THE MANAGEMENT AND ON THE USE  OF MEDICAL ASSETS

THE MANAGEMENT AND ON THE USE  OF MEDICAL ASSETS

 ABSTRACT

The study aims to determine the management and utilization of medical assets. This research uses a descriptive method. Samples in this study are 94 employees in hospitals M. Yunus Bengkulu taken by census. The results showed that the inventory of medical assets for data collection was done by calibration per 3 months and 6 months. In case the coding has been determined from Kemandagri and recorded in Card Inventory Card. In the legal audit of administrative safeguards conducted every five years. on physical security has never been examined. while the identification of assets has been grouped according to type, function and benefit being experienced during legal problems. For legal action in legal audit only exist in advanced tools. Then on the assessment of medical assets the estimated value has been in accordance with the Governor’s Regulation that the value of 20% shrinkage and guided by SAP. Then a comparison of market data, cost calculations, and capitalization of opinion has been determined on medical devices. On the supervision and control of medical assets each room is responsible for the supervision of assets in safety, security and operation. Monitoring is done every 3 months and 6 months by calibration. While a separate evaluation was never done. Then the recommendation of inspection result is done if found the damaged goods for maintenance action in the maintenance. In the case of asset control utilized is the responsibility of BLUD or the director and delegated to the caretaker to know the checking, maintenance, proposed repair, or replacement of goods that damage and control medical assets in the periodical physical maintenance to prevent goods quickly damaged. In the development of SIMA has not been done because it does not have a system, so that managers are not given training for pengeloaan system. Meanwhile, the use of medical assets has been used in accordance with the functions and needs of each inpatient and outpatient room and then the utilization of medical assets is given responsibility to the respective rooms, and the equipment is recorded in KIB and distributed to KIR room using the tool.

Keywords:      Asset Inventory, Legal Audit, Asset Assessment, and Asset Control and Control, Asset Utilization

1) Student of Master of Manajemen

2) Supervisors

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu merupakan Rumah Sakit milik Pemerintah  Daerah Propinsi Bengkulu dengan klasifikasi Rumah Sakit Tipe B Pendidikan, yang berarti RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu sudah mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan sub-spesialis terbatas. Rumah sakit ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi Rumah Sakit Tipe A melalui optimalisasi aset dalam peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Manajemen aset medis bagi RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu merupakan proses yang sistematis dalam hal pengelolaan aset yang beragam dan variatif agar memberikan manfaat yang optimal. Penerapan manajemen aset yang baik diharapkan dapat memberikan feedback positif terhadap pemanfaatan aset medis. Dalam pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M. Yunus tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan dalam pemanfaatan aset medis. Manajemen aset memiliki tahapan yakni; 1) aspek inventarisasi aset, 2) aspek legal audit, 3) aspek penilaian aset, 4) pengawasan dan pengendalian yang dapat mempengaruhi optimalisasi pemanfaatan aset medis (Siregar, 2012).

Inventarisasi aset merupakan kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang milik daerah (Suwanda, 2014), dalam hal ini adalah aset medis yang dimiliki oleh RSUD dr. M. Yunus. Beberapa temuan dari BPK-RI terkait pengelolaan aset di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu Nomor: 22/BPKRI/Kinerja/JKN/Provinsi/10/2016 tanggal 17 Oktober 2016 dapat dilihat di RSUD dr. M. Yunus, aset medis yang dimiliki oleh RSUD dr. M.Yunus sebanyak 811 alat medis yang mana seharusnya berjumlah 1.909.Sehingga peralatan medis dan penunjang medis pada 13 instalasi yang menggunakan aset medis masih belum terdata sebanyak 1.098.

 Legal audit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam upaya pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu. Berdasarkan hasil pemeriksa dari BPK-RI terkait pengelolaan aset di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu Nomor: 22/BPKRI/KinerjaJKN/Provinsi/10/2016 tanggal 17 Oktober 2016 dapat dilihatdi RSUD dr. M. Yunus terdapat aset medis yang tidak memiliki izin pemanfaatan dari Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (BAPETEN). Sebagian besar peralatan yang menggunakan Sinar-X di RSUD dr. M. Yunus belum memiliki izin pemanfaatan dari Bapeten, dan dioperasikan oleh petugas yang tidak berkompeten. Dalam mengoperasikan peralatan Sinar-X, rumah sakit harus merujuk Petugas Proteksi Radiologi (PPR) untuk melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi.Terdapat aturan khusus terkait alat-alat radiologi di mana masing-masing alat yang menggunakan X-Ray harus mendapatkan izin dari BAPETEN, dan izin tersebut haus di perpanjang setiap dua tahun.

Pemeriksaan atas alat radiologi pada RSUD dr. M. Yunus diketahui dari tujuh buah peralatan X-Ray yang masih berfungsi yang memiliki RSUD dr. M. Yunus, hanya dua alat yaitu CT scan dan panoramic yag memiliki izin pemanfaatan tenaga nukli pengguna dalam radiologi diagnostic dan intervensional dari BAPETEN. Izin alat tersebut baru ada tahun 2016, sedangkan lima alat yang lain belum ada izin dari BAPETEN. Semua alat radiologi, baik berizin maupun tidak berizin dari BAPETEN tetap dioperasikan oleh RSUD dr. M. Yunus. Pengajuan izin ke lima alat medis tersebut masih banyak persyaratan yang harus dilengkapi oleh RSUD dr. M. Yunus. Sedangkan untuk peralatan C-Arm pada kamar operasi, izin pemanfaatan belum diurus oleh pihak RSUD dr. M. Yunus.

Penilaian aset medis dipengaruhi oleh penilaian aset yang dimiliki oleh aset medis tersebut.Penilaian aset medis dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Hasil penilaian aset medis dapat terlihat dari Catatan Laporan Keuangan (CaLK) pada tahun 2016 pada RSUD dr. M.Yunus. Alat medis yang digunakan dalam kegiatan pelayanan kesehatan perlu dilakukan pengukuran dan kalibrasi. Berdasarkan Aplikasi Sarana dan Prasaranan Kesehatan (ASPAK) RSUD dr. M. Yunus diketahui terdapat 122 peralatan medis pada 25 ruang pelayanan yang tidak berfungsi. Hasil ini berdasarkan hasil setelah dilakukan pengukuran terhadap peralatan medis.

Sementara itu pengawasan dan pengendalian di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu belum dilaksanakan secara maksimal dikarenakan aset medis tidak dilakukan pemantauan berkelanjutan, pengendalian aset medis yang dimanfaatkan merupakan tanggung jawab pengelola BLUD dan aset medis yang dimanfaatkan telah dilakukan evaluasi terpisah.  Selama ini dalam pelaksanaannya masih ada aset medis tidak dilakukan pengawasan dan pengendalian secara rutin. Pengawasan juga hanya dilakukan oleh petugas sarana dan prasana yang mengelola barang-barang atau aset medis tersebut.

Berdasarakan Aplikasi Sarana dan Prasaranan Kesehatan (ASPAK) RSUD dr. M. Yunus Bengkulu diketahui terdapat 690 alat yang tersedia dan berfungsi pada 54 ruangan yang belum dikalibrasi. Kalibrasi alat medis yang dilakukan RSUD M. dr. Yunus selama ini tidak dilakukan secara berkala dan menyeluruh untuk semua peralatan yang digunakan untuk pelayanan pasien. Pada tahun 2013 dan 2015 RSUD dr. M. Yunus tidak melakukan kalibrasi alat kesehatannya. Kalibrasi hanya dilakukan pada tahun 2010, 2011, 2012, dan 2014 namun tidak semua alat kesehatan dikalibrasi.Alat yang dikalibrasi pada tahun 2010 hanya tiga alat, tahun 2015 dan 2016, RSUD dr. M. Yunus belum melakukan kalibrasi alat kesehatannya.

Selain itu belum maksimalnya kinerja pengguna barang dalam hal pengendalian dan pengawasan terhadap aset medis juga menjadi salah satu kendala dalam upaya pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M. Yunus. Berdasarkan inspeksi inspeksi mendadak (Sidak) ke RSUD dr. M. Yunus Bengkulu pada harian Bengkulu Ekspress pada tanggal 25 Juni 2015. Dalam sidak tersebut didapati sejumlah alat kesehatan seperti alat rontgen, monitor rekam jantung sebanyak 4 buah dan alat fisioterapy 1 buah dalam keadaan rusak dan tidak bisa difungsikan. Wakil Gubernur mengungkapkan:

“Dimana fungsi manajemen sekarang, masa alat-alat vital seperti ini tidak terurus dan tidak ada pengawasan, bahkan dibiarkan rusak seperti ini.Manajemen RSUD dr. M. Yunuf amburadul karena tidak adanya perencanaan, monitor, dan pengendalian. Seharusnya alat-alat tersebut rusak akan ditangani segera oleh Dirut dan wakil-wakilnya, sehingga tidak mengganggu pelayanan terhadap masyarakat. Wagub menilai bahwa manajemen RSUD tersebut terkesan tidak memiliki rasa tanggung jawab dan rasa memiliki.Akibatnya, manajemen berjalan sendiri-sendiri seperti auto pilot.”

Ketersediaan aset memiliki peran yang cukup penting dan vital bagi instansi  pemerintah yang berorientasi pada pelayanan kesehatan masyarakat. Siregar (2012) mengungkapkan bahwa aset sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi kinerja organisasi sehingga aset harus diinventarisasi, diidentifikasi, legal audit, dan penilaian yang baik. Penelitian yang menganalisis hubungan antara manajemen aset dan optimalisasi aset telah dilakukan antara lain penelitian Nasution, et. al (2015). Penelitian ini berangkat dari fenomena yang ada di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara yaitu belum berjalannya sistem manajemen aset sesuai standar. Beberapa alat tidak berfungsi maksimal sehingga tingkat optimalisasi pemanfaatan aset tersebut tidak maksimal. Variabel independen yang digunakan antara lain inventarisasi aset, legal audit, dan penilaian aset. Sedangkan variabel dependennya adalah pemanfaatan asset. Setelah dilakukan pengujian terbukti bahwa ketiga variabel independen tersebut  berpengaruh positif terhadap pemanfaatan aset baik secara simultan maupun secara parsial. Ketiga variabel independen tersebut jika dijalankan sesuai standar yang berlaku dapat menertibkan pengelolaan aset RSJD Sumatera Utara, sehingga aset RS dapat dipergunakan sesuai kebutuhan bahkan bisa disewakan kepada pihak ketiga, sehingga pemanfaatan aset dapat tercapai.

Pengelolaan aset yang baik berpengaruh terhadap pemanfaatan aset. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Widayanti (2010) bahwa manajemen aset dalam pemanfaatan aset dipengaruhi oleh inventarisasi, identifikasi, legal audit, dan penilaian aset yang belum baik dan benar.Implikasinya adalah Pemerintah Kabupaten Sragen kesulitan dalam upaya optimalisasi pemanfaatan aset yang dimiliki, sehingga tidak diperolehnya nilai pemanfaatan yang terkandung dalam aset tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa manajemen dalam pemanfaatan aset tetap secara signifikan dipengaruhi oleh inventarisasi aset, identifikasi, dan penilaian aset. Sedangkan variabel legal audit menunjukan hasil yang tidak signifikan.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengkaji tentang “Manajemen dan Pemanfaatan Aset Medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu”.

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena dan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana inventarisasi aset medis pada dr. RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu?
  2. Bagaimana legal audit aset medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu?
  3. Bagaiamana penilaian aset medis pada dr. RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu?
  4. Bagaimana pengawasan dan pengendalian aset medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu?
  5. Bagaimana pemanfaatan aset medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu?
    • Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui bagaimana gambaran Inventarisasi Aset Medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu.
  2. Untuk mengetahui bagaimana gambaran Legal Audit Aset Medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu.
  3. Untuk mengetahui bagaimana gambaran Penilaian Aset Medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu.
  4. Untuk mengetahui bagaimana gambaran Pengawasan dan Pengendalian Aset Medis pada dr. RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu.
  5. Untuk mengetahui bagaimana gambaran pemanfaatan Aset Medis pada dr. RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu.

  • Kegunaan Penelitian

Sejalan dengan tujuan penelitian di atas, maka kegunaan dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Bagi manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu untuk memperbaiki dan meningkatkan strategi pengelolaan aset medis secara optimal dengan pengadaan Aplikasi Web System Hospital.
  2. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif yang membangun dan peningkatan pelayanan kesehatan terutama dalam hal pengelolaan aset medis agar pemanfaatannya dapat optimal.
  3. Bagi pengembangan pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu manajemen dan dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  • Aset Medis

Direktorat Bina Pelayanan Penunjang dan Sarana Kesehatan (2015) menjelaskan bahwa aset medis atau peralatan medis adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan terapi, rehabilitasi dan penelitian medik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

  • Pemanfaatan Aset Medis

Pemanfaatan adalah salah satu bentuk dari optimalisasi yang dilakukan. Pemanfaatan yang dilakukan harus sesuai dengan peruntukkannya sama halnya dengan penggunaan. Pemanfaatan yang dilakukan tidak boleh keluar dari peruntukkan yang telah ditetapkan (harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007, pemanfaatan bisa dilakukan dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan dan bangun serah guna atau bangun guna serah dengan tidak mengubah status kepemilikan.

Pemanfaatan aset merupakan salah satu bentuk akuntabilitas pemerintah dalam pelaksanaan good governance untuk menjaga kontrol atas belanja publik dan mempengaruhi kesejahteraan mereka sendiri, masyarakat memerlukan prosedur tata kelola yang baik untuk diterapkan dalam kegiatan penggunaan aset publik. Pemanfaatan aset mengukur aset yang mana yang mampu menghasilkan dan apa yang mereka benar-benar menghasilkan. Sebaliknya, aset yang tidak bermanfaat merupakan kerugian dari pendapatan dalam kaitannya dengan investasi yang mungkin disebabkan oleh tidak efisiennya penggunaan aset (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007).

  • Manajemen Aset

            Perlakuan aset medis di rumah sakit selain untuk keperluan penyusunan laporan keuangan, juga diperlukan manajemn aset yang ditunjukan untuk menjamin pengembangan kapasitas yang berkelanjutan dari rumah sakit sehingga dapat meningkatkan pelayanan serta pendapatan, yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan guna mencapai pemenuhan persyaratan optimal bagi pelayanan tugas dan fungsi rumah sakit kepada masyarakat.

            Menurut Siregar (2012) bahwa manajemen aset memiliki tahapan dalam mencapai optimalisasi aset. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Inventarisasi Aset

Inventaris aset terdiri atas dua aspek, yaitu inventarisasi fisik, dan yuridis/legal.Aspek fisik terdiri atas bentuk, luas, lokasi, volume/jumlah, jenis, dan lain-lain.Sedangkan aspek yuridis adalah penguasaan, masalah legal yang dimiliki, batas penguasaan, dan lain-lain. Proses kerja yang dilakukan adalah pendataan, kodefikasi, pengelompokan/ administrasi, sesuai dengan aturan manajement aset (Siregar, 2012).

  1. Legal Audit

Legal audit merupakan satu lingkup kerja manajement aset yang berupa invetarisasi status penguasaan aset, sistem dan prosedur penguasaan atau pengalihan aset, identifikasi dan mencari solusi atas oermasalahan egal, dan strategi untuk memecahkan berbagai permasalahan legal yang terkait dengan penguasaan ataupun pengalihan aset. Permasalahan legal yang sering ditemui antara lain status hak penguasaan yang lemah (Siregar, 2012).

  1. Penilaian aset

Penilaian aset merupakan satu proses untuk melakukan penilaian atas aset yang dikuasai. Biasanya ini dikerjakan oleh konsultan penilaian yang independen. Hasil dari nilai tersebut akan dapat dimanfaatkan untuk mengetahui nilai kekayaan maupun informasi untuk penetapan harga bagi aset yang ingin dijual (Siregar, 2012).

  1. Pengawasan dan Pengendalian

Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan dan pengalihan aset merupakan satu permasalahan yang sering menjadi hujatan kepada Pemda saat ini. Kegiatan yang dilakukan oleh tim pengawas dalam pengawasan dan pengendalian yang sudah dibentuk, meliputi: pengawasan aset, pengendalian aset, dan pengembangan SIMA (Siregar, 2012).

  • Kerangka A

BAB III

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian

                        Data yang dikumpulkan dengan pendekatan ini menggunakan metode survei (Sekaran, 2011). Penelitian survey adalah suatu teknik pengumpulan informasi atau data yang dilakukan dengan cara menyusun beberapa daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada responden sebagai sampel dari sebuah populasi (Sugiyono, 2014). Jadi, penelitian sekarang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk menganalisis pengaruh manajemen aset terhadap pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M Yunus Provinsi Bengkulu

  • Definisi Operasional

Menurut Sugiyono (2014:137), definisi operasional adalah penentuan construct sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan untuk meneliti dan mengoperasikan construct, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang lebih baik. Berikut definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Manajemen Aset merupakan pelaksanaan pengelolaan aset berdasarkan prinsip dasar-dasar manajemen aset terhadap aset dengan mengikuti landasan kebijakan yang diatur berdasarkan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keppres, Kepmen dan Surat Keputusan atau regulasi lainnya yang berhubungan dengan pengelolaan aset daerah yang sah. Manajemen aset dalam penelitian ini meliputi.
  1. Inventarisasi Aset di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu merupakan kegiatan mengelompokkan aset-aset medis, seperti alat instrumen (tensi meter, stetoscope), alat diagnostik(peralatan laboratorium), alat canggih (rontgen dan CT-Scan), dan memberikan kode serta melakukan perhitungan, pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan data serta pelaporan barang dalam pemakaian. inventarisasi aset di ukur dengan pendataan (Siregar 2012), kodefikasi (Permendagri Nomor 17 Thn 2007), pengelompokan (Kemenkeu RI No. 01/KM.12/2001), dan pembukuan (Permendagri nomor 17 Thn 2007).
  2. Legal Audit Aset di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu merupakan kegiatan inventarisasi status penguasaan aset, sistem dan prosedur penguasaan atau pengalihan aset, identifikasi dan mencari solusi atas permasalahan legal, dan strategi untuk memecahkan berbagai permasalahan legal atau hukum yang terkait dengan penguasaan ataupun pengalihan aset secara jelas. Legal audit diukur dengan: Pengamanan administrasi, pengamanan fisik (Suwanda, 2014), dan tindakan hukum (Siregar, 2006 dan Permendagri nomor 17 Thn 2007)
  3. Penilaian Aset di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu merupakan suatu proses kerja untuk melakukan penilaian atas aset yang dimiliki oleh pemerintah provinsi Bengkulu yang dilakukan oleh konsultan (pengacara) penilaian independen (pengacara) yang telah tersertifikasi dengan mencantumkan nilai aset dalam rupiah. Hasil penilaian dimanfaatkan untuk mengetahui nilai kekayaan aset tersebut. Penilaian aset diukur dengan taksiran nilai (Suwanda, 2014)
  4. Pengawasan dan Pengendalian Aset di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu merupakan proses kerja yang dilakukan oleh pengelola dan pengurus aset RSUD dr. M. Yunus Bengkulu dengan menggunakan pengembangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMARS), karena dengan pengawasan dan pengendalian Sistem Informasi Manajemen RS akan meminimalkan kesalahan dalam pengelolaan aset medis rumah sakit yang dilakukan di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu. Pengawasan dan pengendalian aset diukur dengan  pengawasan aset, pengendalian aset, dan pengembangan SIMA (Siregar, 2012., Permendagri Nomor 17 Thn. 2007)
    1. Pemanfaatan aset merupakan salah satu bentuk akuntabilitas pemerintah dalam pelaksanaan good governance untuk menjaga kontrol atas belanja publik dan mempengaruhi kesejahteraan mereka sendiri, masyarakat memerlukan prosedur tata kelola yang baik untuk diterapkan dalam kegiatan penggunaan aset publik. Pemanfaatan aset mengukur aset yang mana yang mampu menghasilkan dan apa yang mereka benar-benar menghasilkan. Sebaliknya, aset yang tidak bermanfaat merupakan kerugian dari pendapatan dalam kaitannya dengan investasi yang mungkin disebabkan oleh tidak efisiennya penggunaan aset (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007). Pemanfaatan aset merupakan  frekuensi dan intensitas penggunaan aset medis, meliputi: (Siregar (2006), Permendagri No. 17 Tahun 2007, Kemenkeu Republik Indonesia Nomor 01/KM.12/2001, & Suwanda (2014)
  5. Asset medis dapat digunakan setiap waktu saat diperlukan
  6. Kodefikasi aset medis mempermudah penggunaan alat saat diperlukan
  7. Aset medis yang terkelompok mempermudah dalam pemanfaatannya
  8. Kejelasan status aset medis mempermudah pemanfaatan alat
  9. Nilai aset medis yang jelas mendukung pemanfaatannya
  10. Pengendalian aset medis memudahkan pemanfaatannya

  • Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pihak yang terlibat langsung dalam mengelola, menyelenggarakan, dan melakukan pencatatan program kegiatan pelayanan terhadap peralatan medis sesuai dengan juknis teknisi elektromedik dan ruang lingkup tanggung jawab terhadap aset medis di setiap ruangan di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu. Ada 14 (empat belas) instalasi dengan 42 ruangan yang berhubungan dengan aset medis. Setiap ruangan terdiri dari kombinasi jabatan koordinator alat medis (KAM), penanggung jawab alat medis (PJAM), dan/atau pembantu penanggung jawab alat medis (PPJAM). Jumlah seluruh pegawai sebanyak 94 orang.

Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode sensus. Metode sensus adalah metode penentuan sampel dengan menetapkan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian. Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah pegawai di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 94 responden yang diambil dari data kepegawaian.

  • Metode Analisis
    • Analisis Deskriptif

Sebelum menjawab pertanyaan dan menguji hipotesis pada penelitian sekarang, maka dilakukan analisis deskriptif jenis perhitungan rata-rata untuk setiap item pernyataan pada kuesioner. Metode analisis deskriptif, yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2014:15).

           Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif ini digunakan untuk dapat mengungkapkan apa saja faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan aset tetap dilihat dari aspek perencanaan dan penganggaran, pengadaan, serta pengamanan dan pemeliharaan. Data diperoleh dilapangan, dianalisis agar data yang ada lebih mudah ditafsirkan Analisis Kualitatif dalam penelitian ini bersifat siklus yang dilakukan sewaktu peneliti berada di lapangan maupun setelah meninggalkan lapangan penelitian. Untuk penyajian data agar lebih bermakna dan mudah dipahami, ada tiga alur kegiatan proses analisis data yang dilakukan peneliti secara bersamaam yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi (Suwandi, 2008).

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 Hasil Penelitian

 Tanggapan Responden Terhadap Pemanfaatan Aset Medis

Variabel pemanfaatan aset medis diajukan sebanyak enam pernyataan dengan lima alternatif pilihan jawaban. Tanggapan responden terhadap variabel pemanfaatan aset medis dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Tanggapan Responden Terhadap Variabel Pemanfaatan Aset Medis

No. Pernyataan Pemanfaatan Aset Medis STS TS CS S SS Total Rata- rata Kriteria
1. Frekuensi penggunaan alat instrumen medis 0 6 11 42 35 388 4,12 Bermanfaat
2. Penggunaan alat bantu diagnostik dan terapi non elektro medis sangat tinggi 0 9 5 60 20 373 3,96 Bermanfaat
3. Penggunaan alat canggih sering digunakan 6 3 16 34 35 371 3,94 Bermanfaat
4. Intensitas penggunaan alat instrumen medis 0 11 13 44 26 367 3,90 Bermanfaat
5. Intensitas penggunaan alat bantu diagnostik dan terapi non elektro medis 6 3 10 51 24 366 3,89 Bermanfaat
6. Intensitas penggunaan alat canggih 0 12 16 51 15 351 3,73 Bermanfaat
Rata-rata 3,92 Bermanfaat

Sumber: Hasil Penelitian, 2017.

Hasil Ukur:

1           –           1,80                : Sangat Tidak Bermanfaat

1,81      –           2,60                : Tidak Bermanfaat

2,61      –           3,40                : Cukup Bermanfaat

3,41      –           4,20                : Bermanfaat

4,21      –           5,0  : Sangat Bermanfaat

Tabel 4.2 menjelaskan bahwa rata-rata nilai variabel pemanfaatan aset medis tanggapan responden adalah sebesar 3,92 masuk dalam kategori bermanfaat. Berdasarkan katagori bahwa dari 6 (enam) indikator yang ada sudah dimanfaatkan dengan baik. Artinya, pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu sudah dimanfaatkan oleh pegawai dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kategori bermanfaat (  = 4, 12) dengan nilai rata-rata tertinggi pada pernyataan frekuensi penggunaan alat instrumen medis dikarenakan banyak instrumen medis yang digunakan dalam memberikan pelayanan pada pasien.

  • Tanggapan Responden Terhadap Inventarisasi Aset medis

Variabel inventarisasi aset medis terdiri dari empat dimensi. Tanggapan responden terhadap variabel inventarisasi aset medis dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3

Tanggapan Responden Terhadap Variabel Inventarisasi Aset medis

No Dimensi Rata-Rata Kriteria
1 Pendataan 3,52 Baik
2 Kodefikasi 2,95 Cukup baik
3 Pengelompokan 3,18 Cukup baik
4 Pembukuan 2,91 Cukup baik
Total Rata-Rata 3,17 Cukup baik

Sumber: Hasil Penelitian, 2017.

Hasil Ukur:

1          –           1,80               : Sangat Tidak Baik

1,81     –           2,60               : Tidak Baik

2,61     –           3,40               : Cukup Baik

3,41     –           4,20               : Baik

4,21     –           5,0                 : Sangat Baik

Tabel 4.3 menjelaskan bahwa nilai rata-rata keseluruhan tanggapan responden terhadap variabel inventarisasi aset medis 3,17. Nilai rata-rata ini berada pada kategori cukup baik. Pada pendataan, pengkodean dan pengelompokan aset medis telah dilakukan pegawai pada Bagian Ruang Gudang RSUD dr. M Yunus Bengkulu.

  • Tanggapan Responden Terhadap Legal Audit

Variabel legal audit aset medis terdiri dari tiga dimensi. Tanggapan responden terhadap variabel legal audit dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8

Tanggapan Responden Terhadap Variabel Legal Audit

No Dimensi Rata-Rata Kriteria
1 Pengamanan Administrasi 3,02 Cukup baik
2 Pengamanan Fisik 3,10 Cukup baik
3 Tindakan Hukum 3,19 Cukup Baik
Total Rata-Rata 3,10 Cukup Baik

Sumber: Hasil Penelitian, 2017.

Hasil Ukur:

1           –           1,80                : Sangat Tidak Baik

1,81      –           2,60                : Tidak Baik

2,61      –           3,40                : Cukup Baik

3,41      –           4,20                : Baik

4,21      –           5,0  : Sangat Baik

 

Tabel 4.8 menjelaskan bahwa nilai rata-rata keseluruhan tanggapan responden terhadap variabel legal audit 3,10. Nilai rata-rata ini berada pada kategori cukup baik. Pada pengaman administrasi, pengamanan fisik dan tindakan hukum dan pembukuan. Legal audit pada alat medis untuk menjamin semua pihak untuk keamanan aset medis (Sugiama, 2013).

  • Tanggapan Responden Terhadap Penilian Aset

Variabel penilaian aset diajukan sebanyak tiga pernyataan dengan lima alternatif pilihan jawaban. Tanggapan responden terhadap variabel penilaian aset dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12

Tanggapan Responden Terhadap Penilaian Aset

 

No. Pernyataan Penilaian Aset STS TS CS S SS Total Rata-rata Kriteria
1. Aset medis yang dimanfaatkan berpedoman pada SAP 3 11 8 58 14 351 3,73 Baik
2. Aset medis yang dimanfaatkan dilakukan taksiran nilai oleh tim pengelola barang 4 10 14 53 13 343 3,64 Baik
3. Aset medis yang dimanfaatkan digunakan pendekatan salah satu/kombinasi dari perbandingan data pasar, kalkulasi biaya dan kapitalisasi pendapatan 1 20 14 50 9 328 3,48 Baik
Rata-Rata 3,62 Baik

Sumber: Hasil Penelitian, 2017.

Hasil Ukur:

1          –           1,80               : Sangat Tidak Baik

1,81     –           2,60               : Tidak Baik

2,61     –           3,40               : Cukup Baik

3,41     –           4,20               : Baik

4,21     –           5,0                 : Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 4.12 menjelaskan bahwa rata-rata nilai variabel penilaian aset medis tanggapan responden adalah sebesar 3,62 dalam kategori Baik. Artinya, penilaian aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu sudah dilaksanakan secara maksimal.

  • Tanggapan Responden Terhadap Pengawasan dan Pengendalian Aset Medis

 

Variabel pengawasan dan pengendalian aset medis terdiri dari tiga dimensi. Tanggapan responden terhadap pengawasan dan pengendalian dapat dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13

Tanggapan Responden Terhadap Variabel Pengawasan Dan Pengendalian

 

No Dimensi Rata-Rata Kriteria
1 Pengawasan Aset 2,93 Cukup baik
2 Pengendalian Aset 3,05 Cukup baik
3 Pengembangan SIMA 3,20 Cukup baik
Total Rata-Rata 3,05 Cukup baik

Sumber: Hasil Penelitian, 2017.

Hasil Ukur:

1          –           1,80               : Sangat Tidak Baik

1,81     –           2,60               : Tidak Baik

2,61     –           3,40               : Cukup Baik

3,41     –           4,20               : Baik

4,21     –           5,0                 : Sangat Baik

Tabel 4.13 menjelaskan bahwa nilai rata-rata keseluruhan tanggapan responden terhadap variabel pengawasan dan pengendalian aset medis 3,05. Nilai rata-rata ini berada pada kategori cukup baik. Pengawasan merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan, apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan. Lingkup pengawasan aset menekankan pada prinsip kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan, dan pengendalian merupakan usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Pengendalian aset diperlukan untuk memastikan bahwa pengadaan dan pemanfaatan aset berjalan sesuai dengan perencanaan kebutuhannya.

  • Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta permasalahan yang peneliti temukan tentang manajemen dan pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, maka implikasi strategis yang dapat dilakukan untuk perbaikan pengelolaan aset jangka panjang, adalah:

  1. Sesuai dengan temuan penelitian, maka implikasi strategis yang perlu dilakukan pada bagian pengelola aset medis hendaknya dapat memberikan alat medis kepada setiap ruangan yang berkualitas, sehingg alat medis tersebut tidak cepat rusak saat dimanfaatkan oleh petugas di ruangan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
  2. Sesuai dengan temuan penelitian, maka implikasi strategis yang perlu dilakukan, khususnya bagian pengelola aset medis dapat memperbaiki pendataan aset yang kurang efektif melalui kerjasama antara penaggungjawab aset medis dan sarana dapat bekerjasama menginventarisasi at medis yang tersebar diruangan, sehingga cepat mengetahui apabila ada kerusakan aset medis.
  3. Sesuai dengan temuan penelitian, maka implikasi strategis yang perlu dilakukan, khususnya bagian pengelola aset medis dapat memperbaki legal audit dengan melakukan pengamanan fisik alat medis, sehingga ketahui sistem sistem dan prosedur pengadaan aset telah sesuai dengan aset atau tidak. Selain perlukan juga dilakukan tindakan hukum atau kejelasan surat menyurat aset medis yang ada, jangan hanya pada alat canggih saja.
  4. Sesuai dengan temuan penelitian, maka implikasi strategis yang perlu dilakukan, khususnya bagian pengelola aset dalam penilaian aset harus tetap memperhatikan penyusutan nilai sesuai dengan Standar Akuntasi Pemerintah dan Peraturan Gubernur, sehingga diketahui berapa keuntungan yang diperoleh dari aset tersebut dalam setiap tahun.
  5. Sesuai dengan temuan penelitian, maka implikasi strategis yang perlu dilakukan, khususnya bagian pengelola aset dalam pengawasan dan pengendalian perlu dilakukan evaluasi terpisah pada setiap aset supaya hasil pengawasan dan pengendalian aset medis tersebut dapat lebih akurat. Selain itu dapat membuat Sistem Informasi Manajemen Aset agar aset yang di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu dapat lebih mudah terpantau dan diawasi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  • Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat simpulkan, sebagai berikut:

  1. Inventarisasi aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu untuk pendataan dan pemeriksaan digunakan untuk menghitung standar dari rumah sakit yang dilakukan dengan cara kalibrasi per 3 bulan dan 6 bulan agar mengetahui kondisi alat apakah mengalami kerusakan. Sementara itu aset medis yang ada RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tidak status legal dikarenakan tidak ada dokumen tertulis tentang kepemilikan barang. Dalam hal pengkodean sudah ditentukan dari Kemandagri dan untuk pembukuan barang masuk dicatat dalam kartu Kartu Inventarisasi Barang (KIB) dan kemudian di distribusikan di dalam ruangan untuk dimasukan kedalam kartu Kartu Inventarisasi Rauangan (KIR).
  2. Legal audit sebesar 3,06 dalam katagori cukup baik. Artinya legal audit di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu belum dilaksanakan secara maksimal. Oleh karena itu, peningkatan pada legal audit akan berpengaruh terhadap peningkatan pemanfaatan aset medis pada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu. Dalam legal audit aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu pengamanan administrasi dilakukan dengan cara sensus setiap lima tahun sekali. Barang masuk diterima dan dimanfaatkan, dicata di dalam buku inventarisasi barang per unit dengan nomor registrasi. Dalam hal pengamanan fisik tidak pernah dilakukan pemeriksaan  fisik pengamanan aset medis. Identifikasi aset telah dikelompokan sesuai jenis, fungsi dan manfaat sedang pernah selama mengalami permasalahan legalitas. Untuk tindakan hukum dalam legal audit hanya ada pada alat canggih seperti city scan, rontgen dan alat-alat yang mahal kecuali alat Hemodialisa dikarenakan alat tersebu dikontrak.
  3. Penilaian aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu taksiran nilai telah sesuai dengan berdasarkan Peraturan Gubernur bahwa tedapat penyusutan nilai 20% karena nilai barang setiap tahun mengalami penyusutan yang berpedoman pada SAP, maka alat medis harus menghitung penyusutan oleh yang bertugas di Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu. Kemudian perbandingan data pasar, kalkulasi biaya, dan kapitalisasi pendapat telah ditentukan pada alat medis, seperti usia teknis alat, biaya operasional per item dalam tindakan medis, biaya tenaga kerja, sehingga didapatkan nilai pendapatan keuntungan.
  4. Pengawasan dan pengendalian aset medis di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu setiap ruangan bertanggungjawab dalam pengawasan aset yaitu dalam keselamatan, keamanan, dan operasional. Kemudian pemantauan dilakukan setiap 3 bulan dan 6 bulan sekali dengan melakukan kalibrasi. Sementara evaluasi terpisah tidak pernah dilakukan sama perlakuannya dengan aset yang lain. Kemudian rekomendasi hasil pemeriksaan dilakukan apabila ditemukan barang yang rusak untuk tindakan perbaikan secara Dalam hal pengendalian aset dimanfaatkan merupakan tanggungjawab BLUD atau direktur dan dilimpahkan kepada pengurus barang untuk mengatahui pengecekan, pemeliharaan, usulan perbaikan, atau pergantian barang yang mengalami kerusakan dan pengendalian aset medis di dilakukan perawatan fisik secara berkala untuk mencegah barang cepat mengalami kerusakan. Pada pengembangan SIMA di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu dilakukan karena belum memiliki sistemnya sehingga pengelola tidak diberi pelatihan untuk pengeloaan sistem tersebut.
  5. Pemanfaatan aset medis di RSUD dr. M Yunus Bengluku telah digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan dari setiap ruangan rawat inap dan rawat jalan dan kemudian pemanfaatan aset medis diberikan tanggungjawab kepada ruangan masing-masing, dan alat tersebut dicatat dalam KIB dan dan didistribusikan kepada KIR ruangan yang memanfaatkan alat tersebut. di di dukung dengan tanggapan responden tentang pemanfaatan aset sudah baik, ini terbukti dari jawaban responden yang berasumsi bahwa frekuensi penggunaan alat instrumen medis sudah dimanfaatkan secara baik oleh tenaga kerja, seringnya dilakukan penggunaan alat bantu diagnostik dan terapi non elektro medis sangat tinggi, seringnya penggunaan alat canggih oleh tenaga kerja, intensitas penggunaan alat instrumen medis sudah baik dan intensitas penggunaan alat bantu diagnostik dan terapi non elektro medis serta intensitas penggunaan alat canggih tinggi digunakan oleh tenaga kerja.
  • Saran

Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat lebih meningkatkan lagi kegiatan dalam inventarisasi aset, legal audit aset, penilaian aset, serta pengawasan dan pengendalian aset, sehingga pemanfaatan aset yang ada benar benar maksimal, antara lain:

  1. Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat meningkatkan pemanfaatan aset perlu ditingkatkan khususnya penggunaan aset medis yang kaulitas bagus, sehingga dalam pelayanan kepada pasien dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
  2. Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat memperbaiki inventarisasi aset medis, terutama pada pendataan aset yang kurang efektif, oleh karena itu penaggungjawab aset medis dan sarana dapat bekerjasama dalam pendataan aset agar dapat lengkap dan terpelihara dengan baik. Oleh karena itu bagian sarana dapat berperan aktif untuk memantau alat medis yang tersebar diruangan, jangan sampai menunggu telpon kalau ada kerusakan.
  3. Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat memperbaiki legal audit aset medis, yang perlu dilakukan adalah pada pengamanan fisik alat medis, sehingga ketahui sistem sistem dan prosedur pengadaan aset telah sesuai dengan aset atau tidak. Selain perlukan juga dilakukan tindakan hukum pada medis lainnya, jangan hanya pada alat canggih saja.
  4. Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat memperbaiki penilaian aset medis dan dapat memperhatikan penyusutan nilai sesuai dengan Standar Akuntasi Pemerintah dan Peraturan Gubernur, sehingga diketahuai  berapa keuntungan yang diperoleh dari aset tersebut dalam setiap tahun.
  5. Kepada RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu hendaknya dapat melakukan pengawasan dan pengendalian secara evaluasi terpisah pada setiap aset supaya hasil Pengawasan dan pengendalian aset medis tersebut dapat lebih akurat. Selain itu dibuat Sistem Informasi Manajemen Aset agar aset yang di RSUD dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu dapat lebih mudah terpantau dan diawasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Brown et. al (2012). Chemisttry Contexts. Edisi 11. Australia: Pearson Education.

Depkes RI (2009). Standar Pelayanan Rumah Sakit, Edisi Ke 2. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan. (2015). Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan.

Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19 (edisi kelima). Semarang: Universitas Diponegoro.

Hambali. (2010). Inventarisasi Barang Milik Negara. Bandung: Politeknik Negeri Bandung.

Hariyono, T. (2007). Modul Diklat Teknis Manajemen Aset Daerah. Jakarta.

Hastings, N.A.J. (2010). Physical Asset Management. Springer, ISBN 978-1-84882-751-6

Hidayati, S.N.R. (2016). Pengaruh Manajemen Aset Terhadap Optimalisasi Pemanfaatan Aset RSUD Pandan Arang Boyolali. Tesis. Magister Manajemen. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Homer, Y, & Wahyu,  W. (2012). Inventarisasi Dan Legalisasi Aset Tetap Tanah Dan Bangunan Milik Pemerintah Daerah Provinsi Papua Di Provinsi Jayapura Tahun 2012. Diss. Universitas Gadjah Mada, 2014. Hlm 2

Ikatan Akuntan Indonesia. (2002).  Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Jogiyanto, H.M. (2009). Analisis dan Desain. Yogyakarta: Andi OFFSET.

Katzung, B.G. (2009). Farmakologi Dasar dan Klinik. Buku 1. Jakarta: Salemba Medika.

Kurniawan, W. (2016). Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Sistem Informasi Keuangan Daerah terhadap Kualitas Pengelolaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah  Daerah Provinsi Bengkulu. Tesis Program Magister Manajemen Universitas Bengkulu. Tidak Dipublikasikan

Mardiasmo (2010). Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Menteri Kesehatan (2010). Rencana Strategis Kementerian Kesehatan. Tahun 2010-2014. Jakarta.

Mulyadi. (2002). Auditing, Buku Dua. Edisi Ke Enam. Jakarta: Salemba Empat

Nasution, E., Nasution, H., & Absah, Y. (2015). Pengaruh Manajemen Aset Terhadap Optimalisasi Aset Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Ekonomi Vo. 18 No. 1, Januari 2015.

Nazir. (2005).  Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Neuman, W.L. (2003). Social Research Methods, Qualitative and Quantitative Approaches. Fifth Edition. Boston: Pearson Education.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 1191 Tahun 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, Dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara

Peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 tentang pengelolaan barang milik negara/daerah dan Permendagri nomor 17 Tahun 2007 tentang pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah

Permatasari, A. (2015). Aset Manajemen Rumah Sakit Berbasis Web System. Jurnal Conference in Business, Accounting, and Management Vol. 2 No. 1 Mei 2015.

Permendagri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pengelolaan Barang Milik Daerah

Rachmawati & Angksawati (2004) Studi Utilisasi Peralatan Kedokteran Canggih di Rumah Sakit Umum Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 31, No. 2.

Sekaran, U. (2012). Research Methods for Business (Metode Penellitian untuk Bisnis). Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Siregar, D.D. (2012). Manajemen Aset, Strategi penataan Konsep Pembangunan Berkelanjutan secara nasional dalam konteks Kepala Daerah sebagai CEO’s pada Era Globalisasi dan Otonomi Daerah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Sholeh, C & Rochmansjah, H. (2010). Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Sebuah Pendekatan Struktural Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik. Bandung: Fokusmedia.

Sugiama, A.G. (2013). Manajemen Aset Pariwisata: Pelayanan Berkualitas Agar Wisatawan Puas dan Loyal. Bandung: Guardaya Intimarta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Penerbit Alfabeta.

              . (2015). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Suwanda, D. (2014). Optimalisasi Pengelolaan Aset Pemda. Edisi I, Jakarta Pusat: PPM.

Tasdik, E. (2016). Pengeloaan Perangkat Lunak Dalam Pengelolaan Aset. Jurnal Ekonomi, Vol2, No. 4.

UndangUndang RI No44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Widayanti, E. (2010) Pengaruh Manajemen Aset Terhadap Optimalisasi Pemanfaatan Aset Tetap Pemerintah Daerah. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah, Vol. 1, No. 1.

 Yusuf, M. (2013). Delapan Langkah Pengelolaan Aset Daerah Menuju Pengelolaan Keuangan Daerah Terbaik.  Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.