupa hilangnya nafsu makan, mual, muntah, Diare ringan sampai berat dan rasa tidak enak di perut (Sundari, 2005).

Dari uraian diatas maka Diare adalah infeksi akut pada sistem pencernaan yang menimbulkan gangguan mual dan muntah, gangguan pada usus, hilang nafsu makan, serta diare ringan sampai berat.

2.Etiologi

Menurut Mansjoer, (2000) penyebab diare Infeksi enternal yaitu infeksi pada saluran pencernaan, meliputi: Infeksi bakteri terdiri dari Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya. Infeksi virus terdiri dari Enterovirus (virus ECHO, Coxackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotarovirus, Astrovirus, dan lain-lain. Infeksi parasit terdiri dari Cacing (Ascariasis, Trichiaris, Oxyaris, Strongloydes), Protozooa (Entamoeba histolytica, Glardia lambia, Trichomonas, Hominis) dan Jamur (Candida albicans, Candida enteritis).

3.Gejala Klinis

Jenis dan beratnya gejala tergantung dari jenis dan banyaknya mikroorganisme atau racun yang tertelan. Gejalanya juga bervariasi tergantung dari daya tahan tubuh seseorang. Gejala biasanya dimulai secara tiba-tiba, yaitu berupa kehilangan nafsu makan, mual atau muntah.
Bising usus meningkat (perut keroncongan), kram perut dan Diare dengan atau tanpa darah dan lendir. Terkumpulnya gas di dalam usus menyebabkan rasa sakit. Penderita juga bisa mengalami demam, tidak enak badan dan kelelahan yang berlebihan. Muntah dan Diare yang hebat dapat mengakibatkan dehidrasi dan penurunan tekanan darah, sehingga terjadi syok. Keadaan ini juga menyebabkan tubuh kehilangan kalium, sehingga kadarnya dalam darah menurun (hipokalemia). Juga terjadi penurunan kadar natrium dalam darah (hiponatremia), terutama jika penderita menggantikan kehilangan cairan dengan meminum larutan yang hanya mengandung sedikit atau bahkan tidak mengandung garam, misalnya air putih dan teh (Sundari, 2005).

Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut, demam dan diare terjadi tekanan hipovolemik harus dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis, kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyulit berupa nekrosis tubular akut. Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan pertama, kolerifrom, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua disentriform, pada saat Diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah (Awie, 2009).

4.Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare (Arifin, 2008).

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi gastroenteritis. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah (Faulkner, A 2008).

5.Gejala Diare

Menurut Akhmadi (2009) tanda dari diare adalah adanya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi lebih cair sampai seperti air. Adapun tanda lainnya adalah seperti: kehilangan cairan dan elektrolit, mata cekung, haus, mulut kering, demam, letargis, dan kadang-kadang disertai  muntah. Beberapa pengertian lain diare menurut beberapa ahli adalah keluarnya tinja air dan elektrolit yang hebat. Bayi dikatakan diare bila volume tinja lebih dari 15 gram/kg/24 jam dan pada anak usia 3 tahun volume tinja lebih dari 200 gram/24 jam. Volume tinja anak usia 3 tahun sama dengan volume tinja orang dewasa (Nelson, 2000) Akhmadi (2009). Sedangkan ahli lain Robbins (1999) dalam Akhmadi (2009) memberi batasan kasar diare sebagai produksi tinja harian melebihi 250 gram, mengandung 70%-90% air, yang menyebabkan bertambahnya volume tinja dan frekuensi buang air besar.

6.Klasifikasi Diare

Menurut Akhmadi (2009) diare biasanya diklasifikan berdasarkan ada tidaknya infeksi serta lamanya diare. Diare berdasarkan akut dan kronisnya, diare akut yaitu diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak, berhenti secara cepat atau maksimal berlangsung sampai 2 minggu, namun dapat pula menetap dan melanjut menjadi diare kronis. Hal ini dapat terjadi pada semua umur dan bila menyerang bayi biasanya disebut gastroenteritis infantil. Penyebab tersering pada bayi dan anak-anak adalah intoleransi laktosa. Diare kronis yaitu diare yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih. Sedangkan berdasarkan ada tidaknya infeksi, dibagi diare spesifik dan non spesifik. Diare spesifik adalah diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit. Diare yang disebabkan oleh makanan disebut diare non spesifik. Berdasarkan organ yang terkena, diare dapat diklasifikasikan menjadi diare infeksi enteral dan parenteral.

Menurut Akhmadi (2009) klasifikasi dehidrasi WHO, maka dehidrasi dibagi 3 (tiga) menjadi dehidrasi ringan, sedang, atau berat, sebagai berikut:

  1. Dehidrasi Ringan

Tidak ada keluhan atau gejala yang mencolok. Tandanya anak terlihat agak lesu, haus, dan agak rewel.

  1. Dehidrasi Sedang

Tandanya ditemukan 2 gejala atau lebih gejala berikut: Gelisah, cengeng, kehausan, mata cekung, dan kulit keriput, misalnya kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali ke posisi semula.

  1. Dehidrasi berat

Tandanya ditemukan 2 atau lebih gejala berikut: Berak cair terus-menerus, muntah terus-menerus, kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk, tidak bisa minum, tidak mau makan, mata cekung, bibir kering dan biru, cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik, tidak kencing 6 jam atau lebih/frekuensi buang air kecil berkurang/kurang dari 6 popok/hari, dan kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi.

7.Diagnosa

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya, meskipun penyebabnya belum bisa ditentukan dari gejalanya.
Kadang-kadang anggota keluarga lainnya atau rekan sekerjanya sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala yang sama. Penderita bisa mendapatkan penyakit ini karena cara memasak yang salah, makan makanan yang tercemar (misalnya mayonaise yang disimpan terlalu lama dalam kulkas) atau makan makanan laut mentah. Jika gejalanya berat dan lebih dari 48 jam, maka dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap contoh tinja untuk mencari adanya sel darah putih dan bakteri, virus atau parasit.
Pemeriksaan laboratorium dari muntahan, makanan atau darah, juga bisa membantu menemukan penyebabnya. Bila gejalanya menetap selama beberapa hari, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan kolonoskopi untuk menemukan adanya kelainan tertentu, seperti kolitis ulserativa ataupun disentri amuba (amubiasis) (Sundari, 2005).

8.Prinsip Pengobatan Dan Managemen Perawatan

a.Pengobatan tergantung pada derajat dehidrasi

Dehidrasi ringan, ada kemungkinan lebih disukai untuk merawat anak di rumah, asal diberikan perawatan medis yang efesien.

    • Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glucose elektrolit (dioralite).
    • Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan setiap 4 jam selama malam hari, dilanjutkan selama 24 jam.
    • Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali, jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh) setiap 4 jam dengan salingan antara waktu makan.
    • Dengan ditingkatkannya pemberian susu, jumlah campuran glucose elektrolit diturunkan secara berimbang.
    • Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai berbentuk.

Dehidrasi sedang, pada kasus ini, gambaran klinik ditegakkan secara baik dan bayi mulai dirawat:

  • Dihentikannya pemberian susu
  • Penggantian kekurangan cairan dan elektrolit serta koreksi gangguan asam basa. Ini didasarkan pada penilaian klinis, atau pada rekaman kehilangan berat badan terakhir. Pergantian dapat dilakukan baik peroral atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan air dan elektrolit melalui daire.
  • Perawatan bayi dengan terapi intravena.
  • Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk menentukan status elektrolit
  • Dimulainya pemberian cairan peroral secara perlahan-lahan untuk menentukan kemampuan menerima cairan.
  • Dimulainya pemberian susu secara berangsur-angsur seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan.
  • Penimbangan berat badan harian dan pengumpulan urin harian.

Dehidrasi berat, bayi dalam keadaan sakit parah dengan kegagalan sirkulasi:

  • Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan masukan cairan dengan peningkatan yang seksama.
  • Infuse plasma untuk menggantikan penurunan volume plasma
  • Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian secara intravena 8,4 % natrium bikarbonat dengan penilaian kembali status asam basa.
  • Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi, secara berangsur-angsur susu diberikan kembali seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan.
  • Selama fase akut, bayi dirawat dalam incubator. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi secara seksama, karena penurunan kadar kalium serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung, dan peningkatan kadar kalium secara cepat membawa resiko henti jantung.
  • Perawatan Rutin
    1. Pemberian obat-obatan, terutama antibiotika untuk mengatasi kuman infeksi. jika muntah parah, obat-obatan yang sesuai, seperti kloramfenikol atau streptomisin, dapat diberikan secara parenteral.
    2. Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi silang serta pencegahannya.

b.Perawatan bokong anak. Feaces yang encer akan menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. Bayi tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang basah dan kotor. Area popok dibasuh secara lebih dan diberikan krim pelindung. Meninggalkan bokong dalam kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk mendorong terjadinya penyembuhan.

c.Inspeksi dan perawatan mulut bayi.

d.Dukungan bagi orang tua. Jika terdapat bukti tidak adanya pengertian dalam hal perawatan anak,ibu harus didorong untuk tinggal bersama anak. Perawatan dapat diawasi dan diberikan bantuan. Walaupun demikian, harus diingat bahwa banyak bayi yang menderita diare kendatipun perawatan bayi yang baik, dan orang tua tidak boleh disalahkan karena keadaan ini.

e.Persiapan pulang ke rumah. Segera setelah petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai umur dan kebutuhan anak, dan jika terjadi pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan tidak terdapat muntah atau feces yang encer, maka anak diizinkan pulang. Orang tua diminta untuk datang ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum untuk menilai kemajuan bayi.

9.Penatalaksanaan

Menurut Whaley and Wong (1996) dalam Akhmadi (2009) penatalaksanaan diare pada balita difokuskan pada penyebab, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta fungsi normal perut. Prinsipnya adalah mengganti cairan yang hilang (rehidrasi), tetap memberikan makanan, tidak memberikan obat anti diare (antibiotik hanya diberikan atas indikasi), dan penyuluhan. Penderita diare kebanyakan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus.

Serangan diare yang berulang akan mendorong  penderita ke dalam keadaan malnutrisi oleh karena itu penatalaksanaan yang benar sangat dibutuhkan karena dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian, apalagi pada anak-anak. Selain itu keluarga dapat menjaga balita atau anak-anak dari diare dengan menjaga kebersihan lingkungan serta makanan. Selain itu bila sudah terkena maka keluarga dapat melakukan pertolongan dengan memberikan oralit atau campuran gula dan garam. Adapun cara membuatnya, yaitu: tuangkan air matang ke dalam gelas bersih (200 ml), ditambah 1 sendok teh munjung gula pasir dan ¼ sendok teh garam dapur, aduk sampai larut benar (Depkes RI, 2003). Cairan rumah tangga adalah cairan yang berasal dari makanan seperti bubur encer dari tepung, sup, air tajin, air kelapa muda, dan makanan yang diencerkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.