Artritis Rheumatoid

ra

Artritis Rheumatoid adalah penyakit kronis sistemik yang progresif pada jaringan pengikat mencakup peradangan pada persendian sinovial yang simetris sehingga menyebabkan kerusakan persendian. (Reever, C. Dkk, 2001). Artritis Rheumatoid adalah penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis dan melibatkan seluruh tubuh (Noer, 2004).

Artritis Rheumatoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya tangan dan kaki), secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan nyeri dan menyebabkan kerusakkan bagian dalam sendi (Handriani, 2004).

Etiologi

Menurut Noer, (2004) faktor penyebab secara pasti belum dikatahui, tetapi ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini, diantaranya:

  • Faktor Genetik

Faktor hormonalHal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antar produks kompleks histokompabilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR A dengan AR seropositif. Pengemban HL a – DR memiliki resiko relatif 4 : 1 untuk menderita penyakit Artritis Rheumatoid.

Kecenderungan wanita untuk menderita Artritis Rheumatoid dan sering dijumpai remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini, walaupun demikian karena pemberian estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini.

  • Faktor infeksi

Infeksi ini telah merupakan penyabab Artritis Rheumatoid. Dugaan faktor infeksi sebagai penyebab Artritis Rheumatoid, juga timbul karena onset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul sebagai gambaran inflasi yang menolak. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi. Suatu mikroorganisme dari jaringan sinovial, hal ini tidak memungkinkan bahwa terdapat sesuatu komponen endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya Artritis Rheumatoid. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab Artritis Rheumatoid antara lain adalah bakteri, mikroplasma dan virus.

Patofisiologi

Pada Artritis Rheumatoid, reaksi Auto-Imun terutama terjadi dalam jaringan sinovial proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot turut terkena karena serabut otot akan mengalami degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Sweitzer, 2004).

Manifestasi Klinis

  1. Rasa nyeri dari pembengkakan sendi, panas, eritema dan gangguan fungsi pada sendi
  2. Kaku sendi di pagi hari berlangsung lebih dari 30 menit
  3. Deformitas tangan dan kaki
  4. Nafsu makan berkurang
  5. Penurunan berat badan
  6. Keadaan mudah lelah
  7. Anemia
  8. Pembesaran kelenjar limfe
  9. Fenofena kaynoud (vasospasme yang ditimbulkan oleh cuaca dingin dan stress sehingga jari-jari menjadi pucat atau sianosis).

Patogenesis

Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis Artritis Rheumatoid terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut: (Noer, 2004)

Suatu antigen penyebab artitis rheumatoid yang berbeda pada membran sinovial akan diproses oleh antigen presenting sel (APC) yang terdiri dari berbagai jenis seperti sel sinovial A, sel dedentrik atau magrifag yang semuanya mengekspresikan determinan HLa-DR pada membran selnya, antigen yang telah diproses akan dikenali dan diikat oleh sel CD 4 + bersama dengan determinan HLa-Dr yang terdapat pada membran APC, membentuk suatu kompleks trimokuler (IL-1) selanjutnya (IL-1) akan mengekspresikan reseptor interleukin -2 (IL-2) pada permukaan CD 4+. IL-2 yang disekresikan oleh CD 4+ akan mengikat diri pada reseptor spesifik pada permukaan sendiri dan akan menyebabkan terjadinya mitosis dan froliferasi sel-sel tersebut. Selain IL-2 CD 4+ yang telah teraktivasi dan juga mensekresi berbagai limfokin lain serta beberapa mediator lain yang bekerja merangsang megrofag untuk meningkatkan aktivitas fagosintesisnya dan merangsang proliferasi dan aktivitas fagositosisnya dan merangsang proliferasi dan aktivitas sel B untuk memproduksi anti bodi.

Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai, antibodi yang akan dihasilkan membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara bebas ke dalam ruang sendi pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen Csa. Komponen komplemen Csa merupakan faktor kemotatik yang selain meningkat permeabilitas vaskuler yang dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke arah lokasi tersebut. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial menunjukkkan bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada Artritis Rheumatoid adalah peningkatan permeabilitas mikrovaskuler membran sinovial. Fagositosis komleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas, leukotrien, prostaglandin dan stromelysisn yang menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang. Radikal oksigen bebas dapat menyebabkan terjadinya depolimerasi hialuronat sehingga terjadinya penurunan viskositas cairan sendi.

Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila antigen penyebab dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. Akan tetapi pada Artritis Rheumatoid, antigen atau komponen akan menetap pada struktur persediaan sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus.

Pembagian Penyakit Artritis Rheumatoid

Menurut Handriani (2004), Artritis Rheumatoid dibagi dalam dua kategori, yaitu:

  1. Artritis akut

Gejala inflamasi akibat aktivasi sinovitis yang bersifat reversibel. Menurut  Handriani (2004), pada fase dini manifestasi sistemik yang terjadi adalah lesu, anoreksia, penurunan berat badan dan demam, terkadang lelah demikian hebatnya. Persendian yang paling sering terkena adalah tangan, lutu, siku, kaki, bahu, pinggul. Karakteristik distribusi ialah pada persendian tangan dan kaki, metakarphalangeal dan ibu jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis serta sendi metatarsophalangeal dan keempat jari kaki. Gejala lokal awal adalah nyeri dan kekakuan ringan (lebih dari 1 jam) yang terutama dirasakan pada pafi hari waktu mulai menggerakkan persendian yang meradang.

  1. Artritis kronis

Gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel. Kerusakan struktur persendian akibat kerusakan rawan sendi dan erosi tulang. Periartrikuler merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan modifikasi mekanik atau pembebasan rekonstruktif.

Pada fase ini tedapat nodula-nodula rheumatoid deformitas sendi. (Noer, 2004)

Penatalaksanaan Pasien Artritis Rheumatoid

Menurut Smeitzer (2005) Setelah dilakukan diagnosa Artritis Rheumatoid dapat ditegakkan bahwa pendekatan pertama yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk membina hubungan baik antara pasien dan keluarga dengan dokter tim kesehatan yang merawatnya.

  1. Pendidikan pada pasien mengenai penyakit
  2. Istirahat, latihan spesifik dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi
  3. Kompres panas pada bengkak dan nyeri
  4. Alat-alat pembantu mungkin diperlukan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  5. Pemberian obat sejak dini untuk mengurangi rasa nyeri, aspirin dewasa dosis 3-4 x 1 / hari.

Perawatan

  1. Diet

Menurut Smeitzer (2005), untuk penderita Artritis Rheumatoid diet rendah purin. Purin adalah protein yang temasuk dalam golongan nukleoprotein, hasil metabolisme purin asam urat. Peningkatan kadar asam urat yang berlebihandalam darah, dapat menyebabkan penimbunan asam uart pada sendi-sendi tangan dan kaki, sehingga menyebabkan rasa sakit, dapat juga menumpuk pada ginjal, menyebabkan batu ginjal.

Pengelompokan bahan makanan menurut kadar purin dan aturan makan.

  • Makanan yang harus dihindari

Makanan yang mengandung purin tinggi (100-1000 mg/100 g  bahan makanan). Otak, hati, jantung, ginjal, jeroan, ekstrak daging/kaldu, bebek, ikan, makarel, remis, kerang.

  • Makanan yang harus dibatasi

Makanan yang mengandung purin sedang (9-100 mg/100g bahan makanan): maksimal 50-75 g (1-1/2 potong) daging, ikan atau unggas, atau 1 mangkok (100 g) sayuran sehari. Daging sapi dan ikan (kecuali yang terdapat dalam kelompok satu) ayam, udang, kacang-kacangan dan hasil olah seperti tahu dan tempe, asparagus, bayam, daun singkong, kangkung, daun melinjo.

  • Makanan yang boleh dimakan setiap hari

Makanan yang mengandung purin rendah (dapat diabaikan) nasi, sayur, singkong, jagung, roti, mie, bihun, tepung beras, cake, kue kering, puding, susu, keju, telur, lemak, minyak, gula, sayuran dan buah-buahan (kecuali sayuran dalam kelompok dua) minuman: semua macam minuman kecuali mengandung alkohol. Bumbu: semua macam bumbu, secukupnya.

  • Latihan

Menurut Reevers (2003), latihan untuk penderita artritis rheumatoid:

  1. Jaga tubuh agar tetap pada kondisi fisik yang paling baik, kontrolah berat badan, waktu istirahat dan waktu latihan.
  2. Penderita jangan sampai terlalu gemuk karena berat badan yang berlebihan akan membebani persendian terntu.
  3. Latihan setiap hari
  4. Terapkan panas melakukan latihan untuk mengurangi rasa sakit.
  5. Persiapkan latihan peregangan lemah.
  6. Lakukan latihan aktif jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan minta bantuan orang untuk latihan pasif
  7. Lakukan latihan dengan dampak rendah seperti berenang, berjalan pelan atau bersepeda.
  8. Hentikan latihan jika rasa nyeri makin parah.
  9. Penderita rematik sebaiknya duduk atau bangun dari kursi secara perlahan sambil memegang tangan kursi.
  • Mengurangi rasa nyeri

Menurut Priharjo (2003), nyeri sendi pada penderita Artritis Rheumatoid dapat dikurangi dengan cara :

  1. Istirahat pada bagian yang nyeri
  2. Istirahat tidak boleh terlalu lama, diselingi dengan relaksasi/istirahat 15-20 menit dan lakukan massage
  3. Kompres dengan air hangat
  4. Kompres airi dingin
  5. Menjemur daerah sendi dengan sinar matahari pagi jam 07.00-09.00 WIB
  6. Saat nyeri tarik napas dalam
  7. Berobat ke Puskesmas
  • Istirahat

Menurut Priharjo (2003), istirahat pada penderita Artritis Rheumatoid meliputi :

  1. Istirahat setiap hari minimal siang hari 30-60 menit
  2. Istirahat malam hari 8-9 jam sehingga tidak menimbulkan kekakuan sendi yang hebat
  3. Pada penderita Artritis Rheumatoid posisi tidur terlentang atau setengah duduk
  4. Pada saat tidur malam balut daerah sendi dengan verban elastis atau kain
  5. Setelah melakukan kegiatan atau pekerjaan segera istirahat yang cukup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.